
'' aduh..aduh,, udah ada yang mengganjal aja..'' celetuk Dania memeluk Kiara
' iisss.. bunda..'' sungut Kiara sedikit kesal dengan ejekan bunda Dania pada nya
'' sehat kan.. cucu bunda..'' ujar Dania lagi
'' sehat kok? bund.,'' saut singkat Kiara sambil tersenyum
'' ayah gak di peluk nih..'' ucao Yudis di samping Dania
'' ayah gak usah,, bunda aja..'' ejek Dania sambil memeluk erat Kiara
'' ini mah,, gak adil..'' ucap Yudis tak terima
Kiara yang menjadi rebutan ayah dan bunda nya hanya bisa tersenyum, sebahagia ini lah keluarga nya, Kiara banyak bersyukur, karena di pertemu kan dengan keluarga yang sangat menyayangi diri nya
ia selalu berdoa di setiap sujud nya, agar keluarga nya dalam lindungan Allah subhanallah wataala, dan ia berharap, keluarga nya tetap bahagia walau dalam ke adaan apa pun
'' ayah sama bunda sudah makan..'' tanya Kiara lembut
'' boro-boro makan kak... minum aja kami belum..'' celetuk bunga yang duduk di sofa ruang tamu bersama Daren
'' aduh.. maaf ya.. soal nya di rumah pun lagi gak ada apa-apa... Kenan belum kembali dari pabri,, biasa nya kalau dia pulang sekalian belanja..'' ujar Kiara merasa bersalah kepada keluarga nya yang tengah kelaparan
'' nggak apa kak,, kita tunggu saja suami mu pulang..'' ucap Dania sembari mengelus perut bucit Kiara
'' kita pesan di kafe aja ya.. mau pada makan apa .'' tanya Kiara pada bunga
'' apa aja deh..kak,, bunga lapar..'' aku bunga dengan jujur
Kiara hanya tersenyum, ia pun memesan makanan di kafe lewat panggilan telepon, selesai memesan, kini Kiara pun menatap bunga kasian
'' sudah berapa bulan cucu ayah..'' tanya Yudis pada Kiara seraya mengelus perut Kiara, tanpa rasa malu dan segan
'' sudah enam bulan yah.. jalan tujuh..'' ucap Kiara seraya tersenyum pada sang ayah
tak berapa lama pesanan mereka pun sampai, berbarengan dengan Kenan yang baru saja pulang dari pabrik sawit milik opa Adam
'' assalamualaikum...'' ucap Kenan memberi salam
'' waalaikumsallam...'' sautan dari dalam begitu ramai, cukup membuat Kenan sedikit tercengang
'' wah... ada tamu ternyata..'' ucap Kenan seraya masuk ke dalam rumah
__ADS_1
'' iya Yang,, ini ada bunda dan ayah..'' ujar Kiara pada Kenan
'' lalu.. kami gak di anggap nih..'' sungut bunga
'' eh..iya,, lupa bunga..'' ucap Kiara terkekeh kecil
'' bang... belikan bunga baju dong..'' todong bunga ketika Kenan masuk ke dalam
'' kamu itu dek... di butik mami banyak, kamu tinggal pilih yang mana,,'' Daren berdecak sebal ketika bunga meminta yang menurut nya tak masuk di akal
'' gak asik Bang,,. kalau beli kan seru,, bisa sekalian jalan-jalan..'' ujar bunga membuat Kenan terkekeh kecil
'' bilang aja kamu mau di ajak keliling kota A..'' celetuk Daren
'' tau aja.. percuma liburan, tapi gak bisa menikmati liburan tersebut..'' ucap bunga
'' Hem... kayak nya kalau yang itu Abang gak bisa deh,, soal nya masih sibuk mengurus pabrik,, masih repot-repot nya..'' ucap Kenan merasa tidak enak hati pada bunga yang berharap pada nya
'' sama kak Kiara aja..lah,, dari pada di rumah terus,, nanti yang ada bosen..'' ucap bunga menatap ke arah Kiara
'' bisa,, nanti kita bawa Daren yang akan menjadi supir nya..'' ucap Kiara sambil tersenyum lebar
'' adeh... dah piling dah..'' ucap Daren menghela nafas panjang, ketika nama nya ikut serta dalam rencana bunga....
