
Bunyi lift terbuka kembali . kaki mulus yang terpasang sepatu sneaker army kini melangkah menuju ruangan yang di tempati oleh orang yang ingin ia hadapi untuk saat ini. memang sebenarnya belum lah waktu nya untuk mengetahuinya, tapi Nara sendiri pun sudah tidak sabar ingin bertemu dengan orang tersebut
seluruh pelayan yang berada di lobi tersebut pada menunduk ketika melihat tuanya datang berkunjung di lanta lima.
seorang kepala pelayan terpogoh pogoh datang menghampiri si gadis bermata biru tua yang sedang berjalan menuju kamar seseorang
" hosh hosh. tu an " ketika hadir di hadapannya tergagap karena berlari jadi belum sempat mengatur nafasnya
" hhmm "
" apa tuan mau ke kamar yang mereka tempati "
" ya " hanya menjawab singkat dan berjalan kembali. sedang ketua pelayan mengikuti nya di belakang
ketika tiba di ruangan yang di tuju. tanpa di suruh ketua pelayan tersebut langsung mengetuk pintu
tok
tok
tok
" siapa " suara teriakan anak kecil yang berada di dalam
" saya ketua pelayan disini "
tidak menunggu lama ketika ketua pelayan menjawab siapa yang mengetuk pintu tadi.
cklek
" ada apa " dengan bola mata yang sama yang di miliki Nara
hanya orang yang terpilih jika memiliki bola mata tersebut yang menandakan orang tersebut pasti memiliki darah campuran dari leluhurnya
degh
sedang Nara hanya terkejut ketika melihat bola mata anak kecil tersebut
" siapa dia " ucapnya dalam hati bertanya tanya
" silahkan masuk " anak tersebut tidak mengetahuinya jika orang yang di hadapannya lah yang mereka cari karena queenara memakai softlens warna coklat agar orang tidak terlalu mengetahui identitas nya yang sebenarnya
Nara pun masuk dengan di ikuti seorang ketua pelayan yang selalu mengekor sedari tadi melihatnya.
" bukannya tadi pelayan yang mengetuk pintunya, kenapa malah orang itu yang masuk ' " Edwin bingun siapa orang yang berjalan menuju ruang tamu itu
" silahkan duduk dulu. nanti aku panggil ka el dulu " Nara hanya mengangguk . anak kecil tersebut pun masuk kedalam untuk memanggil kakak nya
" kak El "
__ADS_1
" Hem "
" ada orang di depan "
" siapa " Eliza memicingkan matanya ketika adik kecil yang di bawanya mengatakan ada tamu didepan. sedang Edwin hanya mengedikan bahunya
" pelayan sama gak tau " Eliza mengakat alis sebelahnya
" kenapa kamu suruh masuk "
" kan ada ketua pelayan sini kak. gak mungkin kalo aku usir " menaiki kasur untuk menidurkan tubuhnya
" hah . mau sampe kapan kita sembunyi kak "
" gak tau " setelah menjawab ucapan adik nya Eliza berlalu keluar dari kamar untuk menemui tamu yang di maksud Edwin
baru melihat siluet tubuh orang yang sedang duduk dengan anggun. meski dengan pakaian yang di bilang seperti anak lelaki. tapi memiliki rambut panjang,
degh
" perasaan apa ini , kenpa melihat orang itu hati ini berdebar " masih melangkah kan kakinya menuju dua orang yang satu duduk dengan anggun yang satu berdiri di belakangnya . minuman pun sudah tersedia di atas meja kaca
" maaf menunggu lama " ucap Eliza berbasa basi
degh
" apa kah seperti ini jika memiliki ikatan batin, bisa merasakan kegugupan jika berhadapan dengannya . oh ya tuhan.. beri aku waktu untuk memberi pengertian untuk hati ini " di dalam hati queenara masih bermonolog sendiri ketika melihat wajah yang tanpa apapun itu yang hampir sama dengan seseorang yang pernah di kenalnya tapi melihat bola mata yang sama berwarna biru tapi
" biru, sama dengan bola mataku "
" maaf ada apa ya " dengan gaya yang seperti orang biasa, sedang si pelayan kaget dengan bahasannya.
