
'' bagai mana setelah leya sehat saja, kita bahas tentang pertunangan mereka..'' ujar Fikri duduk di sofa kamar leya
kini mereka semua telah berkumpul di kamar leya setelah mereka semua selesai makan, dan kini semua orang tengah serius membahas tentang bagai mana kedepan nya leya dan Daren
'' siapa yang akan tunangan yah..'' tanya leya, ia sejak tadi bingung mendengar pembicaraan orang tua nya
'' loh.. ini bagai mana, kenapa leya seperti bingung begitu..'' heran Yudis begitu juga dengan Fikri dan Dina
'' kalian kan pacaran kan'' tanya Dania lembut
'' pacaran..'' ujar leya terkejut
'' iya.. kalian kan pacaran, maka nya om Yudis dan keluarga ada niat baik mau melamar kamu, tapi? karena keadaan kamu seperti ini, terpaksa lamaran ini akan di tunda..'' jelas Fikri pada leya, sambil menunjuk ke arah Daren dan leya
'' yah..?. kita gak ada pacaran... kita hanya teman biasa..'' aku leya
membuat ke dua keluarga bingung, dengan perkataan leya barusan, dan Daren hanya bisa menghela nafas saja, ketika leya tidak peka atas perbuatan baik nya selama ini
'' loh... bagai mana ini, kenapa aku yang bingung ini bang,,'' ujar Fikri bertanya pada Yudis
'' bagai mana Daren, tapi leya bukan kekasih mu..'' tanya Yudis langsung kepada Daren yang diam membatu di tempat nya
'' iya...'' aku Daren
'' tapi aku menyukai leya, aku tak mau ada pacaran di antara kami yah,, aku ingin tunangan dan menikah saja,.. itu pun kalau leya mau menikah dan menerima lamaran ku..'' ucap Daren sambil menunduk kan kepala nya
pengakuan Daren membuat di sekeliling nya kini berganti menatap leya, setelah mendengar penjelasan Daren, kini mereka tau kenapa leya sampai bingung sendiri
'' bagai mana leya, ayah sih.. setuju-setuju saja, semua tergantung kamu sekarang, mau menerima lamaran Daren atau tidak..'' ucap Fikri pada leya
__ADS_1
'' boleh leya berpikir untuk sementara waktu..'' ujar leya lirih
'' kenapa harus berfikir leya, kalau kau mau menolak Daren, tolak saja. kami tidak keberatan sama sekali, kalau kau mau menerima ya.. kami sangat bersyukur, ..'' ujar Yudis tak mau pulang dengan tangan kosong
'' harus secepat itu ya.. jawaban nya..'' tanya leya melirik ke arah Daren dan juga ayah nya
'' ya... karena dalam keluarga kami tidak mau main-main, sekarang begini saja leya, sekarang atau besok, tetap saja jawaban mu yang kami tunggu, jika kamu menolak lamaran Daren, otomatis kami kecewa nya sekarang bukan menunggu jawaban mu yang entah sampai kapan..'' ujar Yudis yang berpikir singkat
'' yah... ?'' ucap Daren lirih, ia tak mau penolakan dari leya, namun sang ayah sudah berkata demikian, ingin rasa nya Daren protes saat itu juga, namun detik berikut nya Yudis menggeleng kan kepala nya
agar Daren tak ikut menyerukan suara nya, dengan wajah pasrah, Daren pun ikut alur cerita dari sang ayah
'' tapi om,, saya baru saja siap melahir kan..'' ujar leya menatap ke arah Yudis
'' om tau itu, tapi? apa salah nya jika kalian bertunangan lebih dulu, setelah selapan anak mu, baru kita pikir kan tanggal pernikahan kalian..'' ujar Yudis lagi menatap leya
membuat leya serba salah, dan juga bingung, di hari yang sama, di hadap kan dengan masalah yang sama pula, membuat leya tak bisa berkata banyak, di tambah kondisi nya yang belum sepenuh nya pulih
