PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 96


__ADS_3

Satu hari kemudian, kami diduk di sebuah ruang duduk yang nyaris kosong di Brown Tail, penginapan yang lebih muram jika dibandingkan dengan penginapan lain yang kami datangi selama perjalanan menuju Siderros. Meskipun begitu, kami memutuskan untuk menghindari tempat-tempat yang mungkin akan dipilih oleh seorang pria bangsawan dan adik perempuannya, hanya untuk berjaga-jaga seandainya mantraku gagal dan Siderros memutuskan untuk mengirim penunggang kuda mencari perampok makam mereka.


“ Jadi,” Devan berkata setelah memggigit pai dagingnya yang tampak meragukan, “ apa yang kita dapatkan dalam petualangan besar ini?”


Jiwa ceria Devan tidak perlu menunggu waktu lama untuk kembali saat kami sudah berada di jalan dan tidak terlihat pengejaran. Devan merasa yakin pesan yang kami tinggalkan, memberitahukan keinginan mendadakku untuk meneliti gua tempat sang peramal pertama mendapatkan ramalan pertamanya sebagai alasan kepergian kami malam hari, tidak akan menarik perhatian. “ Ilmuwan memang seperti itu,” ujar devan. “ Meraka takkan berpikir macam-macam.”


Sementara aku merasa takut selama dì perjalanan, sering sekali melirik ke belakang hingga Devan bertanya apakah leherku sakit. Aku mengkhawatirkan dampak mantraku pada biarawan itu, dan takut tertangkap oleh orang-orang religius yang mengejar kami. Aku mengkhawatirkan arti dari semua yang kami temukan, dan mengenai ramalan yang diberikan padaku oleh peramal yang sekarang.

__ADS_1


Namun, sekarang aku merentangkan jemari di atas meja untuk menghitung poin penting. “ Kita tahu bahwa sang peramal memberikan ramalan palsu pada raja dan ratu, ramalan yang akan membuat mereka menyembunyikan Diana yang asli dan menggantikan tempatnya dengan orang lain. Ternyata memang tidak ada kemungkinan sang putri terbunuh di Aula Thorvaldor. Itu artinya entah sang peramal bersekongkol atau dipengaruhi oleh Omar dan Melani. Tapi kurasa sang peramal terlibat, karena dia merasa bersalah. Dia tahu perbuatannya salah, dan itu menghantuinya sampai mati. Kita tahu bahwa salah seorang dari kami—Diana, Riana, atau aku—mungkin akan mati kalau kita berusaha menemukan putri yang asli.”


“ Itu masih bisa diperdebatkan,” sela Devan. “ Tidak semua ramalan menjadi kenyataan.”


Aku mengedikkan bahu. Aku berhasil tidak terus larut dalam penemuan kami itu, setidaknya karena perhatianku teralihkan usahaku untuk mencari tahu penyihir mana yang kemungkinan besar membujuk sang peramal untuk membantunya. Namun hal itu terus menggelayuti pikiranku, siap menyerang jika aku membiarkan benakku melayang-layang.


“ Tapi bagaimana kita bisa mengetahuinya, tanpa mendatangi mereka dan menanyakannya, ‘jadi, apakah saudara perempuan sang peramal yang mengkhianati Thorvaldor?’ Kurasa, mungkin, itu bisa membuat mereka curiga.”

__ADS_1


Aku meminum tehku dan tersenyum muram. “ Perpustakaan istana menyimpan catatan mengenai semua keluarga bangsawan di Thorvaldor—semua kematian dan semua kelahiran, bahkan garis keturunan bangsawan rendahan. Jadi sudah pasti itu termasuk keluarga mereka.”


“ Tapi bagaimana dengan Omar?”


“ Dia seorang anggota keluarga Ostralus. Mereka diberi gelar saat Omar menjadi kepala kampus. Dia pasti tercantum di sana juga.”


Enam hari kemudian, pada sore hari, kami kembali ke V. Aku merunduk di atas sadel saat kami mendekati Gerbang Selatan, tapi para penjaga di benteng kota hanya melirik kami sekilas sebelum mengizinkan lewat. Aku sudah setengah menunggu para penjaga menahan kami karena tindakan nekad kami ke Siderros, jadi aku mengembuskan napas lega saat menjahui gerbang.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2