
" maaf kan kami nona, yang sudah lancang " dokter Erin segera beranjak dari kursi dan membungkuk di hadapan queenara sang pemilik R P hospital
" kami hanya ingin memastikan saja nona, dan dugaan kami semua benar benar membuat kami merasa terkejut dengan hasil nya" merasakan hawa yang begitu dingin di sekitar ruangan tersebut
" saya sudah tahu, jadi biar kan saja, lindungi mereka, jangan sampai terjadi sesuatu pada mereka " setelah apa yang ingin dokter tersebut sampaikan adalah hasil dari pemeriksaan yang sengaja mereka lakukan tanpa permisi pada sang pemilik
queenara keluar dari ruangan dokter Erin, sedang kertas yang di tunjukan dokter tersebut ia abaikan di atas meja kerja dokter itu
tap
tap
tap
bunyi suara langkah kaki yang memakai sepatu boots itu menggema di seluruh lobi R P hospital, berdiri di depan lift untuk menuju ruang atas yang sedang di tempatkan oleh saudara nya yang sesungguhnya
Ting
pintu lift terbuka gadis bermata biru ke abuan itu pun masuk dengan tenang ia berdiri seorang diri di dalam lift tersebut. lantai sepuluh gedung paling akhir yang berada di gedung tua tersebut.
padahal gedung itu jika di lihat dari luar hanya lima lantai saja, tapi tidak menutup kemungkinan, jika gedung tersebut ternyata memiliki lantai sampai sepuluh
Ting
bunyi lift terbuka kembali, langkah kaki jenjang milik si gadis bermata biru itu melangkah ke dalam ruang pribadinya
cklek
" selamat datang kembali tuan ku " ucap si robot yang di ubah dan di modifikasi agar mirip seperti manusia untuk mengurus ruangan tersebut
" kerja bagus ladies" menepuk pipi serta kepala robot manusia dengan pelan dan berjalan menuju kamarnya,
" terima kasih tuan ku terimakasih " sambil membungkukkan badannya lalu berjalan mengikuti langkah sang tuannya
setelah sampai kamar, robot manusia itu langsung membantu queenara membukakan baju tuan nya dan membuat air hangat untuk nya mandi,
" terimakasih" ucap queenara meski pun itu seorang robot, jika pun membantu apa yang di kerjakan nya, ia mengucapkan terima kasih
" sama sama tuan " membungkuk patuh
di lain tempat di mana beberapa orang sudah merasa takut dan gugup pada sosok orang yang berada di hadapan mereka,
**
" jadi selama ini kalian tinggal di hutan belantara ini untuk membuat rumah persembunyian " seorang pria yang sudah setengah baya, sudah mengintruksi beberapa orang yang ia temukan di dalam hutan yang di kira dirinya tidak akan ada orang lain,
yang sedang di dalam otak dan pikiran orang tersebut mengapa mereka bersembunyi ada maksud apa,??
" sudah pah. mungkin mereka hanya ingin memiliki rumah di hutan ini, " ucap Sinta sang istri untuk menyuruh sang suami untuk berhenti memojokkan empat orang berbeda gender
__ADS_1
ya,,, dua orang wanita dan ya orang pria yang sedang di ceramahi oleh seorang pria paruh baya yang di temukan oleh si biang kerok Leon.
" gimana ini, " ucap lussy mengikut lengan Alexa dan juga Bram yang berada di posisi dirinya ada di tengah
" aku juga bingung, nona ajj gk bisa di hubungi sudah berkali kali " jawab Alexa berbisik kembali
" sedang apa kalian hah " sentak Dwi,
" ti tidak tuan " ucap mereka kompak
" hufh.. sungguh menegangkan jika sedang berhadapan dengan orang tua angkat nona, ini semua gara gara si kupret,! coba ajj gk ketahuan, pasti gk bakalan begini suasana ruangan, iihhh " ucap lussy dalam hati sambil merutuki apa yang Leon lakukan dan bergidik sediri
" kau kenapa " ucap Dwi pada lussy yang bergidik tidak jelas,
" ah !! ti tidak a apa apa tuan . hanya ingin buang air kecil " ucapnya
" ya sudah sama buang, jangan di tahan, nanti jadi penyakit"
" te terima kasih nyonya"
lussy tidak menyia nyiakan kesempatan itu untuk keluar dari ruangan tersebut untuk sementara
untung di dalam rumah hutan tersebut tidak di miliki oleh beberapa bawahannya queenara langsung, jika itu mereka mungkin lain ceritanya
" sudah pah, kasian mereka sedari tadi berdiri saja, bukanya kita berterima kasih malah memarahi orang " ucap Sinta dengan pelan agar sang suami tidak nyerocos ajj seperti bebek
" baik tuan, " mereka bertiga langsung berlari keluar ruang kamar yang di sediakan oleh Bram yang memang langsung menyuruh dua orang paruh baya itu memasuki kamar tamu, tapi lain dari pikiran Bram dan pria paruh baya yang dimana pria tersebut adalah ayah angkat sang tuannya
ketika sudah berada di ambang pintu kamarnya, mereka di kejutkan jika mereka juga harus ikut masuk, tidak ingin membuat menunggu lama Bram langsung empat orang berbeda gender langsung menuruti nya, masuk ke dalam kamar
setelah menuruti malah mereka di suguhkan dengan ocehan ocehan yang tidak jelas oleh Dwi, sedang Sinta sudah kelelahan dan hanya Diam dan duduk manis di atas sofa panjang
" hufh.. untung kita bisa keluar dari kamar itu " ucap Leon.
