PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 99


__ADS_3

Perpustakaan berada di bagian utama istana, bukan sayap yang disediakan untuk bangsawan rendahan. Aku mengunjunginya lagi sejak hari saat identitas sejatiku terungkap. Rasanya aneh melintasi lorong-lorong menuju perpustakaan, seakan-akan aku sedang berjalan-jalan di dalam sebuah mimpi atau istana hantu. Atau seakan-akan akulah hantunya, yang tidak nyata. Aku merasa ringan, tidak nyata, seakan-akan angin kencang bisa mengangkat tubuhku dan membawaku pergi.


Aku pasti terlihat seperti itu juga, karena di tengah perjalanan menuju perpustakaan, Devan mengulurkan tangan dan mengaitkan lengannya pada lenganku. Dulu kami sering berjalan seperti ini, tapi tidak pernah membuat jantungku melompat seperti yang kurasakan sekarang. Tetapi rasanya menenangkan juga, dan kami memasuki perpustakaan dalam posisi ini.


Kami melirik sekeliling dan, setelah memastikan tidak ada yang melihat kami, cepat-cepat menghampiri sebuah meja di sudut yang kutahu jarang dilewati orang, “ Kau harus meminta buku genealogi pada salah seorang pustakawan,” bisikku. “ Ini, aku sudah menulis daftar tahun yang kuinginkan.” Aku mendorong catatannya di atas meja ke arah Devan. Aku menuliskan sampai dua puluh tahun sebelumnya dari yang diperlukan, hanya untuk berjaga-jaga. “ Kalau mereka bertanya kenapa kau memintanya, bilang saja kau—entahlah—sedang meneliti garis keturunan seorang gadis yang kusukai atau semacamnya.”

__ADS_1


Wajah Devan memerah saat mendengar ucapanku, kelihatan siap menyanggah, tapi aku hanya mengayunkan tangan padanya. “ Pergi!”


Devan tidak membutuhkan waktu lama untuk kembali sambil membawa buku-buku tebal itu. Semuanya panjang dan lebar, masing-masing halamannya cukup besar untuk dipakai menggambar pohon silsilah keluarga oleh seorang penyalin. “ Ayo kita mulai dari Omar dulu,” ujarku. Bukunya bersampul hijau tua, tulisan di atasnya belum pudar karena usia. Keluarga Omar, bersama keluarga yang lain ada di dalam buku, merupakan bangsawan baru, mendapat gelar baru-baru ini. Meskipun begitu, aku membalik halamannya dengan hati-hati, sampai nama Otralus tertangkap oleh mataku.


“ Ini dia.” Aku menunjuk namanya, lalu berhenti. “ Tapi tak ada apa-apa….” Aku menggelengkan kepala. “ Lihat, katanya dia seorang anak tunggal, dan orangtuanya sudah meninggal. Dan satu-satunya saudara lelakinya sudah meninggal tanpa pewaris—semuanya terjadi sebelum Omar berusia tiga puluh tahun. Sudah bertahun-tahun dia tidak punya keluarga dekat, jauh sebelum sang peramal ditahbiskan. Tapi kupikir—maksudku, kupikir bisa jadi memang dialah pelakunya. Omar tidak mau memberitahu Paula mengenai mantra yang mereka gunakan padaku, dan dia tidak mau Paula mengajariku. Omar juga bilang ingin mendapat laporan perkembangan sihirku dari Paula, seakan-akan dia tahu aku sebuah ancaman. Dan dia meninggalkan kota tepat setelah peristiwa yang kulihat di taman.”

__ADS_1


“ Mungkin,” aku membenarkan, tanpa sungguh-sungguh meyakininya. Bagaimana jika kami hanya mengejar bayangan? Bagaimana jika ini bukan cara yang benar untuk menemukan siapa yang bekerja sama dengan sang peramal? Aku tidak punya ide lain, setidaknya ide yang aman.


Aku menyingkirkan buku hijau, perutku terasa melilit, dan meraih buku yang paling baru dari seri lainnya. Catatan kebangsawanan yang lebih tua membutuhkan lebih banyak tempat, dan Devan membawakan tiga buku bersampul merah untukku.


Daftar keluarga Enderson sendiri memakan empat halaman. Aku memeriksa nama-nama itu, dan akhirnya menemukan yang kucari. “Lihat,” ujarku sambil menunjuk, “ dia bukan bangsawan. Melani menikahi Theodrin Enderson, bergelar Baron of saremarch. Pria itu meninggal sebelum aku lahir.”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2