PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 25


__ADS_3

Aku berhenti bicara saat berusaha mengingat-ingat apa yang sedang kami bicarakan.


“ Oh, ya. Bibi Vania.” Aku mulai berjalan lagi, menuju ujung kota, & Jose cepat-cepat menyamai langkahku.


“ Dia tidak menyukai ibuku. Kau tahu, ibuku meninggalkan ayahku, tepat setelah aku lahir. Itu membuatnya patah hati. & Bibi Vania bilang ayahku tidak pernah sama lagi. Dia pikir ayahku sangat sedih hingga membiarkan dirinya mati.” Aku menelan ludah.


“ Karena itulah dia menyerahkanku saat raja & ratu memintanya. Karena tidak mau diingatkan pada ibuku. Mereka mengubah memorinya agar beranggapan aku sudah mati, & itulah yang dikatakannya pada Bibi Vania.”


Dia baru tahu yang sebenarnya sesaat sebelum aku dikirim kesini.


“ Sering kali, kupikir dia berharap aku tak ada di sini. Aku memgingatkannya pada ibuku, pada perbuatan ibuku terhadap ayahku, & kurasa dia tidak bisa memaafkanku karenanya.”


Kami sudah melewati rumah pandai besi. Di hadapan kami hanya ada ladang pertanian yang kemudian mengarah ke hutan. Jose berhenti lagi, tapi kali ini aku tidak tersandung. Jose berbalik menghadapku, lalu berkata, “ Yah, kalau dia merasa seperti itu, Vania Muller lebih dingin dari dugaanku. Kurasa nyaris mustahil tidak terpesona olehmu.”

__ADS_1


Aku mendengus. “ Kau akan terkejut lagi.Aku tidak pernah populer, bahkan saat di….” Aku terdiam, lalu memaksakan diri menyelesaikannya.


“ Di istana. Semua orang berpikir aku aneh. Terlalu pendiam, terlalu serius. Disana aku hanya punya satu orang teman baik. Devan Dulchessy.” Itu dia muncul lagi. Tidak peduli kemanapun aku berpaling, seluruh pikiranku sepertinya selalu tertuju pada Devan lagi.


Jose menggembungkan dada dengan kocak, menggelengkan kepala hingga rambut hiatmnya yang berkilau melayang-layang di sekitar wajah.


“ Yah, aku tak tahu apa-apa soal lelaki yang bernama Devan , tapi aku bisa bilang aku akan berusaha menyamainya. Dengan begitu kau takkan merasa terlalu aneh berada di tempat ini.”


Kemudian wajahnya melembut, & Jose mengulurkan tangan untuk meraih tanganku. Lagi-lagi, kilatan-kilatan petir kecil menyengatku, tapi aku berjuang agar tidak memperlihatkannya.


“ Aku sangat menginginkannya.”


Di bawah lagit yang semakin gelap wajahnya terlihat sangat tampan hingga aku bisa merasakan hawa panas menyeruak di pipiku. Sekarang jantungku sudah berdebar kencang, tapi karena alasan yang sepenuhnya berbeda.

__ADS_1


“ Aku senang, Jose,” ujarku. “ Aku senang.”


Namun, tidak semua orang menyukai Jose sepertiku. Sepulangnya dari jalan-jalan malam itu, aku mendapati Bibi Vania sedang duduk di ruang utama, sebuah lampu menyala disampingnya & setumpuk pakaian yang perlu diperbaiki diletakkan di meja di hadapannya, tapi jarum di tangannya tidak bergerak. Bibi Vania mengawasiku menutup pintu, matanya cemerlang & terlihat seperti mata elang.


Sejenak kami saling berpandangan, lalu dengan hati-hati aku berkata, “ Kalau bibi tidak membutuhkan bantuanku, sepertinya aku tidur saja.”


Di luar sudah gelap, & kerlipan api di perapian menyebabkan bayangan menari-nari di sekeliling ruang. Mulut Bibi Vania bergerak, seakan-akan dia sedang mengisap sepotong buah asam, lalu berkata,


“ Jose Wiliam adalah masalah.”


Aku merasa ringan& santai, bahagia untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, tapi dalam sekejap aku terhempas ke tanah lagi.


“ Ibunya tidak pernah suka tinggal di sini. Dia berasal dari Vivaskari & merasa dirinya terlalu hebat untuk kota kecil seperti ini. Perempuan itu memberinya gagasan-gagasan aneh. & saat di kota, kerabat ibunya memberinya lebih banyak gagasan aneh. Bahwa dia lebih hebat dari orang lain, bahwa dia berhak mendapatkan hal-hal yang tidak didapat orang lain. Dia senang memaksakan kehendak. Selalu ingin menang sendiri.”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2