Putri Yang Hilang

Putri Yang Hilang
#59


__ADS_3

" aku tidak tahu, aku pikir tuh tuh masuk kesana jadi aku ikut masuk," sambil memonyongkan bibirnya menunjuk pada Nara


sedang gadis yang di tunjuk merasa tak terima jika di salahkan tanpa sebabnya


" kenapa kamu monyong ke aku "


" tadi aku berlari mengejarmu, tapi aku melihat siluet kamu masuk ruang yang banyak mayat tanpa bentuk yang utuh "


berkata sambil mengatur nafasnya agar tidak terkejut seperti tadi


" ternyata itu bukan kamu, melainkan orang lain yang mirip seperti tubuhmu itu " kesalnya kala mengingat apa yang tadi ia lihat


" heh , jadi pria pengecut " sinisnya


" tapi boleh jujur, siapa kamu sebenarnya ar" tanya Tristan dengan rasa penasarannya saat untuk pertama kalinya datang ke tempat gedung tua yang memang di jadikan rumah sakit oleh sesosok yang begitu misterius


" kenapa??" Nara sengaja menutupi identitas nya yang sebenarnya, ia tidak ingin orang lain mengenal lebih dalam tentang queenara yang di asingkan oleh ke dua orang tuanya yang melainkan bukan orang tua kandung yang sebenarnya,


queenara pun bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi, siapa dirinya itu , dan kenapa pula wajahnya bisa mirip dengan queenira kakak kembarnya, berbeda dengan Jonatan


entah lah pada saat ini pun Nara sudah tidak ingin mengungkit masa lalunya yang siapa sebenarnya kedua orang yang asli


cuma author yang bisa jawab pertanyaan para pembaca


" kak " panggil Lea pada Nara yang hanya duduk dengan mata yang sengaja ia tutup untuk menghindari ocehan teman nya


" kau tidur !" ucap Tristan pada Nara yang masih memejamkan matanya


" ish, dari tadi aku ngomng hanya di anggap angin " huh " dengusnya menginjakkan kaki dengan kesal


tiba tiba pintu ruang ICU terbuka dengan orang yang berseragam putih dengan kain penutup pada bagian hidung

__ADS_1


" queen " tunduk sang dokter yang keluar dari ruang ICU


" hhmm " mata masih terpejam, ia tidak berniat membuka matanya


" anak itu selamat, hanya saja masih membutuhkan donor darah karena stock di rumah sakit ini memang tidak ada dan tidak menyediakan " masih dengan hormatnya menunduk pada Nara yang masih terpejam


tidak butuh lama saat mendengar ucapan dokter yang menanganinya membutuhkan donor darah


" golongan darah "


" mmmhhh itu " gugup dan takut saat di tanya golongan darah apa


" kenapa " kini Nara sudah menegakan badannya di kursi tunggu sedangkan dokter yang menerangkan bahwa pasien kuran darah dan membutuhkan donor darah


" golongan darah nya sangat langka queen" menunduk takut


Nara menaikan sebelah alisnya " apa "


" golongan darah nya,,, em Maas queen ?" dengan gugupnya menjawab


" benar queen. sedangkan darah yang di inginkan anak kecil tersebut sudah tidak mungkin bisa di dapat untuk saat ini "


" apa yang di katakan herbi tadi, darah emas! bukan kan golongan darah itu langka, dan dan aku pun milik darah tersebut " ucapnya dalam hati, Nara masih berfikir keras bukan kan darah tersebut hanya sebagian para keluarga dan keturunannya yang memilikinya


" ambil darahku " ucap Nara tanpa ragu


" tapi queen, " dokter herbi takut jika akan terjadi sesuatu. " baik lah jika queen meminta, silahkan ikut ke dalam " Nara bangun dari kursi tunggu dan berjalan memasuki ruangan ,


saat mata Nara melihat wajah anak kecil yang berada di atas ranjang rumah sakit . wajah yang penuh perban di kepala hingga menutupi wajah seperti topeng setengah kini hati nya merasakan sesuatu yang aneh, entah itu apa


" silahkan queen " seorang perawat mempersilahkan Nara naik ke atas ranjang untuk di cek darah terlebih dulu

__ADS_1


" wajah queen terlihat pucat " tanya perawat


" hanya kelelahan " jawabnya singkat


" baik lah, apakah tidak apa apa queen " perawat meminta lengan Nara untuk di ambil darahnya , sedang Nara langsung menyodorkan lengan kiri pada perawat tersebut


" tidak, ! " menjawab dengan dingin,


perawat tersebut masih mencocokkan darahnya ap sama atau tidak. tapi saat melihat ada kesamaan pada darah queen nya pada anak kecil yang ada di balik tirai


" tapi queen "


" aku tahu , lebih baik diam, " ucap nya dan memberi perintah untuk diam agar orang lain pun tak berpikir sama seperti perawat tersebut


" baik queen, maaf jika saya lancang " menunduk takut


" butuh berapa kantong, "


" hanya dua kantong saja queen. "


" hhmm, lakukan " memejamkan matanya saat jarum yang baru tersambung dengan selang untuk mengeluarkan darah dari lengan nara


satu jam lebih Nara istirahat kala selesai di ambil darahnya, dengan begitu bisa memulihkan keadaannya yang tadi sempat drop karena perutnya belum memiliki asupan makanan lagi


dua gadis yang berdiri seperti bodyguard di kanan kiri pintu masuk ruang istirahat milik Nara, dari wajah hanya terlihat tenang tapi lain hatinya , dua gadis itu merasa khawatir pada sang tuannya , lain dengan Rai yang berdiri memandang pintu ruang rawat yang di dalam nya ada dua orang yang sedang di jaga oleh Rai,


" eeh " lengguhan keluar dari bibir tipis milik gadis berambut cokelat. mata nya mengerjap untuk menyesuaikan diri


" dimana aku" masih dengan bingungnya dan memegang kepalanya yang terasa berdenyut. ia pun duduk bersandar di peraduan yang hanya cukup untuk satu orang, saat melihat kesamping ada seorang anak kecil langsung ia turun dan tergugu saat melihat keadaan sang adik


" Edwin! " teriak nya kala nyawanya sudah terkumpul semua ia beranjak dari brangkat langsung turun menghampiri sang adik yang malang

__ADS_1


" hiks hiks hiks Edwin.. maaf kan aku, maaf " terisak dengan rasa bersalahnya ia menggenggam tangan mungil sang adik


bersambung


__ADS_2