
Bibi Vania terdiam sejenak, tidak menatapku, tatapannya tertuju pada sesuatu dari masa lalu, sesuatu yang hanya bisa dilihatnya.
“ Ibumu sangat cantik. Dia memiliki rambut berwarna gelap yang tergerai bergelombang di atas punggungnya. Dia tidak mau menjepitnya. Kau mirip ayahmu,” Bibi Vania menambahkan sesaat kemudian.
“ Tapi ibumu semungil kau, & kau mewarisi hidungnya, & warna rambutnya.” Aku menyadarinya saat malam kedatanganmu.
“ Ibumu menawan, tidak bisa diam, selalu bergerak, berbicara, atau mencari hal-hal berikutnya yang bisa membuatnya tertawa. Ayahmu benar-benar jatuh cinta padanya. Dia tidak bisa berhenti menatap ibumu.”
“ Dua tahun kemudian kau lahir, di kota. Mereka mengunjungiku tepat setelah mengetahui ibumu mengandung. Saat itu aku merasa ibumu gelisah, seakan-akan ingin pergi ke tempat lain, tidak seperti perempuan yang akan segera memiliki anak. Tapi ayahmu terlihat sangat bahagia hingga aku tidak memberitahunya. Aku hanya mengamati ibumu, & bertanya-tanya. Dan lima hari setelah kamu lahir, ibumu pergi. Meninggalkan sebuah pesan, dia bilang tidak akan kembali, & tidak ingin bersama ayahmu lagi.”
Aku menelan ludah, aku tidak sanggup berkata-kata. Wajah Bibi Vania seperti batu, sangat keras & dingin hingga kupikir jika aku menyentuhnya tidak akan terasa seperti kulit.
__ADS_1
“ Itu membuat Ayahmu patah hati. Setelah itu dia tidak pernah sama lagi. Setahun kemudian, dia menutup tokonya di kota & pindah ke sini. Ayahmu meninggal saat terjangkit demam, & hal terakhir yang di ucapkannya adalah nama ibumu.” Bibi Vania mendesah.
“ Sepertinya kemiripan lain antara kau & ayahmu. Kalian sama-sama terlalu…. pasrah. Kalian melakukan apa yang diinginkan orang lain tanpa memperjuangkannya.”
Aku terkejut mendengarnya. “Apa maksud?” Akhinya aku sanggup bertanya.
Bibi Vania menunjuk ke utara, ke arah Vivaskari.
Rasanya di bawah kulitku seperti ada es yang membeku; & satu keping besar sudah tersangkut di hatiku. Cukup lama aku tidak sanggup bicara, & saat akhirnya bicara, hanya suara serak yang terdengar.
“ Dia pikir aku sudah mati, ya kan? Mereka bilang sudah mengubah memorinya agar tidak ingat pernah menyerahkanku .”
__ADS_1
Bibi Vania mengangguk. “Itulah yang dikatakannya padaku. Lalu kupikir, yah, mungkin itu yang terbaik. Setidaknya tidak ada yang mengingatkannya pada ibumu. Tapi tidak seberhasil itu. Dia tidak pernah berhenti memikirkan ibumu, bahkan tanpa kehadiranmu. Sakit hatilah yang melemahkan ayahmu; dia bahkan tidak peduli saat terjangkit demam.”
Esnya semakin dingin, tajam, & aku mendengar diriku berkata, cukup tenang, tanpa nada apa pun, ” Kalau begitu, karena ibuku Bibi jadi membenciku.”
Untuk pertama kalinya, sebuah kerutan terbentuk di antara mata bibiku, memecahkan batu yang semula membuat wajahnya kaku. Dia menatapku dengan serius, salah satu sudut mulutnya berkedut, lalu berkata.
“ Aku tidak membencimu, Amelia. Aku hanya tidak tahu harus berbuat apa. Lihat dirimu. Enam belas tahun, cukup tua hingga seharusnya sudah ada yang meminangmu. Tapi pria mana yang menginginkanmu, tanpa ada keahlian yang dibawa pulang? Aku tahu, itu bukan salahmu, tapi kau tidak mengetahui apa pun yang berguna di sini. Dan aku sudah terbiasa sendirian. Aku tidak pernah bergantung pada seorang ponakan.”
Aku membuka mulut hendak berkata, “Aku sedang mengusahakannya,” tapi Bibi Vania sudah berjalan melewatiku & berjalan keluar. Aku tidak mengikutinya.
Semenjak kejadian malam itu kami bersikap sopan tanpa bicara satu sama lain, & kami tidak pernah membicarakan tentang orangtuaku lagi.
__ADS_1