" semua juga karna kamu bodoh" Bram menonyor kepala Leon
" lah kok aku sih " merasa dirinya di salahkan
" ya iya lah kamu, karena kamu keluar tidak bisa jalan pelan " Bram juga tidak mau kalah
" sudah sudah !! kenapa jadi berantem gini sih " lerai Alexa
" ini anak satu kemana lagi perginya hah ?" tanya Alexa mencari lussy yang tak kunjung datang
Meraka berada di ruang bawah tanah, sedang lussy sedang di dalam kamar mandi . mencoba keberuntungan untuk menghubungi sang tuan
" ini kemana lagi sih. kenapa susah sekali di hubungi nya " menekan nomor orang yang akan lussy hubungi.
Tut
__ADS_1
Tut
Tut
" heran deh, kenpa pada gk ada yang aktif. perasaan ini udah centang biru " tidak ingin membuang waktu lama lussy masih menghubungi beberapa orang yang berada di sekitar tuannya, tapi tidak ada jawaban sekali pun
" CK CK CK , gini amat sih nasib bawahan , serasa gak ada tempat untuk berbagi keluh " mendramatis sendiri di dalam kamar mandi
" sudah lah, biar kan saja,lagian angel.. angel!! " merasa kesal sendiri akhirnya keluar kekamar mandi
baru sampai di hadapan kamar yang di huni dua orang tua Nara, yang sudah di tutup kini lussy menghubungi Alexa
" kamu di mana "
" di bawah " jawab singkat
" oke '
lussy langsung berjalan menuju ruang bawah tanah yang di desain se apik mungkin oleh queenara agar orang yang mengetahui tempat tersebut tidak mengetahui letak di mana ruang menuju bawah tanah
setelah perginya empat orang yang sudah di ceramahi ya kini pria tersebut duduk di samping sang istri
" papah cuma heran ajj mah, kenpa malah mereka diam saja di saat papah menceramahi nya "
" mungkin mereka hanya menghargai orang tua "
" mungkin saja sayang, " mengelus pipi sang istri" kamu istirahat ajj, kaki kamu kecapean dan lihat, semua pada lecet "
Sinta menepuk keningnya, baru juga selesai ngomng kini balik lagi
" lagian si mamah sudah papah kasih tahu, udah gak usah masuk kesini, " berdiri hendak mencari kotak obat p3k untuk mengobati sang istri yang terluka karena goresan dari sepatu yang di pakainya dan ada goresan seperti terkena kayu kecil
masih mencari kotak tersebut hingga ketemu di lemari kecil yang berada di samping ranjangnya
" ketemu " berjalan ke arah sang istri di mana duduknya . dengan telaten mengobatinya
" lain kali nurut sama papah "
" iya, aku minta maaf pah " ucap Sinta meminta maaf pada suami nya
tidak terasa selesai mengobati luka sang istri kini mengangkat istrinya ke arah ranjang yang berada di kamar tersebut
" mama istirahat ya, papah akan keluar sebentar "
" papah sini saja " Sinta tidak mau jika suami nya merepotkan orang yang sudah menolong mereka
" baiklah " Dwi melepaskan jas kantornya yang masih menempel di tubuh nya, niat ingin berangkat ke kantor malah di ajak istrinya ke dalam hutan, jadi ya begini tersesat. untung saja ada yang menolong, kalo tidak ada bisa bisa sampai mereka merasa kelaparan dan mati di dalam hutan yang entah ada apa isinya
bersambung
__ADS_1