
" kau masuk , jaga adikmu dengan benar, aku akan mengemudi "
" terima kasih tuan " dengan suara yang bergetar mengucapkan kata terimakasih pada Rai,
mobil tersebut langsung melaju saja tanpa tau ia akan pergi ke rumah sakit yang mana, yang ada di pikiran Rai adalah keselamatan anak yang berada di pangkuan gadis yang masih menangis
" tolong cepat tuan . hiks hiks selamatkan adik saya " masih dengan tersedu-sedu menangisi sang adik yang bernasib malang, tidak sengaja ingin menyebrang jalan ketika dirinya melihat ada mainan kecil yang berada di sebrang jalanan
saat ponsel berdering Rai lang sing mengangkat nya dengan wajah yang sedikit panik dan khawatir tapi hanya dalam benaknya, sedang wajahnya menampilkan wajah datar dan dingin
" iya tuan "
" kau ikuti instruksi ku, di depan ada gang kecil belok ke kiri, "
" baik "
setelah melihat ada gang kecil yang berada di depannya Rai langsung membelokannya dan masih mengikuti instruksi dari sang tuannya,.
" belok kanan "
sedang Nara yang masih mengikuti Rai dengan mobil Avanza Veloz milik Tristan . Nara memang mengetahui daerah daerah yang sering ia datangi ketika dulu masih resmi menjadi komandan di kota Z, seorang gadis remaja yang di angkat menjadi komandan dan resmi saat masih berusia dua belas tahun
" jalan terus, saat kau melihat ada bangunan tua, bawa masuk ke lantai dasar "
Rai masih mengemudi dengan baik sambil mendengarkan intrusi dari sang tuan menuju rumah sakit. tapi Rai bingung dengan apa yang di katakan oleh Nara sang tua, memasuki gedung tua. dan saat melihat gedung tua tersebut langsung saja Rai mempercepat lajunya, dan benar saja ketika sampai di lantai dasar yang entah siapa yang sudah membuat tempat tersebut terkesan menyeramkan bagi orang yang tidak mengetahui nya
" kenpa kita di sini tuan " gadis yang menangis kini tersadar kala mobil sudah berhenti di sebuah lantai paling dasar di dalam gedung tersebut,
mobil yang berada di belakan pun menyorot sempurna pada sekitar gedung, Nara keluar dari dalam mobil dan menepuk tangannya dua kali. keluar dua orang pria berbaju putih dan dua orang wanita perawat
" bawa anak itu "
" baik queen" jawab mereka dengan tenang, pasalnya sudah bertahun tahun lamanya sang queen tidak menampakan dirinya lagi, hanya melalui alat canggih untuk bisa terhubung dengan sang queen
empat orang yang dua seorang dokter dan dua wanita perawat, jangan di salahkan mereka dengan profesi yang menjadi perawat dan dokter, profesi tersebut hanya lah untuk menutupi pekerjaan yang sesungguhnya dari dunia luar
__ADS_1
empat orang mendorong brangkar yang berisikan anak kecil yang masih berusia tujuh tahun, yang di mana dengan malangnya ia di tabrak lari oleh orang yang tidak di kenal, dan dua adik kakak tersebut adalah anak yatim piatu tanpa orang tua, dan menjadi pemulung untuk menyambung hidupnya
gadis yang masih sesenggukan tidak kuat lagi dan akhirnya pun tumbang tak sadarkan diri
" cih, merepotkan " ucap Rai , langsung menggendong gadis tersebut dan mengikuti empat orang yang langsung menuju ruang ICU .
