
Diana tidak menyadarinya. Aku tetap akan mengenalinya meskipun tidak melihat ekspresi hampa pada wajahnya, tidak mendengar perintah untuk melupakan peristiwa malam ini. Baru sore kemarin aku duduk sambil mengobrol bersama Diana, tapi rasanya seperti sudah lama sekali. Diana sama sekali tidak tahu. Dia benar-benar menyangka dirinya Diana, sama seperti aku dulu.
Terdengar suara ranting patah di semak-semak, dan aku langsung berbalik, wajahku disambut ranting dan dedaunan, dan melihat seekor burung menyembulkan kepalanya dari balik helai daun. Burung itu menjulurkan kepalanya padaku, seakan-akan terkejut melihat seorang manusia berdiri di sini sepagi ini, lalu terbang. Aku menghela napas, berusaha menenangkan detak jantungku yang memburu.
Ada yang berbohong pada raja dan ratu, membawakan putri palsu kedua ke hadapan mereka, menggunakan mantra sama yang mengelabui semua orang mengenai diriku selama bertahun-tahun ini. Sebuah suara, antara tawa dan sedu sedan, keluar dari mulutku. Ternyata Paula benar; ini memang mantra yang cerdas. Sangat cerdas hingga ada yang menggunakannya untuk mengelabui raja dan ratu, karena menyadari mereka tidak akan memeriksa dengan seksama untuk memastikan gadis yang mereka bawa adalah sang putri asli. Lagi pula, memangnya mereka akan mencurigai gadis itu sebagai siapa, mengingat hanya sedikit orang yang mengetahuinya?
__ADS_1
Hanya lima orang, aku menyadarinya saat ke rongkonganku terasa masam, lima orang di seluruh penjuru Thorvaldor. Raja dan ratu menceritakannya pada tiga orang penyihir; Vian, yang sudah meninggal, Melani, dan Omar.
Mungkin saja mereka sudah bercerita pada seseorang, aku menduga-duga. Bisa saja seseorang selain mereka. Namun seandainya Diana…. bukan, Riana… bukan putri yang asli, berarti ada sebuah plot yang dimulai sejak dulu, saat sang putri yang masih bayi ditukar dengan dua bayi, bukan hanya satu. Seandainya tidak bersalah, mereka tidak akan memberitahu siapa pun, tidak saat itu. Orang itu tidak akan punya cukup waktu untuk melakukan sesuatu. Tidak, pasti salah seorang dari mereka… Omar atau Melani.
Melani, dengan kecantikan dan sihir yang dimilikinya, siap melangkah ke tampuk kekuasaan kampus segera setelah Omar pensiun. Seorang Baroness, salah seorang penasihat terdekat raja dan ratu. Memikirkannya saja membuatku mual.
__ADS_1
Tubuhku gemetar, dan sudah cukup lama, seandainya kelelahan yang mencengkeram otot-ototku bisa di jadikan petunjuk. Sekarang sudah cukup terang, cahaya kuning pucat pagi hari. Apa yang harus kulakukan? Sebuah bayangan diriku menghambur masuk ke istana, mencari raja dan ratu, meneriakkan kabar penemuanku ke penjuru ruangan, memenuhi benakku dan menghilang dengan sama cepatnya.
Aku bisa membayangkan orang-orang di istana berbisik-bisik, saling bergumam bahwa aku mengada-ada karena dendam atau kejatuhanku sudah membuatku gila. Aku bisa melihat raja dan ratu menggelengkan kepala, lalu mengusirku dari kota… atau lebih buruk lagi, memenjararakanku karena mencoreng nama putri mereka yang hilang. Aku tidak tahu apakah mereka akan melakukan hal semacam itu, tapi memikirkannya saja sudah cukup membuatku gugup dan takut.
Aku membayangkan menceritakannya pada Paula, tapi dia terlalu aneh, terlalu terkucil dengan gaya anehnya untuk memercayai kisah gila semacam ini. Aku memikirkan orang lain, tapi sekarang duniaku kecil, terlalu kecil untuk sesuatu semacam ini.
__ADS_1
Bersambung