
Dua orang pria yang berbeda generasi hanya mampu menahan tangannya agar tidak sampai mencubit pipinya yang chubby itu
" Ara,,,"
sedangkan orang yang di panggil hanya memperlihatkan deretan gigi putih nya dengan cengiran yang khas pada gigi ginsulnya
" sejak kapan Ara tahu, bahwa Ara selalu di awasi"
tangannya memegang dagu seolah sedang berfikir sejak kapan mengetahui nya, tapi jawabannya tidak lah tepat
" lupa " dengan cengirannya sangkin lama berfikir tapi malah memberi jawaban lupa, semua orang yang berkumpul hanya menepuk kening dan geleng kepala
" kumat " ucap Demian pelan, hingga tidak ada yang mendengarnya
tiba tiba seorang pelayan datang dengan nafas yang memburu karena habis berlari,
HOSs.
hoss
hoss
" permisi tuan, nyonya, tuan muda, nona muda" sambil mengatur pernafasan sangkin buru burunya
" kenapa kamu berlari, apa ada hantu" nyonya sland bertanya
" tidak nyonya, maaf jika saya lancang"
" ada apa"
" itu,, anu Nya, "
" itu anu apa " nyonya sland sudah tidak sabar
" eehh,,, itu nya, orang yang di bawa nona pingsan"
" siapa" tuan sland bertanya dengan santainya, sedangkan queenara sudah terlihat khawatir, meski tertutupi raut wajah datarnya
" o_ orang yang di bawa no_ nona tuan" dengan gugup menjawab sangkin takut pada tuannya yang diam diam mengerikan
" dimana sekarang dia"
" di bawa sama pengawal ke tempat kesehatan non"
" kamu boleh pergi"
" terima kasih tuan"
pembantu itu pun mengundurkan diri, kembali ketempat di mana dia bekerja,
" hah, merepotkan sekali"
__ADS_1
" kakak,,,"
" he he he" Demian tak berani jika sang adik angkat marah, bisa bisa di diemin
" Ara ke ruang kesehatan dulu dad , mom"
"heemm, "
" kalo Ara cape, besok saja sayang" nyonya sland menimpali
" tidak apa apa kok mom" tersenyum pada mommy nya,
Ara bangun dari duduknya menghampiri pasangan suami istri yang sedang duduk berdampingan , mengecup pipi pasangan tersebut
" Ara yakin"
" iya mom, tenang aja,Ara kuat kok"
cup
cup
" Daddy gak di kasih" iri melihat istrinya dapat kecupan dari putrinya
"Daddy kaya anak kecil , ikut ikutan aja, giliran di cium Ama Mian aja gak mau, malah langsung cuci muka" dengus Demian
" iri ,, bilang ,, "
sedangkan dua wanita yang berbeda generasi tertawa melihat tingkah Demian tidak kalah jauh dari tuan sland
" sudah, sudah perut mommy sakit ha ha ha" melerai dan masih menertawakan nya
sedangkan Ara sudah kembali duduk di samping nyonya sland dengan tawany
" ha ha ha, kasian kak mian, sini sini Ama Ara" merentang kan kedua tangannya untuk memeluk Demian
" gak mau, !?" lantas Demian bangun dari duduk nya menuju Ara,
grepp
" eh, " Ara kaget di saat tawanya belum selesai Demian sudah berada dalam tubuh kecilnya,
" tadi bilang gak mau, kok nyamperin"
" gak mau nolak kalo sama kamu " dengan gemesnya Demian hingga pipinya Ara di cubit sampai memerah
" kakak" rengek queenara," sakit tau" menggembung kan pipinya
"makanya punya pipi jangan begini, jadi gemes tau" ih"
" ayo, " Demian menarik tangan queenara
__ADS_1
" ayo kemana ka"
" ke kuburan"
" siapa yang mati kak" dengan kaget langsung berdiri dan menarik Demian ,
dua orang yang sedang duduk santai menggeleng kepala sangkin gregetnya sama anak angkatnya,
kadang pelupa, konyol, unik bagi mereka yang mengetahui sikap dan sifatnya
,,,
di sebuah ruangan kesehatan terbaring lah seorang gadis dengan keadaan yang sudah lemah di tempat tidur yang lumayan luas bisa buat tidur tiga atau empat orangan,
hidung yang di pasang selang oksigen, tangan di tusuk jarum infus, dada yang di pasang berbagai kabel untuk di hubungkan dengan monitor
keadaan yang sungguh lemah, di saat keluar dari tahanan pun hanya bisa menahan diri agar tetap bisa kuat dan stabil , tapi setelah datang di tempat seperti istana bawah tanah pun, ia masih mempertahankan kesadarannya agar tidak membuat wanita paruh baya itu khawatir, tapi keadaan berkata lain, dia sudah tidak sanggup menahan kesadarannya, hingga ambruk di dalam ruang ganti seorang diri,
" bagaimana ini" wanita paruh baya dengan pakaian yang sudah bersih dan rapi, tidak seperti orang jalanan memakai baju compang camping dan lusuh
" sabar Bu, mungkin kakak cape" Ardi menenangkan wanita tua itu
" jika terjadi sesuatu dengan nya bagaimana di" dengan cemas memegang tangan Ardi yang mungil agar ada ya g bisa menguatkannya
" mungkin orang yang menolong kita bisa membatunya bu"
" Hem,, semoga saja" dengan penuh harap
Queenara yang sudah berada di balik pintu hanya mampu mendengarkan hingga tak terasa air mata mengalir begitu saja
" kenapa bibi lupain aku bi" dengan penuh air mata sudah membanjiri pipinya yang chubby" kenapa hanya dia yang paling di sayangin " menghapus air mata dengan kasar lalu berbalik menuju kamar nya agar tidak ketara jika dia seusai menangis
sesampai di kamar dan mengunci diri di dalamnya queenara langsung menghantam tembok serta kaca di dalam kamarnya
bugh
bugh
bugh
praaang
praaang
" aaaakkhhh" teriak nya dalam kamar,
" kenapa aku harus hidup, kenapa!!!"
" jika tidak menginginkan ku kenapa tidak kalian bunuh aku, kenapa!!?"
luluh sudah pertahanan apa yang selama ini di pendamnya dengan keceriaan dan kekonyolannya, sekarang hanya gadis yang rapuh akan kekecewaan nya terhadap keluarga yang telah membuat nya sakit tak berdarah
__ADS_1
bersambung