gedung tua peninggalan orang dulu yang sudah tidak sanggup menopang kehidupannya yang sebatang kara tanpa sanak saudara, kini di jadikan tempat rumah sakit oleh Nara tanpa ada orang yang tahu siapa pemilik rumah sakit tersebut, dan hanya orang yang bekerja dengannya lah yang mengetahui siapa tuan mereka , dan yang datang pun hanya kalangan orang bawah tanah yang mengetahui tempat tersebut, bahkan musuh pun pernah memasuki rumah sakit tersebut. rumah sakit yang di beri nama RP saja,
Tristan baru tersadar saat dirinya memasuki gedung tua yang di anggap sebagian orang rumah angker yang tidak ada yang berani membelinya, tapi setelah dirinya melihat di dalam gedung tua yang seperti rumah gedong dengan tatanan yang seperti orang di zaman dulu, tapi masih kokoh berdiri dengan kuatnya gedung tersebut
" Ar, bukan kah ini gedung angker yang sering di sebut orang orang " tanya Tristan pada Nara,
" ini memang gedung tua yang sebenarnya sudah tidak layak huni, tapi orang tua itu menginginkan aku menghuninya
"
" siapa " tanya Tristan dengan keponya kini sudah menghadap pada Nara
" apa apa an sil kamu " menonyor kepala Tristan kala tepat berada di depannya untuk menunggu cerita kelanjutannya
" kan hanya ingin tahu "
seru Nara , lalu meninggalkan Tristan seorang diri
" tunggu Ar !!" teriak Tristan saat Nara sudah berada di kejauhan
" sial , masih sama saja tuh bocah !!" rutuknya sambil berjalan menyusuri ruangan demi ruangan untuk mencapai ruang ICU yang tidak jau dari laboratorium
setelah sampai, Nara melihat Lea Lei hanya memandangi pintu ICU sedang Rai tidak ada entah kemana itu bocah satu . cuma si penulis yang tahu kemana si Rai.
" EA ei, "
" y ka " jawab mereka dengan kompak, saat Nara melihat bola mata mereka agak merah ia bertanya pada si kembar
" ada apa dengan kalian , kembar ! "
__ADS_1
si kembar menggeleng dan menunduk kembali tapi mata masih melirik pintu ruang ICU, Nara pun bingung ada apa dengan air kembar kenapa memandangi pintu ruang an tersebut
" hah, " Nara menghela pelan " apa kalian lelah " berjalan menuju di mana si kembar duduk
" tidak kak "
" lalu "
" kami hanya kasihan melihat anak kecil itu kak " Lei sang adik yang tidak sanggup membendung kesedihan kala melihat ada anak kecil tertabrak mobil dan orang itu tidak bertanggung jawab malah kabur begitu saja,
" tidak apa apa , kita berdoa saja, semoga adik kecil itu baik baik saja " wajah Nara pun mulai luluh untuk membuat si kembar tidak merasakan perasaan seperti dulu
" kalian lelah ," Lei yang ada di pangkuan Nara masih sesenggukan, sedang Lea si kakak dari Lei hanya berdiri saja tanpa mau ikut gabung duduk bersama
dari jarak yang tidak jau seorang berlari dengan nafas yang ngos ongsan dengan keringat mengucur di dahinya
" kamu kenapa "
" hah hah hah , ada air "
" tidak ada, kalau mau ke dapur sana " memilih mengabaikan Tristan yang masih mengatur nafasnya kala tadi lari seperti orang di kejar kejar setan
" kakak ini kenapa" tanya Lea
" ta tadi, hah hah , salah ruangan " mengatakan salah ruangan Nara mengernyit heran
" kok bisa salah ruangan kak"
" aku tidak tahu, aku pikir tuh tuh masuk kesana jadi aku ikut masuk," sambil memonyongkan bibirnya menunjuk pada Nara
sedang gadis yang di tunjuk merasa tak terima jika di salahkan tanpa sebabnya
" kenapa kamu monyong ke aku "
" tadi aku berlari mengejarmu, tapi aku melihat siluet kamu masuk ruang yang banyak mayat tanpa bentuk yang utuh "
__ADS_1
berkata sambil mengatur nafasnya agar tidak terkejut seperti tadi
bersambung