Putri Yang Hilang

Putri Yang Hilang
#51


__ADS_3

" Ar,,," masih tidak mampu untuk berbicara hanya memanggil setengah nama saja sudah mampu membuat gadis di seberangnya mengenali suara tersebut


" ada apa "


" ( apa benar ini kamu ) "


" hhmm "


" ( apa bisa kita bertemu ) "


" atur saja kamu, aku masih ngantuk mau tidur, jangan ganggu " lalu mematikannya ponselnya agar tidak di ganggu lagi,


" ternyata si anak cengeng masih nyimpen nomorku " dengan senyum tipis lalu melanjutkan tidurnya yang di ganggu oleh orang yang menelpon


keesokan hari di mana seorang gadis masih betah bergelut di dalam selimut yang menandakan ia tak ingin bangun dari tempat ternyaman nya,


tok


tok


tok


" non , "


tok


tok


tok


" non, sudah di tunggu sama tuan muda " masih betah memanggil orang yang masih betah di alam mimpinya, siapa lagi klo buka Queenara


" eehhgg" ketika mendengar ketokan yang sudah berkali kali, membuat gadis bermata biru keabuan itu pun akhirnya terbangun juga,


" ish,, berisik amat sih " belum juga berkumpul nyawanpya sudah di bikin kesel ajj


cklek


" ada apa " keluar hanya dengan memakai pakaian tidur yang pendek dan baju lengan pendek di tambah lagi rambut yang masih acak acakan kaya singa


" maaf non , sudah di tunggu sama tuan muda dan yang lainnya untuk sarapan, "


" bilang saja , nanti aku nyusul "


" baik non, saya permisi " pelayan tersebut pun mengundurkan diri dari hadapan Nara


" bikin kesel ajj, huh " mendengus dan melemparkan diri ke Karus kembali untuk tidur,


sedangkan di ruang makan sudah terlalu lama menunggu satu orang yang sudah di bilang sering kebiasaan melewatkan sarapan pagi,

__ADS_1


" permisi tuan, "


" hmm "


" kata non Rara katanya nyusul nanti "


" baik , terimakasih bi " ucap Jonatan saat mendengar apa yang di katakan sang pelayan bahwa sang Adik menyusul nanti, berarti adiknya masih mengantuk kemungkinan


" sama sama den, bibi izin undur diri "


" ya Bi " balas Jonatan pada pelayan tersebut dengan senyuman, berbeda dengan kedua kakak nya yang sedikit kaku apa lagi yang bernama Liam, tidak ada raut senyum sama sekali, hanya sang kakak pertama meski harus senyum ketika ada sang adik di dekatnya


" kita sarapan saja, biarkan Nara menyusul nanti kita bisa terlambat ke kantor " ucap wilLie pada adik adik nya yang sudah menepatkan pada kursi masing masing


hanya dentingan sendok yang beradu dengan piring membuat seorang gadis berwajah tirus memandangi wajah satu persatu sang kakak yang menikmati makan dengan khidmat tidak terganggu , hingga lirikan itu mengarah padanya dari kursi yang berada di hadapannya


" kenapa " tanya Liam


";ah, apa " dengan wajah terkagetnya saat mendapat perkataan dari orang yang ada di hadapannya


" kenapa, apa ada yang salah dengan kami " setelah mengetahui sang adik yang telah lama hilang dan sedang memandangi wajah nya dan yang lainnya


" tidak " menggeleng ketika di tanya oleh Liam dan menunduk takut ketika melihat matanya yang menatap tajam padanya, padahal memang Liam orang nya seperti itu


" sudah sudah " lerai Willie pada adik nya, jangan sampai ada yang ribut saat masih di ruang makan


" lanjutkan makan mu, hiraukan saja perkataannya" setelah menengahi sang adik, ia pun selesai makan, dan beranjak dari kursi nya


mengelus kepala nira yang masih duduk anteng di kursinya, sedangkan dua orang sudah pada pergi ke depan,


" jaga baik baik di rumah, bila ingin bertemu dengan bi Ijah ada di paviliun belakang ya "


nira mengangguk patuh pada sang kakak,


" Abang berangkat dulu Ya, hati hati di rumah"


cup


cup


Willie mengecup pipi dan kening sang adik dengan lembut dan hangat,


" kak , "


" ya, ada apa "


" kakak pulang jam berapa " masih malu dan takut pada kakaknya sendiri


melirik arlojinya yang bermerek army " hhmm, mungkin sekitar jam 4 kalo tidak ada miring dadakan . apa ada yang di inginkan "

__ADS_1


" tidak kak"


" baiklah Abang berangkat dulu, kasian abangmu Liam sudah menunggu "


" hari hari di jalan kak "


" pasti ". mengangguk dan tersenyum pada adiknya, dan pergi keluar dari ruang makan,


nira hanya melihat badan yang lebar dan besar milik sang kakak yang hilang dari balik tembok yang ia pandangi saja


" hah,, rasanya aneh " mendesah pelan ketika melihat semua orang sudah pada pergi,


" aneh kenapa " ucap orang yang baru datang ke ruang makan,


" eh , hampir ajj jantungan , huh " terkejut dan menggerutu ketika mendapat suara dari belakangnya .


" kenapa " mengangkat sebelah alisnya dengan bingung ketika melihat sang kakak dengan rasa terkejutnya saat dirinya berbicara,


" tidak " dengan wajah sudah kembali dari rasa terkejutnya


" oh,, tapi aku dengar kau bilang rasanya aneh. apa makanan nya tidak enak " bertanya pada sang kakak nira


" tidak, makanannya enak kok, hanya aneh ajj perasaan ku. "


" oohh, kirain apaan "


menarik kursi yang tadi sempat di masukan kembali ketika sudah selesai sarapan, hanya saja piring yang belum di bereskan oleh sang pelayan ,


" oya , nanti aku akan keluar ada janji dengan teman , mungkin besok baru pulang "


" kau mau kemana, kenapa sampai pulang besok "


" Anya betemu Engan teman Ama " berbicara dengan mulut yang penuh dengan makanan,


" telan dulu makanan nya "


" hhmm hhmm" manggut manggut tanda mengerti dan meminum air


". haaahh .. untung gak keselek " dengan suara lirih nya baru cekikikan sendiri , sedangkan nira hanya menatapnya tanpa berkedip pada gadis yang katanya adiknya dengan wajah Chaby mata biru ke abuan, tapi sekarang memakai softlens warna coklat seperti kucing


" tidak kau habiskan makannya, "


" aku sudah kenyang "


" oh " Nara berjalan membawa piring kotor milik nya dan milik yang lain ke wastafel,


" biar kan saja, nanti aku yang bereskan "


" tidak apa , aku sudah biasa, kasian bibi yang disini sudah pada cape masakin, kamu lanjutin ajj makannya , sayang nanti nasi nya nangis "

__ADS_1


bersambung


__ADS_2