Putri Yang Hilang

Putri Yang Hilang
#37


__ADS_3

Memang di bilang pilih kasih iya, Queenara sampai ingin menjadi kakaknya saja meski penyakitan tapi di sayang orang tua nya. sedangkan dia sendiri tidak di sayang selalu di acuhkan oleh kedua orangtuanya


sarapan bersama pun telah usai semua orang beraktivitas seperti biasa, sedangkan wanita tua dan anak kecil yang berdampingan duduk di ruang kesehatan


" apa gak sebaiknya ibu istirahat. ibu terlihat lelah" Ardi berkata agar ibunya mau beristirahat meski sebentar


" ibu ingin melihat kakakmu membuka matanya, Ardi?"


" tapi kita gak tau Bu, kapan kakak akan bangun dari tidurnya, sudah dua hari kakak gak sadarkan diri Bu"


" ibu hanya khawatir padanya"


" ibu tidak mengkhawatirkan diri ibu sendiri,?? Bu Ardi memang bukan anak ibu, kak nira juga bukan kakak Ardi, tapi Ardi hanya punya kalian Bu, jadi Ardi mohon Bu, istirahatkan badan ibu buat Ardi ya" anak yang baru berusia sepuluh tahun itu memberi kata yang menyentuh hati wanita tua tersebut


" baik lah, tapi ibu istirahat di samping kakakmu ya "


" mmhh" Ardi hanya mengangguk, wanita tua itu pun menaiki kasur yang di tempati majikannya yang sudah di anggap anak,


" ibu tidur dulu " dengan perlahan memanjat ranjang yang sudah berisikan seorang gadis yang terbaring dengan lemahnya,


setelah sarapan pagi mereka tidak sempat untuk beristirahat barang sejenak , mereka hanya ingin menemani seorang gadis yang terbaring lemah di kasur empuknya


Ardi membenarkan selimut yang di pakai oleh ibu nya untuk menutupi tubuh hingga dada, Ardi pun duduk kembali setelah merapikan selimut ibunya ,duduk di kursi sofa yang tidak jauh dari ranjang


" apa kakak akan seperti ini terus " dengan suara paraunya berbicara pada dirinya sendiri


sedangkan di balik pintu ruang kesehatan ada seorang gadis cantik yang melihat pemandangan di mana Mereka bisa saling menjaga meski bukan keluarganya, ia pun mengingat sosok dua orang yang selalu setia menemaninya di saat sedih dan takutnya


sosok dua orang tersebut adalah Dwi pranata dan juga Sinta pranata, sepasang suami istri yang tidak bisa memiliki seorang anak karena minim nya kehamilan bagi Sinta, Dwi pun menemukan queenara di pinggir jalan dan membawanya pulng kerumahnya


di situlah kebahagiaan Queenara, meski dia bukan anak kandungnya tapi di urus seperti anaknya sendiri hingga menjadi gadis yang menginjak masa dewasanya,


buliran air mata pun jatuh begitu saja , ketika melihat apa yang di lakukan oleh Ardi terhadap sosok dua wanita berbeda generasi

__ADS_1


" lebih baik aku kembali ke kota M, sebelum mama mengomel," ingin rasanya Queenara pergi dari ruangan itu, tapi kaki tidak bisa di ajak kompromi, melainkan merasa betah berdiri di balik pintu kamar ruang kesehatan


dua penjaga yang berjaga tidak jauh dari ruang tersebut merasa iba pada nonanya yang kadang menangis sendiri, kacang ketawa sendiri, senyum sendiri,


mereka yang bekerja di keluarga sland sudah mengetahui nya bahwa nona bukanlah anak dari nyonya sland yang tidak mengetahuinya adalah dunia luar bahwa nona Queenara sland sudah menyandang nama tersebut saat ia di tolong oleh Demian dan juga tuan sland tua, semua pengawal pun tunduk padanya