ia tidak menyukai Angga sejak awal, apa lagi di tambah telah merusak anak nya dan menanggung malu sampai kapan pun,
'' ayah jangan gitu,, semua nya sudah berlalu..'' ujar Dina menasehati sang suami
'' biar aja Bu.. biar leya nya sadar, sejak awal ayah sudah larah leya untuk berpacaran dengan Angga, tapi apa? sampai dia mengandung anak nya kan, memang nya siapa yang di rugi kan di sini, kita Bu.. bukkan pihak dari Angga nya..? mereka sih.. enak, tidak tau apa pun yang terjadi dengan leya,, eehh giliran sudah lahir, mereka mau membawa begitu saja.. apa gak gila itu..'' ucap Fikri kesal
'' om.. Tante,, jangan bertengkar, kalau memang Daren mendapat kan penolakan juga gak apa,, hati tak bisa di paksa kan Tante om.., mungkin saat ini leya bilang iya ketika semua, tapi aku takut, itu hanya manis di bibir saja... aku tak mau pernikahan kami menjadi beban untuk leya..?'' ujar Daren menatap leya sejenak dan beralih ke dua orang tua nya
'' iya.. benar juga yang di bilang oleh Daren, untuk apa menerima terpaksa, kalau pada akhir nya tidak bisa bersama,, kalau memang kami di tola juga tak apa,, walau pun pulang dengan tangan kosong, tapi? setidak nya kami sudah pernah mencoba mendekat kan diri..?'' ujar Yudis sependapat dengan putra nya
'' aku bangga kepada anak mu bang,, walau pun usia nya masih muda, tapi? pikiran nya dewasa.., maaf ya Daren,, kami tidak bermaksud membuat mu kecewa, namun hati leya tak bisa di paksa kan,, semoga kamu mendapat wanita yang lebih baik lagi dari leya..?'' ujar Fikri seraya tersenyum lebar kepada Daren
__ADS_1
sedang kan leya pikiran nya sudah bercabang kemana-mana, benar juga yang di ucap kan oleh ayah nya, pacaran akhir nya menyisa kan luka yang amat dalam,
dan kini ada pemuda yang baik hati menerima nya, apa salah nya ia mencoba membuka hati untuk Daren, walau pun belum sepenuh nya,
hati leya masih di ambang keraguan, Antara di tolak atau di terima, leya berpikir keras, bagai mana leya mengatakan apa yang ingin ia ungkap kan, jika ia tidak di beri kesempatan banyak
'' maaf kan kami bang,, jika keluarga kami ada salah..?'' ujar Fikri sedikit merasa bersalah kepada keluarga Yudis
'' keluarga kalian tidak ada salah nya, kedatangan kami yang kurang pas..?'' ujar Yudis terkekeh kecil
'' jadi.? bagai mana ini,, kita pulang..?'' ajak Yudis kepada anak dan istri nya
'' ayah pulang lah lebih dulu,, aku masih mau bermain dengan Sammy..'' ujar bunga di tengah semua orang hendak pulang
'' siapa Sammy..'' tanya Fikri mengerut kan kening nya bingung
'' ini yah.. anak leya..?'' ujar leya lirih
'' bagus juga nama nya,, siapa yang buat..'' tanya Fikri lagi dengan senang
'' Daren..'' ujar leya dengan wajah bersemu merah
'' ha-ha-ha... '' semua orang tertawa terbahak-bahak mendengar pengakuan leya barusan
'' nama nya di terima dengan baik, kenapa tidak si pemberi nama di terima dengan baik juga..?'' celetuk Fikri terkekeh kecil
'' sudah-sudah... kami mau pamit pulang, kalau bunga masih mau di sini, biar kan saja,, nanti biar bang Kenan yang menyusul nya..'' ucap Yudis memberi keputusan kepada bunga
'' om... tante.. tunggu......
__ADS_1
...****************...