
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, tanda langit yang sudah begitu sedikit menggelap tanda malam akan datang, tapi para gadis yang masih betah di balik selimut tidak kunjung bangun. apa sebegitu melelahkan perjalanan mereka
cklek
pintu kamar bernuansa abu abu itu terbuka dengan lebar, seseorang gadis keluar dengan memakai pakaian tidurnya yang masih melekat di tubuhnya
" belum mandi " terdengar suara bariton dari samping mengarah padanya
" heemm " mengucek matanya dan berjalan menuju kebawah
" mau kemana "
" ambil minum, haus "
" kenpa tidak mandi terlebih dulu "
" nanti, haus banget, di dalem abis airnya " melanjutkan jalannya menuju dapur
klik
glek
glek
glek
" aaahhhh , segar nya " tersisa sedikit ia menaruh pada wastafel agar tercuci kembali
saat pelayan datang melewati tuannya queenara berkata
" kemana semua orang "
" semua ada di paviliun belakang nona, dan untuk nona Eliza dan tuan Edwin masih berada di kamar masing masing "
" oohh nanti bangunkan mereka suruh untuk makan malam nanti , tidak usah memasak, kami akan pergi "
" baik nona "
" kamu mau kemana lagi " Alex yang datang tiba tiba bagai jelangkung
" ih bikin kaget orang ajj " mendengus sebal
" jangan begini , kamu itu hanya tamu tapi lancang "
" benarkah, bukan kah aku ini pria yang kau sukai ".
mata queenara memicing tanda tak suka dengan perkataan nya yang sedari tadi m
" kata siapa " kedua tangannya ia silangkan di perut " jangan terlalu jauh " lalu berjalan pergi meninggalkan Alex seorang diri
sebenarnya queenara pun masih memiliki perasaan yang sama yang dulu pernah ia simpan, dan Memeng sudah mengklaim bahwa Alex adalah milik nya. tapi ada kesalahpahaman yang menjadi kan mereka seperti itu,
( apa ya itu...
ayo ikutin terus ceritanya,meski sedikit kacau ya sobat author
soalnya author baru baru ini bisa update lagi
dukung terus ya novel nya, semoga yang baca suka dan yang GK suka skip ajj. gampang kan. )
__ADS_1
" ada apa dengan gadis ini, " Alex merasa bingung sendiri, entah kesalahan apa yang di buat nya
" tidak , tidak tidak , saya tidak akan kehilangan dia lagi untuk kesekian kali , tidak " Alex bermonolog sendiri dalam pikirannya takut jika gadis nya akan pergi jauh lagi, setelah apa yang di lakukan oleh Alex pasti akan berakhir sia sia
" huhf dasar buaya, manis sekali kalo bicara " ngedumel setelah sampai kamar nya ," awas ajj , gak akan aku biarkan kamu " merasa marah mengingat dulu sebelum melakukan fisi misi di kota Z yang untuk mengeluarkan queenira,
dirinya sempat melihat Alex dengan beberapa wanita yang dengan memakai pakaian kurang bahan itu, sedang membelai belai Alex.
kira kira siapa ya
yok lanjut lagi
" aarrrrggghhh, bikin pusing saja, huh mending mandi, abis itu cabut"
dilain tempat di mana seorang pria tampan dengan wajah penuh dengan kesedihan,, meski di depan adiknya selalu terlihat tegas dan tidak terlihat rona sedihnya, tapi berbeda jika sudah memasuki dunianya sendiri yaitu kamar, tempat ternyaman untuk mengeluh kesahkan hati nya yang sedang gundah gulana
" kapan kamu kembali , kenapa tidak ada kabar dari mu sayang, Abang rindu, rindu kamu, walau ada dia, tapi hati Abang merasa kurang tanpa dirimu dek " pria tersebut adalah wilLie, yang sedang membelai foto figuran yang begitu indah dengan pemandangan di mana semua saudaranya sedang tertawa begitu bahagia saat mengadakan acara
" sungguh, hati Abang tidak menerima jika kamu pergi, Abang hanya ingin kalian , bukan dirinya saja "
Willie merasa bersalah saat mengingat di mana dirinya yang pernah terkena sabetan senjata yang mengakibatkan dirinya terluka, dan mengatakan jika ingin mencari adik nya yang masih hilang, dan di saat itulah sikap dan tingkah adiknya sedikit berbeda, meski masih manja hanya sesekali jika sedang berkumpul, tapi jika mereka hanya berdua akan seperti pagar tembok yang cukup tinggi untuk membuat jarak di antara queenara dan juga wilLie
" maaf kan Abang, maaf jika Abang terlalu egois untuk semua ini , Abang tidak ingin kehilanganmu juga , sudah cukup Abang menahan sedari dulu, "
menangis dengan diam di dalam kamarnya yang kedap suara itu, dengan berakhir tidur memeluk bingkai foto yang masih di pelukannya tanpa melepaskan nya
ke esokan harinya semua penunggu rumah yang begitu baik istana tapi sepi seperti kuburan , hanya sebagian pegawai yang berlalu lalang untuk mencari aktifitas hari harinya
tap
tap
tap
" bi Abang belum bangun "
" kurang tahu den, tadi sudah bibi ketuk pintunya tapi tidak di buka kan pintunya "
" oohhh ya sudah, Jo buru buru ada mata kuliah pagi ini " sambil berjalan memakan roti yang di beri selai saja, padahal masakan sudah tersedia di atas meja
" bibi,, " teriakan queenira yang menggelegar langsung saja membuat para pelayan kocar kacir, karena tahu jika nona nya berteriak akan ada drama yang di buat nya
" bibi ,, " teriak nya kembali " ih kemana sih. nih orang " kesalnya
" i iya non ada apa " sambil mengatur nafasnya karena menaiki anak tangga yang begitu jauh.