''' gak ada,, kasian kak leya nya nanti,, udah perut nya besar gitu,, masak mau di ajak keliling..''' ucap bunga menolak saran dari Daren
'' apa sih kamu... sirik aja..'' ucap Daren menatap sang adik
Kenan dan Kiara hanya bisa tersenyum saja melihat perdebatan ini,, mereka jadi merasa kan hangat nya keluarga, ketika semua keluarga nya berada jauh dari tempat mereka tinggal
tak berapa lama, pesanan yang Kiara pinta pun datang,, Kiara pun menyuruh nya menyusun di atas meja ruang tamu,
'' bunda ambil piring..'' ucap Dania cepat
'' berapa semua nya mas..'' tanya Kiara pada para pelayang kafe Aldo
'' kan.. itu kafe nya mbak,, apa mesti harus bayar juga..'' ujar pelayan tersebut dengan sopan
'' memang itu milik keluarga saya pak,, tapi kan ini sedang dagang,, jadi? apa pun yang saya ambil, itu harus di bayar semua,, dan agar tidak susah menghitung semua pendapatan dan kerugian kafe..'' ujar Kania menjelas kan
'' baik lah mbak,, kalau masalah nya seperti itu,, jadi ini total nya semua,, tiga ratus delapan puluh lima mbak..'' ucap nya sambil berpikir,
'' oke.. ini kembalian nya untuk kamu aja..''' ucap Kiara menyodor kan uang empat ratus ribu
__ADS_1
selesai membayar, Kiara pun ikut bergabung dengan keluarga, Kenan hanya membantu sekedar nya saja,,
'' yang..sini,, biar di suapi makan nya..'' ujar Kenan membuat Kiara tersipu malu menatap ke arah kenan yang sedang memperhati kan nya
'' idih... udah besar juga..'' celetuk bunga
'' kamu tau apa..'' ucap Kenan terkekeh kecil
selesai makan, kini mereka semua berkumpul kembali di ruang tamu, setelah tadi selesai makan dan mandi,, berakhir di tempat yang sama
'' menurut kamu bagai mana Kenan,. Daren ingin melamar leya..'' ucap Yudis meminta pendapat kepada Kenan
'' hah... apa?.. ini serius apa hanya aku yang salah dengar..'' ucap kenan sedikit terkejut
'' apa sih bang,, sampai segitu nya..'' ucap bunga yang sedari memperhati kan Kiara
'' enggak kok? kamu gak salah dengar.. ayah mencari solusi untuk Daren,, kalau tadi calon nya masih gadis,, oke.. ayah masih bisa terima,, ini status nya tidak jelas,, dan sekarang masih dalam ke adaan mengandung besar..'' ucap Yudis setengah prustasi....
' lamar aja sih.. yah,. dari pada gak karuan hidup leya,, lagian Daren kayak nya jatuh cinta berat dengan leya..'' ucap kena. sambil terkekeh kecil
'' enak aja,, jangan bilang yang enggak-enggak deh.. bang..'' sungut Daren tak terima
.membuat keluarga nya malah menertawa kan Daren, yang sedang duduk di sudut ruangan
'' ayah..''
panggil Daren pada sang ayah
'' ada apa.. Daren..'' tanya ayah sedikit menatap Daren sekilas saja
'' hmm..boleh kan yah,, kalau Daren lamar leya..'' ujar Daren sedikit gugup,
'' entah,, lihat nanti aja..'' ujar Yudis, sedikit menghela nafa nya
membuat Daren seketika berengut kesal menatap sang ayah, bukan ini jawaban yang Daren ingin kan dari sang ayah,
sehingga perdebatan kecil pun terjadi, antara anak dan ayah tersebut, Kenan hanya menyaksi kan apa yang terjadi saja
ada saja pembahasan dan adu mulut terjadi, yang menguras kesabaran, dan kini, Yudis hanya bisa menghela nafas dalam, di saat Daren tetap kekeh dengan ke inginan nya
'' kalau ayah kurang setuju Daren, tunggu lah anak nya lahir, atau sudah besar, setelah itu terserah mau langsung nikahbjuga gak apa..'' ujar Yudis menatap Daren sedikit kesal
...****************...
__ADS_1