Putri Yang Hilang

Putri Yang Hilang
#45


__ADS_3

Dua orang pemuda tampan dengan pakaian formal berlari menuju ruang lobi yang berada di lantai dasar, sedangkan dirinya ada di lantai sepuluh


hanya untuk seorang Adik yang mereka rindukan kini dua orang pemuda blesteran indo spanyol itu . berlari dari ruang rapat menuju lift pribadi yang biasa para petinggi di perusahaan ini pakai supaya cepat sampai,


" kenapa dengan tuan Willie , dan tuan Liam, kenpa mereka berlari" bisik bisik dari orang yang berbeda ruangan tapi masih bisa melihat orang lewat karena hanya di batasi papan setengah dada, .


" saya juga tidak tahu, mungkin ada hal darurat" timpal karyawan lain


" sudah, lanjutkan lagi kerjanya, Jangan sampai kita lalai lagi "


" baik " ucap serempak orang yang berada di ruang tersebut yang sempat sempatnya berghibah


sudah menunggu lama seorang gadis dan juga seorang wanita tua dan anak berumur sepuluh tahun kini sudah mulai mengeluh di dalam mobil,


mereka menunggu lama sudah hampir satu jam lebih tapi tidak ada yang datang kembali, hingga gadis berwajah tirus ingin ber inisiatif sendiri, untuk keluar dari dalam mobil tanpa harus mendengarkan perintah dari sang adik untuk tidak keluar


baru ingin membuka kan pintu sudah di cegah oleh bi Ijah


" non , jangan " dengan suara lembut mencegah nira untuk keluar dari dalam mobil milik Nara


" tapi bi , ini sudah hampir satu jam lebih, "


" dengarkan apa kata non Nara, ini demi keselamatan non nira "


" Hem , baik lah " mendengus kesal , tapi tidak bisa berbuat apa apa, ia menuruti apa yang di ucapkan nya,


" belum juga ketemu bisa bisa aku hilang lagi " pikir nira dalam hati dan mendengus hingga bibi mungilnya maju kedepan


sedangkan Nara masih anteng duduk di kursi tunggu yang di sediakan oleh pihak kantor sehingga ia tidak cape berdiri terus menerus,


melirik jam tangan yang terbuat dari Dior melingkar di lengan kanan Nara dan tidak lupa ia menutupi seluruh kepala nya agar tidak ada yang mengetahuinya,

__ADS_1


Nara mampir ke perusahaan hanya untuk memberitahu bahwa abangnya harus datang di mansion milik keluarga Nugraha, kenpa Nara tidak memakai ponsel, karena ponsel milik Nara tertinggal di markas yang ada di tengah hutan,


ia lupa membawa ponsel yang biasa untuk menghubungi orang orang yang tersayang, sedangkan yang ia bawa adalah ponsel yang di pakai untuk menghubungi para pengawal,


Nara memang ceroboh, sehingga melupakan barangnya yang tertinggal di markas miliknya yang biasa di tempati oleh Bram dan leon kini dia hanya merutuki diri sendiri


" sial, kenpa sampai salah bawa ponsel , huh" dengusnya dan menendang kursi dengan pelan


tak butuh waktu lama sekitar satu jam, setelah berdebat dengan para resepsionis yang tidak mengijinkan masuk, sehingga ada sekretaris abangnya yang kebetulan lewat dan Nara terpaksa memanggilnya dengan Dalih ia ingin bertemu abangnya bernama Willie Nugraha.


sedangkan sekertaris milik abangnya yang memang tidak semua orang mengetahui nama asli milik tuan Willie yang sengaja di sembunyikan . hanya nama depannya yang di pakainya


tepat setelah duduk lama menunggu abangnya yang belum datang datang , kini datang dua orang pria dewasa yang masih memiliki wajah tampan seperti anak remaja sehingga tidak ada yang mengira jika dua lelaki itu sudah berumur tiga puluh tahun lebih,


" hah hah hah, " dua lelaki yang berlarian hanya untuk bertemu orang yang mengaku adik nya, dan benar saja cape mereka terbayar ketika melihat sosok sang Adik yang sedang mondar mandir seperti setrikaan,



" Nara , " liam memanggil dengan suara lirihnya, takut jika ia bukan adiknya, tapi sang Abang memanggilnya dengan suara lantang sehingga para karyawan melihat arah suara


jarak mereka masih sedikit berjauhan sehingga Willie memanggil dengan teriakan, agar sang empu menoleh, benar ? Nara menoleh dengan wajah yang biasa ia pasang, wajah datarnya,



" adek " Willie langsung memeluk Nara, sudah hampir sebulan ia mencari dimana keberadaan nya tidak ketemu,



" kamu dari mana dek, Abang sungguh khawatir terhadapmu" menangkup wajah mungil milik Nara,


__ADS_1


" ish Abang, jangan begini " Nara paling tidak suka jika di pegang seperti itu, bagaikan ia bola yang kapan saja di lemparkan



" he he he maaf, Abang reflek, "



" huh " dengusnya



" kamu dari mana aja dek, "



," kan sudah saya bilang , saya bakal balikin orang yang kalian cari selama lima belas tahun yang lalu " menjawab dengan wajah datar nya



" dek ,,? maafin Abang ya, yang udah kasar sama kamu "



" it's ok, gak apa ko, di bawa santai aja," baru ingin pergi ia mengingat apa tujuan ia mampir ke perusahaan


" oy, kalian harus pulang mansion, saya tunggu di sana untuk makan malam, dan ada kejutan untuk kalian, jangan lupa bawa si Jonatan " setelah mengucapkan apa yang tadi ia ingin bicarakan


dua pria yang hanya mematung melihat kepergian adiknya, belum juga mereka melepas rindu, sudah di tinggal Nara, tapi mereka merasa heran , kenapa mengajak bertemu dan makan malam di mansion, dan ada kejutan untuk nya.


' kejutan apa yang akan di berikan nya' pikir mereka

__ADS_1


" huh, hampir saja aku kelepasan jika aku masih marah sma bang wil, Hem " berjalan melewati resepsionis yang tadi melarangnya masuk, sedangkan resepsionis tidak sengaja melihat orang ia larang melewatinya dan memandang dengan tajam, ia sampai bergidik ngeri dan menunduk kembali


bersambung


__ADS_2