
Aneh rasanya membayangkan memiliki seorang bibi, karena baik raja maupun ratu tidak punya saudara yang masih hidup. Perempuan itu pasti menungguku, pria tadi menyebut-nyebut kurir yang tiba di Treb jauh sebelum kami datang.
Aku nyaris tidak sempat mengangkat tanganku yang gemetar untuk menyentuh rambut saat keretanya berhenti lagi, kali ini di depan sebuah rumah kecil. Aku mendengar pelayan yang duduk di bagian belakang kereta melompat turun, lalu melintasi jalan setapak pendek yang memotong taman yang tumbuh di sekeliling depan rumah. Namun, pria itu baru berjalan beberapa langkah saat pondok terbuka & seorang perempuan keluar, tangannya menggenggam sebuah lentera. Pelayan itu berhenti, Sepertinya terkejut, lalu bergegas kembali ke kereta. Jantungku berpacu lebih kencang, saat dia meraih gagang pintu kereta.
“ Yang mu…..” Pria itu terdiam, wajahnya memerah hingga aku bisa melihatnya di bawah cahaya temaram. “ Maksudku, My Lady, kita sudah sampai.”
“ Terima kasih,” aku berkata sambil turun dari kereta. Beban kegelapan seakan-akan mengimpitku, & meskipun sebagian diriku yang lain ingin berlari ke arah cahaya pondok, sebagian diriku yang lain ingin berlari secepat mungkin ke arah yang berlawanan. Namun, aku menghela napas & membayangkan diriku bukan berjalan di aula Thorvaldor, itu terasa terlalu menyakitkan, tapi di aula besar mata semua orang yang ada di sana tertuju padaku. Itu membuatku mengangkat kepala & perlahan-lahan melangkahkan kaki di depan kaki lainnya & berjalan menyusuri jalan setapak menuju pondok.
Bibiku seorang perempuan tinggi & kurus dengan tulang-tulang menonjol. Rambutnya berwarna coklat muda, dengan semburat helaian kelabu, hidungnya panjang & tajam. ( seperti nenek sihir yah, 😃 terserah author dah🌹) Aku tidak melihat kemiripan di antara kami. Sesaat kami saling mengamati, lalu dia mengembuskan napas.
__ADS_1
“ Kau mirip dengannya,” ujarnya. “ Ibumu.”
Di dalam benakku aku melihat sang ratu, yang terlihat sangat lembut & anggun, sedangkan aku terlihat kecil & gelap ( tenang nanti author poles 😁).
Seakan-akan bisa membaca pikiranku, bibiku mengerutkan bibirnya.
“ Maksudku ibumu yang sebenarnaya.”
“ Kuharap……” aku menjilat bibir untuk membasahinya.
__ADS_1
“ Kuharap aku tidak terlalu menganggumu. Sepertinya kaulah satu-satunya kerabatku yang masih hidup, & mereka tidak tahu lagi ke mana harus mengirimky.”
Bibiku menatapku cukup lama, lalu berteriak pada pelayan, “ Bawa barang-barangnya masuk, kalau ada. Dan padaku bibi berkata, “ Sebaiknya kamu juga masuk.”
Bibiku berbalik, cahaya lentera mendadak tersembunyi di belakang tubuhnya, & aku mengikutinya, menunggu seberkas cahaya apa pun yang bisa kutemukan untuk menghilangkan kegelapan.
Keesokan paginya aku terbangun sepenuhnya menyadari tempatku berada. Tidak ada momen kebingungan, tidak ada lagi pikiran aku masih berada di atas tempat tidurku di istana. Bahkan sebelum membuka mata, aku sudah tahu apa yang sudah terjadi & di mana aku berada. Aku hanya tidak tahu siapa diriku.
Amelia, batinku pada kegelapan di balik mataku yang terpejam. Di dalam kepalaku nama itu terdengar kasar, tanpa kelenturan seperti nama putriku ( Kata author sih, karena belum terbiasa jadi terkesan aneh kedengarannya🌹). Namun sekarang nama itu milikku, satu-satunya nama yang kumiliki, aku mengingatkan diri sebelum membuka mata.
__ADS_1
Aku berbaring di atas sebuah tempat tidur sempit yang di alasi matras pudar berisi jerami, sebuah selimut celup indah berwarna merah terhampar di atas tubuhku. Selain tempat tidurku, ruang kecil ini hanya berisi sebuah bangku yang terlihat usang & sebuah mangkuk dangkal berisi air di atasnya.
Jangan lupa di like, vote, dan komennya author tunggu..Kasih semangat guys, maafkan juga jika masih ada kesalahan dalam menulis🙏🌹