
“ Dia mengancam akan mengusirku ke Rithia kalau aku tidak datang tepat waktu hari ini. Tapi sebenarnya yang salah para sepupuku. Mereka terpana karena berada di kota—sampai tadi pagi tak sanggup memilih pakaian.”
Penjaga itu menatap kami di balik pundak Devan. Aku dan Bella sama-sama tersenyum kaku. Dia pasti menyadarinya, batinku. Dia pasti mengenaliku, atau menyadari betapa miripnya kami berdua. Dia pasti akan mengetahui ada yang tidak beres.
Namun penjaga itu hanya menyeringai pada Devan, berjanji tidak akan mengatakan apa pun pada Earl of Rithia. Aku bisa mendengar suara-suara dari dalam ruangan, dan gumaman ratusan orang saat Devan mendorong pintunya sampai terbuka, sedikit hingga kami bisa menyelinap masuk.
Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi di bagian depan ruangan. Meskipun kursi sudah disusun dalam barisan rapi di seluruh penjuru aula; orang-orang masih berdiri, menghalagi pandanganku, yang terlihat hanya tiang-tiang putih penyangga langit-langit. Aku bisa mendengar langkah kaki di balkon atas, dan menyadari di sana juga dipadati orang. Satu-satunya jalan terbentuk di tengah ruangan. Aku mendorong dan merangsak maju melewati kursi-kursi untuk menghampirinya, Bella dan Devan di belakangku. Berbagai gumaman bernada tersinggung terdengar saat kami melewati orang-orang, tapi aku mengabaikannya. Bisa dikatakan aku terjatuh ke jalan yang terbuka, terdorong maju lagi saat yang lain meenyalipku.
__ADS_1
Tidak ada yang menyadarinya. Semua mata tertuju ke depan ruangan tempat Riana berlutut di sebuah panggung pendek di depan singgasana. Rambutnya yang berwarna gelap tergerai dalam gelombang berkilau di punggungnya, dan dia mengenakan jubah merah yang panjang yang pinggirannya dihiasi bulu cerpelai putih, yang melebar di sekitar tubuhnya yang sedang berlutut. Seorang pendeta sang Dewa Tanpa Nama mengangkat tangan di atas kepala Riana, memberkatinya. Bahkan dari belakang pun Riana terlihat agung, elegan, semua sifat yang seharusnya diperlihatkan seorang putri—seorang ratu.
Ada satu momen, satu detik saat aku bisa saja ragu, saat aku bisa saja berbalik dan pergi. Bagaimanapun, Riana sudah terlatih nyaris sebaik aku dalam hal-hal yang harus diketahui seorang penguasa. Dan dia terlihat pantas untuk peran itu, jauh lebih pantas daripada aku atau Bella. Belum ada yang sungguh-sungguh melihat kami, kami bisa saja pergi tanpa ada yang memyadari kami pernah berada di sana.
Aku bahkan tidak berhenti dulu.
“ Hentikan!” aku berteriak lagi saat semua kepala berbalik menatapku. Tangan sang pendeta terdiam di atas kepala Riana. “ Dia bukan orang yang kalian pikir.”
__ADS_1
Aku sudah tiba di depan ruangan, hanya beberapa langkah dari tempat Riana sekarang berdiri dan berbalik menatapku. Matanya terbelalak, dan aku melihat lehernya bergerak menelan ludah sebelum melihat satu sosok maju dari kursi barisan pertama, tempat para anggota dewan lainnya duduk.
Melani maju ke hadapanku, memaksaku untuk berhenti.
Rambut Melani yang berwarna gelap, warnanya persis seperti rambut Riana, sekarang aku menyadarinya, tergulung diatas kepalanya dalam kepangan bak mahkota.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan cara; like, vote, dan komen ya guys. Terima kasih🙏😘🥰🌹
__ADS_1
Bersambung