
" hah " menghela nafas nya dengan begitu berat
rencana awal yang ingin berkunjung pada temannya kini malah berbeda tujuannya, entah lah apa yang sebenarnya di inginkan oleh queenara dengan arah tujuan yang berbeda
di tengah malam yang dingin di atas kapal seorang diri , Eliza berjalan menghampiri queenara yang sepertinya sedang melamun, entah lah apa yang d sedang di pikirannya
" queen " Eliza menepuk bahu
" heem " queenara hanya membalas dengan deheman
" apa yang sedang kau pikirkan " ucap Eliza
" tidak ada, hanya rindu orang rumah dan teman " ujarnya
" benarkah, apa kau masih dengan si pengecut itu "
" dia adalah saudaramu kak , " masih dengan wajah biasanya
" ya ya, saudara tidak tau diri, " ucap nya dengan lirih , tapi masih mampir di dengar oleh queenara yang memiliki ketajaman pendengarannya
" dan ini adalah tujuanku, ingin mencari sesuatu " sambil mengeluarkan kalung yang bertengger di leher jenjangnya nya itu
" apa itu " tanya eliza ketika queenara mengeluarkan sesuatu di balik bajunya yang selalu tertutup
" entahlah , nih " menyodorkan benda yang menjadi incaran keturunan cloyeri
" apa !!" Eliza terkejut sampai berteriak kencang, untung saja tidak ada yang mampu mendengarkan nya, jika suara yang di hasilkan oleh Eliza terbawa angin malam yang menghembus di tengah lautan
" ja jadi be benar kamu yang mem punyai ini " ujar Eliza tergagap karena sangkin terkejutnya mengetahui jika benda yang sangat sangat berharga ada di orang yang tepat ,
" itu sudah dari kecil aku memilikinya, hanya saja aku tidak memakainya "
" astaga, " Eliza pun memeluk queenara dengan haru dan bahagia, papi nya gak salah memberikan benda yang berharga ini untuk keturunan cloyeri
" apa saudara yang lain tahu " Eliza bertanya setelah lama memeluk queenara dengan rasa harunya
__ADS_1
" heemm,. tidak ada "jawabnya dengan singkat
" papi benar, benda ini sudah tepat pada pemilik nya, entah apa yang sebenarnya terjadi di kehidupan nya yang lalu, sehingga membuat gadis ini merasa seperti hidup seorang diri " ucap nya dalam hati dengan rasa yang sulit untuk di jabarkan oleh Eliza
**
di sebrang kota yang begitu ramai oleh pengunjung di sebuah restoran mewah bergaya eropa yang terkesan menarik untuk pengunjung
seorang pria dengan wibawa nya yang begitu tampan dan rupawan serta di iringi dua lelaki yang satu adik nya dan yang satu asisten nya
" kak Alek kenapa sih nurutin si wanita gila itu " oceh Arkana sang adik yang begitu mirip dengan kakak nya Alex Ferguson.
Alex yang seorang pria dingin yang hanya berbicara irit sekali kadang tidak berbicara sama sekali, sehingga banyak desas desus yang mengatakan jika Alex tidak mampu berbicara dan tidak ada satu wanita pun yang berani mendekatinya, berbeda dengan Arkana si pria playboy yang sering berganti ganti pasangan,
Arkana yang memiliki kemiripan dengan sang kakak yang hanya membedakannya mata nya, Alek memiliki mata hitam pekat yang mampu membuat orang teriminditasi oleh mata elang milik Alex, sedang Arkana memiliki mata hijau sama seperti adik bungsu nya ,
Alex anak pertama dari keluarga Ferguson, tiga bersaudara, yang memiliki adik perempuan yang begitu susah untuk di atur, tapi cepat tanggap jika ada sesuatu yang tidak beres
" tuan, lebih baik tuan ikuti saja apa yang akan di lakukan oleh tuan Alex "
" kau dan tuan mu itu sama saja stev " dengusnya
" apa apa an ini , huh, dasar wanita kurang belaian " rutuk Arkana dalam hati
" ah, selamat datang tuan Alex , silahkan duduk " seorang pria gendut mempersilakan Alex dan juga yang lainnya
" maafkan saya jika terkesan kurang sopan " dengan cengiran yang di buat agar tidak canggung
" cih, memang kurang sopan " desis Arkana sambil melirik wanita yang kurang bahan, biarpun dia playboy tapi tidak pernah melakukan seperti itu di tempat seperti ruangan atau hotel, Arkana hanya berganti pasangan jika sudah tidak ingin bersama, bukan berarti sang Casanova ya
" molli, kau kembali lah dulu pada tempat mu " ucap pria gendut yang menyuruh wanitanya untuk menyingkir
bangun dari pangkuan pria tersebut dan duduk kembali pada kursi yang memang seharusnya untuk di duduki. dengan gaya centil nya membusungkan buah dada nya pada tiga pria yang ada di hadapannya, Alex dan Steven sang asisten tidak terpengaruh sama sekali hanya memasang wajah datar sedangkan Arkana mendengus sebal,
" tau begini mending gak usah ikut deh " kesalnya pada sang kakak yang masih anteng mendengarkan proposal yang di ajukan oleh pria gendut tersebut.
__ADS_1
" baik tuan Bakrie, tuan saya akan pertimbangkan kembali yang anda ajukan tadi " ucap Steven sang asisten
" oh, baik lah baik lah, semoga bisa di pertimbangkan kembali " dengan wajah yang sudah menahan rasa malu nya, karena apa yang tadi di sampaikan pada tuan Alex serasa masih kurang
" baik, kami permisi kembali tuan Bakrie " Steven berucap untuk mengundurkan diri bersama sang tuannya
baru juga akan bangkit Alex dan Arkana tapi di cegah kembali oleh pria gendut tersebut
" tidak kah tuan tuan untuk tinggal sebentar , untuk makan. siang , " ucapnya agar tidak merasa canggung
" terima kasih tuan Bakrie, kami masih ada urusan yang lain " setelah Arkana mengatakan itu , tiga pria dewasa tersebut langsung keluar dari ruangan tersebut
" ih ,, kakak apa ini, pakai baju seperti gak ada baju lain saja " cerocosnya
" mending jauh kemana mana sama pacar pacar aku "
" sudah " dengan suara yang berhasil membuat seorang Arkana langsung kicep.
" huuh " dengusnya . tapi masih tetap mengikuti sang kakak berjalan menuju mobil yang sudah ada di depan lobi.
" stev, sudah kamu cari "
" mmhh ,, maaf tuan " Steven gugup saat di tanya
" cari kembali, sampai dapat "
Arkana yang sudah ikut naik di mobil kemudi pun langsung melirik sang kakak dari kaca spion
" apa yang kakak cari "
" tidak ada " setelah menjawab Alex membuka laptopnya guna untuk mencari tahu dan meretas semua
" luis Nugraha, " gumam Alex dengan pelan , lalu mencari kembali apa yang ada di depan mata nya.
setelah apa yang di carinya , Alex merasa terkejut, ada dua gadis cantik yang masih dalam gendongan keluarga Nugraha tapi aneh nya, yang lain bermata coklat, sedang yang satu biru,
__ADS_1
foto keluarga Nugraha di saat mereka masih kecil dan belum mengetahui bahwa keluarga mereka sedikit demi sedikit terasa renggang hanya karena pilih kasih dan juga salah orang ,
bersambung