Putri Yang Hilang

Putri Yang Hilang
bab 116


__ADS_3

'' om.. tanye.. tunggu..'' ujar leya menghentikan langkah kaki keluarga Yudis


'' ya.. leya,, ada apa?'' tanya Yudis berbalik badan menghadap leya


sedang kan Fikri dan Dina mengkerut kan kening bingung, ada apa lagi dengan putri sematawayang mereka,


'' leya.. ma..Hem... leya.. itu.. anu..'' ucap leya gugup


'' anu itu apa leya.. kau lucu sekali jika gugup seperti itu..'' ujar Dania terkekeh kecil melihat leya begitu gugup untuk mengatakan sesuatu


'' leya.. hemm... mau menerima lamaran Daren..'' ujar leya seketika ia pun menunduk karena menahan malu


membuat Daren seketika menatap leya tak percaya, apa yang telah di ucap kan leya barusan, apa kah ia harus senang kah, atau sedih,


senang karena lamaran nya di terima, sedih nya, jika leya hanya terpaksa menerima lamaran dari nya, apa kah Daren harus bersyukur, atau sedih,


'' kalau kau terpaksa... lebih baik jangan..'' ujar Yudis, secara ia melihat ada keraguan di hati leya


'' leya tidak terpaksa kok? om.. leya serius..'' ujar leya kembali mengangkat wajah nya menatap satu persatu orang yang tengah berdiri di dekat pintu kamar nya


'' kamu serius mau nak,, ibu tidak salah dengar kan..'' ujar Dina mendekat ke arah putri tunggal nya itu


'' iya.. bu? leya akan mencoba menerima Daren, sebagai mana Daren menerima leya apa ada nya..'' ujar leya sedikit takut akan kepastian diri nya yang belum ada tumbuh rasa cinta di hati nya


namun ia tak mau kehilangan teman yang setiap saat ada di samping nya, ia tak mau kehilangan kasih sayang yang tulus dari Daren kepada nya


'' heh... mana cincin nya..'' ujar Yudis mengmyikut lengan Daren


seketika Daren tersadar dari lamun nya, sedang kan Kenan yang melihat wajah gugup dan bingung Daren hanya bisa terkikik kecil bersama Kiara yang berada di samping nya


'' ini yah..'' ucap Daren menyerah kan sebuah kotak cincin berwarna merah kepada yang ayah.


sambil terus mengambang kan senyum nya, Daren begitu bahagia, akhir nyaamaran nya tak sia-sia


'' loh.. kenapa di kasih ke ayah,, memang n6anayah yang mau lamaran..'' ujar Yudis berdecak kesal kepada putra nya itu

__ADS_1


ia pun geleng kepala di buat Daren yang salah tingkah, karena lamaran nya di terima oleh leya,


'' jadi? Daren harus apa yah..?'' ucap daren menatap Yudis dengan lekat


'' CK... anak Dania memang..'' ujar Yudis sedikit kesal kepada putra nya


'' anak mu juga mas,, emang nya aku bisa buat nya sendiri..'' celetuk Dania tak terima atas apa yang di ucap kan oleh Yudis pada Daren


'' iya memang anak ku juga,, tapi sikap lelet nya menurun dari mu..'' ujar Yudis kesal


membuat Dania berengut menatap Yudis, sedangbkan Fikri tak habis pikir dengan candaan Yudis yang terlalu kejam menurut nya


'' cincin nya kamu pakai kan ke jari manis leya,, masa seperti itu harus ayah contoh kan juga..'' ujar Yudis melotot ke arah Daren


yang hanya di balas cengiran saja oleh Daren, ia pun melangkah kan kaki nya ke arah leya yang sejak tadi hanya bisa diam menahan malu


'' duh.. tunggu dong,, moment ini harus di abadi kan..'' celetuk bunga yang beranjak dari atas kasur leya dan mengambil ponsel nya yang berada di tas selempang bunga


