
Aku berhasil menggunakan tiga mantra yang, meskipun tidak mengubah kami sepenuhnya, tapi bisa menyamarkan wajah kami hingga bisa mengelabui seseorang yang tidak mengenal kami dengan baik. Namun, menggunakan mantra membuatku gugup ; aku tidak sengaja menghanguskan sepetak rumput di sekitar kakiku sebelum akhirnya berhasil mengekang sihirnya. Tapi, batinku, seharusnya kami bisa memasuki kota tanpa ketahuan, dan mendatangi rumah Paula untuk mengambil peta.
Jangan hiraukan aku yang masih belum punya rencana berikutnya, saat kami tiba di istana.
Aku menyingkirkan pikiran itu—perutku terasa semakin melilit saat memikirkannya—saat Devan menghampiri penjaga di gerbang. Pria itu, lelaki bertubuh tinggi dan kekar, terlihat kewalahan oleh begitu banyaknya orang yang berusaha memasuki kota, dan meskipun pedang Devan menggantung di pinggangnya, hanya menatap Devan sekilas sebelum melambaikan tangan menyuruhnya masuk.
Satu sudah, batinku, sambil menahan keinginan untuk berpaling ke balik pundak untuk mencari Bella.
__ADS_1
Aku menduga pastinya para penjaga akan menyadari ada sesuatu yang salah pada diriku. Aku merasa sangat lemah dan gugup hingga harus mencengkeram sadel dengan satu tangan saat keluarga yang mengantre di depanku sedang diperiksa. Tetapi penjaga itu hanya melirikku sekilas. Seandainya mantranya masih terpasang, pria itu akan melihat seorang gadis berambut pirang tua, memgenakan gaun yang dipasangi lambang serikat pembuat sepatu. Keahlianku belum cukup untuk mempertahankannya lama-lama. Mungkin bisa bertahan satu jam, sejak aku merapal mantranya. Namun, sepertinya mantraku masih bertahan, karena pria itu mengizinkanku lewat.
Di dalam Devan sudah menungguku tidak jauh dari gerbang, cukup dekat hingga kami masih bisa cepat-cepat mencapainya seandainya terpaksa melakukannya. Kami berdua berbalik di atas kuda masing-masing dan memperhatikan, dengan tangan mencengkeram tali kekang, saat Bella mendekati gerbang.
Bella kesulitan mengendalikan kudanya; seorang bayi menjerit-jerit di belakangnya membuat kuda itu melompat gugup, tapi dia berhasil menenangkannya saat tiba di depan penjaga. Pria itu menatapnya, lalu mengangguk, dan aku mendengar Devan mendesah lega.
Devan memajukan kudanya pada saat yang bersamaan aku turun dari sadel. Seandainya terpaksa menggunakan sihir, sebaiknya aku tidak perlu melakukannya sambil mengendalikan seekor kuda. Saat sebuah kereta berhenti di depannya, kusirnya menatap jalan dengan ekspresi bingung, seakan-akan dia tidak tahu harus pergi ke mana. Devan tidak akan bisa menghampiri Bella tepat waktu.
__ADS_1
Bella berbalik pelan-pelan, wajahnya tidak memperlihatkan ekspresi apa pun. Penjaga itu berjalan menghampirinya, mengulurkan tangan untuk mengambil alih tali kekang kuda. Dia mengatakan sesuatu pada Bella, akan menyerahkan sesuatu padanya. Bella mengangguk dan pria itu berbalik untuk kembali ke gerbang.
“ Sebutir apel,” ulang Devan, lalu mengembuskan napas keras yang berubah menjadi tawa gelisah.
“ Cukup,” selaku. “ Penobatannya dimulai dua jam lagi. Kita harus ke rumah Paula.”
Kami membutuhkan waktu lebih lama dari biasanya untuk melintasi Guildhall menuju Goldhorm. Kota di padati oleh pendatang, dan sepertinya semua penduduk kota memutuskan untuk keluar ke jalanan. Aku mempertimbangkan untuk meninggalkan kuda dan melanjutkan dengan berjalan kaki, tapi Devan menunggangi kuda miliknya, dan aku ragu dia mau meninggalkannya di jalan. Namun, saat tiba di istal Paula, aku nyaris menjatuhkan tubuh dari sadel saking terburu-burunya turun.
__ADS_1
Bersambung