PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 63


__ADS_3

Pipi Diana sedikit merona. “ Devan. Kami diperkenalkan sesaat setelah kedatanganku. & kelihatannya semua orang menyukainya, & sepertinya dia menyukai semua orang. Semua kecuali aku.” Aku pasti terlihat kaget, karena Diana tersenyum hambar. “ Oh, aku ragu ada orang lain yang menyadarinya. Itu salah satu yang kusadari, orang-orang tinggal di istana jarang melihat hal di luar dirinya. Mereka sangat memedulikan, oh, posisi mereka, & siapa yang menyukai siapa, hal-hal seperti itu.”


Aku menyeringai padanya. “ Memang benar. Tapi sepertinya semua orang menyadari kecenderunganku untuk tersandung & terjatuh karena sesuatu setiap kali aku masuk ruangan.”


“ Tak ada yang menyebut-nyebut soal itu. Yang kudengar hanyalah kau sangat pendiam, sangat senang belajar.” Diana terdiam, & aku tahu dia menyembunyikan sesuatu. Mungkin karena aku sangat pendiam & senang belajar, seharusnya mereka sudah bisa menebak bahwa aku tidak mungkin seorang putri. Tapi aku tidak mengatakannya, & Diana melanjutkan ucapannya. “ Jadi, Devan. Dia selalu datang, kalau aku membuat undangan, tapi aku aku tahu dia tidak ingin menyukaiku. Aku tahu dia temanmu, & aku meyakinkan diri bahwa aku mengerti jika dia membenciku karena mengambil tempatmu.


Tapi sungguh, aku benar-benar menginginkannya agar menyukaiku hingga rasanya menyakitkan. Kupikir, karena dia menyukaimu, jadi, jika dia menyukaiku juga, mungkin aku lebih bisa merasa diriku memang seorang putri. Membutuhkan waktu lama, tapi akhirnya dia bersikap ramah padaku. Seakan-akan hal itu terjadi dalam semalam, seakan-akan dia membuat keputusan saat berbaring di tempat tidur.”

__ADS_1


Aku tidak mengatakan apa-apa, teringat pada ucapan Devan. Aku berharap ada seseorang yang bersikap baik padamu, jadi kupikir mungkin aku harus bersikap baik padanya.


“ Setelah itu, aku tahu… suasana hatinya buruk karena merindukanmu, & bukan karena tidak menyukaiku. Kemudian, suatu hari, Devan bilang akan mengunjungi seorang teman di luar kota. Dia menyebut nama lain, tapi kupikir dia bohong, & memang akan menemuimu.” Diana menelan ludah, & terdengar tanda-tanda gugup dalam suaranya saat berkata, “ Kunjungannya tidak berjalan lancar, ya kan?”


Aku ingat berteriak pada Devan, berpaling darinya, air mata mengalir pada wajahku. “Tidak” ujarku. “ Kunjungannya tidak berjalan lancar.”


Ada ekspresi sedih yang terpancar dari mata Diana, pada garis-garis mulutnya. “ Kami berteman sejak kecil,” ujarku. Kedengarannya seperti permintaan maaf, mungkin memang benar. Aku penasaran apakah Diana meninggalkan seorang teman seperti itu di panti asuhan biara, apakah dia tidak bisa menemuinya karena sekarang dia seorang putri. Aku penasaran apa lagi yang di tinggalkan Diana di sana.

__ADS_1


Diana menggelengkan kepala, sangat pelan hingga aku takkan menyadarinya, tapi itu menyebabkan butiran hujan di rambutnya bergetar. “ Aku memaksanya agar memberitahuku,” ujar Diana. “ Dia tidak mau melakukannya. Jangan marah padanya.”


Aku tidak menjawab. Rasa sakit karena amarahku pada Devan sudah sedikit berkurang selama aku mengobrol dengan Diana. Aku menyadari sebagian amarah itu berasal dari rasa takutku untuk bertemu Diana, & aku menumpahkannya pada Devan agar aku tidak perlu menghadapinya. Tapi itu masalah yang harus kuselesaikan dengan Devan, bukan Diana.


Terima kasih sudah membaca, terus dukung Author ya guys. Bantu like, vote, komen, & jika masih ada typo tolong di maafkan🙏😘🌹


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2