
Orang tersebut pun tersungkur dan mengeluarkan darah dari mulutnya , sangkin keras tendangan Nara hingga orang tersebut pun perlahan menghentikan nafasnya
dua orang yang melihat kejadian tersebut tidak mampu mengatakan apapun , hanya keringat dingin yang membanjiri dahi mereka saat melihat tendangan yang menewaskan temannya
" aam_puni ka _ mi no_ na" berkata dengan gugup sangkin takut pada orang yang ada di depannya , yang satu memegang pedang panjang, yang satu lagi tidak memakai senjata apapun tapi bisa mengalahkan teman teman nya
" akan saya ampuni"
" teerima kasih " satu orang bersujud meminta ampun, sedangkan yang satunya meringis kesakitan menahan sakit yang luar biasa karena tebasan oleh pedang , wajah yang pucat sangkin banyaknya mengeluarkan darah
" dengan syarat"
deg ,,orang yang tadi mengiba ampunan pada seorang gadis yang berada di hadapannya pun merasa terkejut dan takut saat melihat pandangan mata yang begitu gelap bola matanya, seakan ingin menerkamnya keringat mengucur dari dahinya
" sya rat a pa nno nna" dengan gugup menjawabnya
" tidak sulit kok" Nara berjalan menuju orang yang sedang duduk menyender di pohon dengan tangan terluka,
Nara mengeluarkan pisau kecilnya untuk di pakai membunuh orang yang sedang duduk terengah-engah karena kehabisan banyak darah.
Nara sampai di hadapannya dan berjongkok dengan kaki satu untuk menopang tangannya
" heh,, menyeringai " telpon ketua kalian," sambil mengangkat dagu orang tersebut dengan pisaunya hingga darah menetes dari pisau yang ada di dagunya, tapi tidak di lakukan oleh orang tersebut di saat menyuruh untuk menghubungi ketua nya, sedangkan ponselnya jauh dari jangkauannya sehingga tidak sanggup untuk melangkah mengambil ponsel
" aaa_ mmp_un " dengan sisa nafasnya
Nara masih melanjutkan bermain di wajah orang yang sudah ketakutan
sreeeeeet
sreeeeeet
sayatan yang dibikin Nara pada pipi orang tersebut dengan gambar silang
" hmmm baik lah" Nara pun bangun , dan mengisyaratkan pada pengawalnya lewat tatapannya untuk membunuh
__ADS_1
Rai pun memahami perintah sang tuannya dan langsung berjalan menuju orang yang ada di belakang tuannya
Rai memegang pedang panjangnya dengan senyum puas karena pedang kesayangannya telah memakan banyak darah
" ucap selamat tinggal" setelah mengucapkan kata tersebut langsung melayangkan pedangnya, satu kepala pun menggelinding dengan wajah yang sudah Pucat kurang darah.
tinggal satu orang yang akan mengantarkan jalan menuju di mana para tahanan yang lain
" jalan " ucap Nara dengan dingin
orang yang bersujud meminta ampun pun bangun setelah terkejut di saat teman teman nya sudah tidak bernyawa semua, hanya dirinya yang masih hidup hanya kelelahan yang dirasakan nya
" bb_aaik " langsung berdiri dan berjalan lebih dulu untuk mengomando jalan menuju di mana para tahanan
sedangkan Rai membereskan kekacauan yang di buatnya, Rai membersihkan para mayat dan di kumpulkan untuk menghilangkan jejak
setelah terkumpul, Rai memanggil beberapa kawanannya untuk membantu dan membakar habis para mayat agar sang ketua dari tregek dan Doppler tidak mencari informasi lebih
dua orang berbeda jenis berjalan melewati Lorong lorong yang sepi dan jauh, banyaknya belokan yang ada di tempat tersebut untuk menuju kesebuah tempat di mana para tawanan di tahan
samar samar Nara mendengar suara tangisan yang pilu dan menyebut nama seseorang yang sudah lama tidak di dengar dan melihatnya
" bi iyoh tolong ,aku takut bi"
degh saat mendengar nama bi iyoh Nara termenung dan mengingat lima belas tahun ia sudah tidak pernah memanggil nama itu lagi dan mendengarnya setelah kejadian hilangnya queenira , bi iyoh pun ikut menghilang
" berapa yang di Taiwan oleh ketuamu" ucap dingin Nara, matanya tak bisa mengalihkan dari pandangan orang yang sedang menangis
" ad sekitar lima puluh orang nona" menjawab dengan menundukan kepalannya karena takut jika salah nyawa yang melayang
"hmm" manggut-manggut " bebaskan para gadis"
sedangkan orang yang di suruh untuk membebaskan para gadis pun terdiam
" kenapa!"
__ADS_1
" maaf nona, saya tidak berani membebaskan nya"
Nara mengangkat alis sebelah, merasa bingung kenapa tidak bisa membebaskan
" langsung saja"
" kunci para tahanan gadis di pegang oleh asisten tuan tregek nona"
Nara hanya mengangguk tanda mengerti
" oke " Nara berjalan menuju para tahanan gadis yang satu tempat dua orang, ada enam sel yang Terisi oleh tahanan,
Nara mengeluarkan alat dari balik sepatu boot nya yang biasa ia pakai untuk membuka gembok yang tidak ada kuncinya.
alat itu khusus tidak satu orang pun yang memilikinya,
hingga di gerbang sel terakhir yang berada paling pojok Nara melihat jelas dua gadis yang berbeda, yang sedang menangis memiliki wajah yang sama persis dengan queenara bedanya wajah itu sangat lah tirus dan tubuh nya kurus kering wajahnya bengkak karena terlalu banyak menangis
" kak nira " ucapnya lirih
Nara kembali dalam mode dinginnya dan berkata pada anak buah musuhnya,
" saya akan membawa dua gadis ini"
" tapi nona, tuan tregek nanti akan sangat murka, jika mengetahui para gadis di bebaskan" ucap nya masih memiliki rasa takut terhadap ketuanya
" apa alasannya"
" mereka adalah pemuas ranjang tuan nona" menunduk takut
" suruh dia datang di perbatasan"
Nara menghampiri dua gadis yang tidak tahu bahwa mereka sudah di bebaskan oleh orang yang menolongnya,
" kalian ikut saya" dua gadis itu pun terkejut dan kaget saat melihat ada suara perempuan menyuruhnya untuk ikut, mereka merasa takut hingga tubuh mereka pun terlihat bergetar
__ADS_1
bersambung