Queenara pun akhirnya berjalan masuk kedalam ruangan tersebut


ceklek


ciiit


suara pintu yang terbuat dari bahan yang bagus terbuka lebar oleh gadis yang sedari tadi berdiri di balik pintunya


" permisi " queenara sudah menghapus air mata nya , dan kini memasang wajah polos tanpa sadar, melirik kanan kiri melihat orang yang sedari tadi Nara lihat sudah ikut terlelap di kursi


" huh , syukur kalo dia juga istirahat" berjalan mendekati ranjang yang di tempati gadis lemah


" Nara hanya ingin kita kembali kumpul, jangan ada yang berpisah lagi ,, hiks ,,?"


" Nara janji, Nara bakal nurut dan jagain kakak, Nara gak akan teledor lagi seperti dulu kak, maafin Ara ka" dengan tangis yang ia tahan, agar tidak membangunkan tiga orang yang sedang terlelap


tapi tidak dengan gadis yang di pegang oleh Queenara, gadis itu mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan kondisi, dan mengumpulkan nyawanya yang sudah dua hari tidak sadar dari pingsannya


" eemmm, " belum juga lama ia duduk dan meluapkan kesedihannya, kini di kejutkan oleh suara seorang gadis yang sedang di genggaman tangannya


" siapa kamu, "


" a_aku a_ku" tidak bisa menjawab dengan benar sangkin gugupnya ia tidak bisa menghindar, mata biru ke abuan itu melirik orang yang ada di atas kasur


" aku apa, siapa kamu, Kenapa kamu menangis, " dengan suara lirihnya gadis yang masih terbaring di atas ranjang, queenira


" hmm " dengan ******* pelan , Nara mengumpulkan keberanian nya untuk mengatakan siapa dirinya

__ADS_1


" k_kak Ira " dengan mata yang sudah berkaca-kaca kembali, kini nira lah yang heran, siapa gadis yang berada di depannya ini '


" hoaaaah, eh, " melihat kakaknya sudah sadar, Ardi berjalan menghampirinya," kakak sudah sadar "


" memang kakak kenapa Ar,," dengan mata teduhnya memandang anak yang menghampiri nya


" tidak ap, eh kok kalian sama ya " belum juga selesai berbicara Ardi malah mengalihkan pembicaraan nya sendiri kala melihat wajah queenara yang sangat mirip, cuma berbeda warna mata nya


" kakak pakai lensa apa, bagus banget. " dengan sedikit antusias saat melihat bola mata Nara,


" tida pakai apa pun "


" apa ,,!" dengan teriakan yang lumayan kencang, membuat wanita yang berada di samping nira pun bangun


" ada apa Ardi , kenapa kamu berteriak, kakak kamu masih istirahat " belum membuka matanya wanita tersebut memberi peringatan pada Ardi


" eh , ibu,, "


he he he


dengan cengiran yang di buatnya, agar tidak dapat Omelan dari ibunya


" kamu itu kebias,,, " belum melanjutkan perkataannya wanita tua itu terkejut dengan kehadiran dua gadis dengan wajah yang mirip, satu memiliki bola mata coklat dan wajah tirus badan kurus kering, sedangkan yang sedang duduk di kursi pinggi ranjang sama persis dengan gadis yang masih setengah menidurkan badannya, gadis yang duduk dengan wajah yang bulat, pipi yang chubby mata yang agak sipit dan bola matanya, berwarna biru ke abuan


" no_ nona " dengan air mata yang sudah mengalir di pipiny memanggil Gadis yang berpipi chubby


Queenara hanya tersenyum lembut pada wanita tua yang setia menemani kakaknya hingga sekarang


" iya, ini queenara " dengan senyum manisnya membalas ucapan wanita tua tersebut


" ya ampun, non Ara hiks hiks maaf kan bibi non " mereka berpelukan melepas rindu nya yang sudah lima belas tahun terpisah kini di pertemukan kembali dengan keadaan yang memprihatinkan


bersambung

__ADS_1


__ADS_2