Putri Yang Hilang

Putri Yang Hilang
#36


__ADS_3

Ardi pun berjalan keluar dari ruangan tersebut, meski di tempat itu ada kasur yang bisa menampung tiga orang, tapi tidak berani menempati tempat tidur tersebut, hanya duduk di kursi sofa yang sudah tersedia di ruangan


,,,


queenara menggeliat bangun saat sinar matahari menerpa wajahnya yang sembab karena menangis lama hingga kelelahan dan tertidur di lantai marmer tanpa alas apapun karena sangkin lelahnya menangis dan mengeluarkan emosinya


" eemmmh" mengucek matanya dan melihat jam yang berada di atas meja kecil,


" Auh,," meringis merasakan perih di balik telapak tangan yang semalam buat memukul tembok dan juga kaca, darah pun sudah mengering sehingga kaca berserakan kemana mana beserta darah yang berceceran di lantai marmer


tok


tok


tok


" permisi non"


queenara pun bangun dari lantai marmer menuju kamar mandi untuk membasuh wajah nya yang sembab, ia pun memandangi wajahnya sendiri di cermin wastafel kamar mandi


" hah,, kenapa jadi begini wajahku" bertanya sendiri,


tidak menyadari bahwa ulahnya sendiri menangis sampai memecahkan kaca serta tembok hampir roboh, sangkin kuat nya pukulan itu, tapi saat bangun dan melihat dirinya sembab malah bertanya sendiri


" tau lah" tidak ingin memikirkannya Nara pun keluar dan memakai makeup tipis agar tidak ketahuan wajahnya sembab


cklek


" ada apa" memasang wajah dinginnya saat berhadapan dengan pelayan


" di tunggu nyonya sama tuan non, di ruang makan"


" heemm"

__ADS_1


" saya permisi non" pelayan tersebut pun pergi, tugas memanggil nona nya sudah dilaksanakan


nara pun masuk ke kamar menuju lemari baju untuk mengganti bajunya, ia malas untuk mandi hanya membasuh wajahnya saja, tidak mandi seminggu pun akan tetap wangi karena sabun mandi yang di pakai queenara bermerek


Queenara keluar dari kamar dengan berpakaian baju casual dan celana training ,


" pagi non," penjaga yang berada tidak jauh dari pintu kamarnya memberi hormat


" Hem" berjalan lurus menuju ruang makan, saat sampai ruang makan Nara sempat kaget dengan melihat adanya dua orang yang menduduki kursi yang memang lama kosong, akhirnya menyadarkan diri agar tidak terlalu memikirkan hal lain


" pagi sayang" nyonya sland saat melihat putri angkatnya yang berdiri mematung di ambang pintu masuk ruang makan


" pagi juga mom, dad"


dengan suara lirihnya menjawab ucapan selamat paginya pada pasangan tersebut


"di mana kak Demian, " menduduki kursi yang biasa di pakainya, dan melihat kursi yang biasa di pakai Demian kosong


" kakak mu sedang ada keperluan,"


" pagi buta kakak sudah keluar," menjawab pertanyaan putrinya yang memang kadang sedikit membingungkan orang


" oh,," sedangkan nyonya dan tuan sland hanya mengangguk mendengar kata " oh " dari bibir mungil Nara


" mau makan apa sayang" menawarkan makanan pada putrinya


sedangkan dua orang yang sedari tadi melihat dan menunduk lagi, takut pada sikap Nara yang dingin dan seperti tidak bersahabat


" apa ajj mom, masakan bi minah yang paaaling lezat, heemm, selamat makan semua" ucap Nara udah dalam mode ceria lagi,


" hah, " Ardi dan wanita paruh baya itu terkejut dengan perubahan gadis yang duduk berada di seberangnya yang hanya terhalang meja bulat


" ayo di makan , kok malah bengong" ucap Nara lagi

__ADS_1


nyonya sland pun mengambilkan ingin mengambil makanan untuk dua orang, tapi di cegah oleh wanita paruh baya yang duduk di pinggirnya


" tidak usah nyonya, saya bisa sendiri"


" tidak apa apa, anggap saja saya melayani anda nyonya"


" jangan nyonya , biar Ardi saja yang mengambilkan makan untuk ibu" nyonya sland pun hanya tersenyum lembut pada anak kecil tersebut dan duduk kembali pada kursinya,


mereka makan dengan khidmat hanya suara dentingan sendok yang bersahutan. hanya memerlukan waktu sebentar bagi Queenara untuk makan,


" haah,, kenyang nya" bersender pada badan kursi


yang masih makan hanya melirik queenara dan menggeleng kepala, " kebiasaan" nyonya sland berkata dengan gelengan nya


gluk


gluk


gluk


" lega,, " mengelap bibirnya yang mungil dari sisa makanan yang menempel meski tak ada noda yang menempel pada bibirnya, tetap ia lap


" Ara duluan ya Daddy, mommy, bibi" bangun dari duduknya, berjalan keluar dari ruang makan


orang yang di panggil bibi pun hanya terbengong melihat queenara keluar dari ruang makan, dan tak mengucap apapun lagi,


" siapa bibi" ucap Ardi membangunkan kesadaran wanita paruh baya yang melamun kala mendengar kata bibi dari mulut mungil orang yang menolongnya


wanita tua itu merasa familiar pada orang tersebut 'tapi siapa'


hanya dua majikannya lah yang biasa memanggil nama bibi dengan sangat lembut, wanita itu pun mengingat majikan kecil yang di tinggalkannya olehnya ketika mengejar kakak nya yang di culik, ia pun diam diam pergi mencari bantuan dan mencari majikan yang di culik nya,


tapi wanita tua itu tidak tahu, bahwa semenjak penculikan tersebut, queenara pun tak berani pulang kerumah dan malah pergi meninggalkan kota tersebut untuk mencari dimana keberadaan kakak nya yang di sayangi oleh kedua orang tuanya

__ADS_1


memang di bilang pilih kasih iya, Queenara sampai ingin menjadi kakaknya saja meski penyakitan tapi di sayang. sedangkan dia sendiri tidak di sayang, selalu di acuhkan


bersambung


__ADS_2