" di mana baju aku yang kemaren "
" maaf non , baju seperti apa " dengan menunduk takut
" baju yang aku suruh kalian untuk mencucinya karena kotor "
" maaf non , akan bibi Carikan " pelayan tersebut pun berlari kembali ke ruang di mana yang biasa untuk membereskan baju nya
" aduh, baju apa ya yang di maksud " masih memilah Milah baju yang di maksud oleh queenira
" di mana bajunya "
" bibi udah ketemu belum " teriak kembali
__ADS_1
" aduh , bisa bisa abis nih , " tangannya sudah gemetaran Karana takut dan gugup
" masih pagi kenapa teriak teriak , ini bukan hutan " Liam yang datang ke kamar queenira terkejut melihat banyaknya baju yang berserakan di bawah lantai dan juga ranjang
" apa apaan ini " memelototi queenira
" i itu kak, i Ira kehilangan baju Ira " menunduk takut jika dengan Liam
" apa begini cara kamu jika kehilangan barang , "
" maaf "
" bereskan kembali pakaian kamu itu, " setelah mengatakan itu Liam berlalu dari sana
" iiihhh kenapa sih , kalo sma kak Liam jdi gini " menggerutu " ini kemana lagi baju nya, kok bisa gk ada " queenira merasa bingung mencari baju, entah baju nya tersimpan dimana
Liam pun menuruni tangga , bertepatan dengan suara pintu yang di buka kan oleh wilLie sang Abang, Liam mengeryit ketika melihat wajah lesu abangnya yang tidak begitu semangat
" ada apa dengan bang wilLie, kenapa wajahnya begitu murung dan lingkaran hitam dibawah mata nya , apa Abang tidak tidur ya " bermonolog sendiri sambil menuruni tangga setelah melihat wajah lesu abangnya
" aku harus mencari nya, aku tidak mau jika dia pergi " berjalan menuruni anak tangga sambil berfikir untuk mencari cara agar adik nya bisa kembali
" pagi " setelah sampai meja makan
" pagi " jawab Liam
" dimana Jonatan, " tanya Willie Karana Jonatan tidak ada
" mungkin sudah berangkat , dia. sudah tidak ada di kamarnya "
" hhmmm, baik lah , makan , tapi dimana nira "
" masih di atas, drama "
merasa aneh , entah kenapa semenjak kedatangan queenira , rumah nya begitu ramai jika setiap pagi, pasti ada saja acara yang di buat oleh queenira, yang seperti saat ini kehilangan baju yang di maksud oleh queenira adalah baju jas yang di bawa pulang oleh queenira untuk di bersihkan malah yang di cari sedang di pakai oleh kakak nya wilLie
" ada gk bi baju nya "
" tidak ada non , "
" aduh dimana ya jas itu, kok gk ada, "
baru sampai meja makan queenira terkejut dengan apa yang di pakai oleh abangnya , jas berwarna biru Dongker itu sedang terpasang rapih di tubuhnya
" waduh, kayanya si bibi salah simpan , gimana ngomng nya ya, " mencari cara agar kakak nya melepaskan jas tersebut. jas yang sengaja ingin di kembalikan pada pemilik nya
dengan santainya berjalan menghampiri kakak kakak nya yang sedang makan " pagi semua " dengan senyum manis yang di buat nya, tiba tiba queenira menyenggol gelas yang ada di samping kakak nya
" aduh "
byur
" astaga , kakak maaf, Ira tidak sengaja, kaki Ira sedikit sakit jadi nyenggol . maaf kak, kakak buka ajj jas nya itu udah basah "
Willie pun menuruti membuka jasnya dan memanggil pelayan untuk mengambilkan jasnya di kamar
" sudah tidak apa, itu hanya sedikit basah nya "
" Abang ganti ajj , biar sedikit tapi tetap basah "
__ADS_1
Liam yang masih melihat tingkah laku queenira merasa ada yang aneh, entah lah, sambil mengedikan bahunya
bersambung