" biasanya sama kaya nona kalo ngomong. dingin. lah ini ko jadi beda " .mengucapnya dalam hati, ia pun takut jika sang tuan tersinggung. jika berkata pada tamunya
" ah maaf maaf " Nara tersadar ketika mendengar suara yang mengagetkan kan dirinya yang sedang melamun
" mencari siapa "
" kalian berdua "
" mencari kami. " ucap anak kecil yang tiba tiba datang dari arah kamar
" heemm " Nara mengangguk sedang Eliza bingung dengan apa yang sedang di bahas saat ini
" ada keperluan apa " kembali ke modenya Eliza berkata
queenara hanya menyeringai kecil ketika melihat perubahan sikap dari orang yang ada di hadapannya. Edwin pun ikut duduk di samping Eliza yang sudah dengan mode dingin dan tegas nya
" tidak ada keperluan apa apa. hanya ingin memberi tahu " menyodorkan sesuatu yang ada di tangannya
__ADS_1
" apa ini "
" silahkan baca " Eliza pun membaca kertas dengan wajah berubah ubah
" apa maksud dari kertas ini . siapa kamu " Eliza sudah mulai waspada ketika membaca kertas yang memang itu adalah kertas tes DNA milik dirinya
" santai. rileks " Nara masi santai duduk tenang di sofa
Eliza bingung. melihat sekitar dan tidak memegangi apapun kini mulai merasa was was jika orang yang ada di depannya adalah musuh
" tenang. saya bukan musuh loh. " Nara melirik orang yang di belakan untuk keluar dengan bahasa mata nya
dengan patuh ketua pelayan tersebut pun keluar. tapi bukan keluar untuk meninggalkan sang tuan nya melainkan berjaga di depan pintu yang sudah ada dua lelaki yang selalu menjaganya dari jauh
pintu pun sudah tertutup rapat oleh ketua pelayan tersebut. Nara langsung melepaskan kalung yang berada di lehernya dan menaruh nya di meja kaca dengan hati hati
" apa kamu mencari ini "
mata Eliza pun membulat tanda terkejut bukan main. dengan hati bertanya tanya siapa gerangan orang yang ada di depannya
" siapa kamu "
" yang kalian cari "
" tidak mungkin "
" kenapa " tebakan Nara benar jika memberi tahu nya akan tidak tepat karena akan banyak sanggahan dari orang di depannya
" mata kamu "
" ohh ... kalo bola mataku sengaja aku tutup agar tidak ada yang tahu " lalu queenara melepaskan softlens nya yang berwarna coklat.
terpang pang lah warna bola mata nya yang berwana biru ke abuan
" itu milik Voorouder " ucap Edwin. sedang Eliza masih berperang dalam hatinya, ada gemuruh bahagia di dalam hatinya tapi ada juga yang merasa takut jika ada yang mengetahuinya
" kak El" suara lirih milik Edwin menyadarkan Eliza dari rasa terkejutnya
" benarkah itu kamu " masih dengan ragu nya Eliza berkata
" itu terserah kalian. percaya atau tidak " mengedikan bahunya
tiba tiba Eliza langsung menghambur pada tubuh queenara yang masih duduk anteng bersandar di sofa . di kejutkan dengan tingkah Eliza yang memeluk tubuh nya yang begitu erat
" ini benar kamu " di sela sela pelukannya terdengar suara tangis yang sudah sesegukan itu adalah suara tangis milik Eliza
" terima kasih tuhan. kau sudah mempermudahkan kami untuk bertemu. " ucapnya lirih tapi masih di dengar oleh queenara
queenara pun membalas pelukannya yang entah tidak tahu, begitu ia merasakan perasaan yang entah seperti apa tidak bisa di jabarkan dengan kata kata. tidak seperti saat bertemu dengan queenira yang notabene nya adalah kembarannya. sedang orang yang di peluknya adalah keturunan dari para moyang yang mengharuskan bersatu
__ADS_1