'' kamu mau apa sih.. bunga..'' dengus Daren


'' jangan bunga,, wajah kakak seperti ini, lihat lah sudah seperti mayat hidup saja..'' tolak leya yang tak mau di ambil gambar nya oleh bunga


'' gak apa kak, cukup pakai kerudung saja..'' topal bunga ke pada leya


membuat leya mau tak mau menuruti perkataan bunga, ia hanya bisa pasrah ketika bunga sudah memaksa kan kehendak nya, tak boleh di ganggu gugat sama sekali


'' cepat bang, aku sudah siap..'' ujar bunga begitu semangat


membuat Daren dan leya yang semula menahan malu dan senang, menjadi satu, entah bagai mana bentuk wajah leya yang berada di dalam ponsel milik bunga


sedang kan Kiara sudah tak tahan lagi menahan tawa nya, ketika bunga sudah mulai berbuat ulah di depan Daren,


'' hasil nya cukup memuas kan..'' ucap bunga tersenyum sembari melihat gambar yang ia ambil


dalam posisi ini, leya masi duduk di atas ranjang, dan kini ia berjalan ke arah sampin kanan leya, untuk menerima uluran tangan dari leya untuk di pasang kan cincin pertunangan mereka berdua

__ADS_1


setelah selesai memakai kan cinci yang di abadikan bunga, kini Daren mengeluar kan satu buah kalung dari saku baju nya


'' apa ini..' tanya leya bingung


'' ini kalung lah,, apa lagi..'' saut Daren ketus


'' belum apa-apa udah debat,, bagai mana kalau sudah menikah nanti..'' ujar bunga tepuk jidat di depan Daren dan leya


''' gak apa, kalau berantem kami nanti beda dari yang lain..'' ujar Daren menatap kesal ke arah bunga


membuat bunga tertawa lepas, telah menggoda sang Abang yang cukup cuek menurut nya, selesai memakai kan kalung ke leher leya, kini ia pun tersenyum menatap leya


'' sudah diill ini kan,, sudah di terima dengan baik, setelah ini, nanti kami se keluarga selepas empat puluh hari leya, kami akan kembali kemari membawa semua rombongan keluarga untuk acara resepsi pernikahan..'' ujar Yudis kepada Fikri sambil TOS ala bapak-bapak


'' secepat itu yah..'' tanya Daren melongo dengan apa yang di ucap kan oleh sang ayah


'' harus dong,, akikat baik itu, harus di laksana kan lebih cepat lebih baik..'' ujar Yudis seraya tersenyum bahagia


'' aduh.. aku bakal lebih repot lagi nanti nya..'' ujar Dina geleng kepala


'' oh.. tentu, acara nya harus meriah, agar besan gagal mu itu iri melihat acara mewah yang kau buat, jangan lupa untuk mengundang nya.. biar dia melihat dengan mata kepala nya, betapa berharga nya leya,, dan leya tidak semurahan yang ia tau..'' ujar Yudis


membuat Fikri kontak memeluk Yudis karena terharu, ia tak tau lagi harus berkata apa-apa, begitu juga dengan Dina


mereka bersyukur, setelah kejadian kemarin, mereka mendapat kan hikmah dari kesabaran mereka, kini anak mereka di angkat derajat nya setinggi-tinggi nya,


walau pun putri mereka hamil di luar nikah, dan tak mendapat kan tanggung jawab dari pelaku nya, namun ini lah cara Allah mempersatu kan keluarga yang sesungguh nya


'' cup..cup..cup.. jangan nangis,, aku tidak memiliki permen satu pun..'' ucap Yudis sambil menepuk pundak Fikri


'' aku sedang terharu bang, kenapa kau ingin memberi ku permen..'' ujar Fikri berdecak kesal


'' kau menangis di bahu ku, lihat lah perbuatan mu ini..'' ujar Yudis menunjuk kan kemeja nya yang basah akibat air mata Fikri


...****************...

__ADS_1


__ADS_2