PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 110


__ADS_3

Aku membeli tanaman herbal yang diminta Paula bahkan tanpa melihatnya. Dalam perjalanan pulang, sepertinya di setiap sudut jalan aku mendapati semua orang sedang membicarakan raja. Mereka berbisik-bisik bahwa para dokter tidak bisa melakukan apa pun, begitu pula dengan para penyihir. Mereka bergumam bahwa sang putri sangat muramdan cantik, bahkan di tengah duka, sangat dewasa melebihi usia sesungguhnya. Dan seiring langkah, aku merasa yakin.


Melani ada di balik semua ini. Dia mengirim penyakitnya dengan sihir, membunuh saudara perempuannya bertahun-tahun yang lalu, agar perempuan itu tidak berubah pikiran dan membocorkan rahasia mereka. Melani menyebabkan Omar sakit hingga terpaksa keluar kota, ke tempat yang tidak memungkinkan pria itu untuk menyadari bahwa mantra yang mereka ciptakan masih aktif pada diri Riana. Mungkin sekarang Omar juga terbaring sekarat. Dan sekarang Melani akan membunuh raja, agar Riana bisa menjadi Ratu, membuatnya lebih terikat pada tahta.


Aku kurang cepat bertindak.

__ADS_1


Devan, tiba-tiba terpikir olehku, kuharap kau ada di sini. Di sini, berjalan di sampingku, untuk memberitahu ku bahwa semua itu belum terlambat, bahwa dia akan pergi mencari Diana dan memperbaiki semuanya. Untuk melingkarkan lengannya di pundakku agar aku bisa menyurukkan wajahku pada kemejanya dan gemetar karena mengkhawatirkan pria yang selama ini kupikir ayahku. Untuk memberiku senyuman riang dan berkata bahwa, bersama-sama, kami bisa menemukan jalan.


Rasa mendamba di dalam diriku sangat kuat hingga aku mendongak, nyaris percaya Devan berdiri di hadapanku. Namun dia tak ada di sana. Aku hanya bisa merundukkan bahu dan teris berjalan di tengah kerumunan yang terus berbisik-bisik, merasa kecil dan sendirian.


Jadi, sementara seisi kota seakan menahan napas, menunggu apakah sang raja akan tetap hidup atau meninggal, aku bersiap-siap menggulingkan gadis yang dianggap sebagai putri. Aku melakukannya dengan sangat hati-hati, mengendap-endap, selalu melihat ke balik pundak untuk mewaspadai Melani atau mata-matanya. Itu memperlambat kemajuanku, sehingga yang seharusnya hanya memakan waktu satu hari lebih menjadi empat hari.

__ADS_1


Dalam perjalanan ke perpustakaan kampus bersama Paula, aku menemukan peta Thorvaldor utara, yang memperlihatkan Saremarch dengan sangat rinci, dan tidak merasa ragu saat menyelinapkan di bawah jubah dan membawanya pulang.


Aku menyembunyikan kertas yang kurobek dari buku genealogi di bawah papan lantai longgar di bawah tempat tidur di kamarku yang baru, bersama wadah tembaga berisi pengakuan sang peramal terakhir. Setelah mempertimbangkannya lagi, aku memasukkan peta Devan ke sana, hanya untuk berjaga-jaga. Aku melatih mantra yang bisa membuatku terlihat tua atau lebih muda, berambut merah atau pirang.


Namun, dengan resiko tinggi yang kuhadapi, aku bisa merasakan sihir yang terkurung di dalam, tertutup hingga nyaris sia-sia, dan aku hanya mengeluarkannya sedikit-sedikit.

__ADS_1


Akhirnya aku memutuskan bahwa aku sudah melakukan semua yang bisa kulakukan, selain menunggang kuda dan keluar dari gerbang V. Satu- satunya yang belum kulakukan adalah memberitahu Paula bahwa aku akan pergi.


Bersambung


__ADS_2