
" waaaah , gede juga ya kak rumah nya " Ardi merasa kagum pada rumah mewah itu
" hmm " hanya bergumam dan mengangguk untuk membalas ucapan Ardi, ia pun merasa seperti di surga setelah bertemu kembali di keluarganya
" apa kita akan tinggal di sini bu, " perkataan Ardi membuat gadis berwajah tirus mengalihkan penglihatannya pada ank berusia sepuluh tahun dan menjawab dengan
" apa benar begitu bi " menunggu jawaban dari sang pengasuh ,
" mungkin saja, karena ini adalah rumah utama yang di miliki oleh ke dua orang tua nona, " menjelaskan
" tapi di mana para kakak aku bi, "
belum mendapat jawaban dari bi ijah kini tiga orang berbeda usia di giring untuk menuju kamar masing masing, bi Ijah ke kamar tamu sedangkan untuk queenira adalah kamarnya sendiri di mana tempat tidur yang dulu kini d rubah dengan sangat manis,
banyak gambar foto yang terpangpang jelas di depan tempat tidur, foto diri nya dan juga ke dua orangtuanya tidak ada yang lain lagi hanya foto satu keluarga yang di pajang di atas lemari kecil
foto keluarga dulu saat dirinya masih sangatlah bagi, di sana nira melihat ada tiga bayi yang di gendong oleh ayah ibu dan juga kakek nya , entah dirinya yang mana
" apakah mereka kakakku " nira masih ragu jika ia sudah bertemu dengan keluarganya, ia merasa kurang nyaman dengan ia datang ke tempat di mana yang menjadi rumah utama
masih menelisik kamarnya sendiri, mungkin kalo ia tidak di culik mungkin masih memiliki ke dua orang tuanya,
hingga tidak terasa gadis berwajah tirus menduduki kasur yang empuk dengan warna yang sangat cantik, tidak butuh lama nira membaringkan tubuhnya hingga ia terlelap
di kamar yang mendominasi warna hitam ada seorang gadis sedang berdiri menatap hamparan hutan yang ada di depan mata, mansion utama yang di miliki keluarga Nugraha berada jauh dari kota dan juga pemukiman, hanya ada hutan buatan , taman serta tanah yang lapang
" hhmm mau sampe kapan akan begini terus, " mendesah
__ADS_1
" mungkin Abang akan bisa menerimanya kembali , dan aku akan pergi dari kalian " Nara sudah matang matang dengan pemikirannya, bila ia kembali membawa kembaran nya ia pun harus pergi mencari informasi lainnya tentang penculikan 15 tahun yang lalu,
tidak mungkin bukan jika tregek si biang rese yang sudah menculiknya, yang Nara tahu tregek mendirikan organisasi nya beberapa tahun yang lalu,
sebenarnya tregek adalah teman dari Nara yang berada di perbatasan kota Z, tapi sayangnya tregek menjadi pemberontak karena hasutan dari orang yang ingin menghancurkan kota tersebut, sehingga tregek yang di kenal baik menjadi kejam,
" aarrgghhh " teriak Nara , ia merasa sangat berat dan frustasi jika harus mencari informasi lainnya tapi belum juga dapat, tim gabungannya sengaja ia bubarkan agar ada yang mendapat informasi lainnya tentang siapa dalang yang sebenarnya yang ingin menghancurkan keluarga Nugraha
tring
satu notifikasi yang berada pada ponsel ,
" Abang sudah menuju arang rumah utama," isi pesan dalam ponselnya ,
" aku harap Abang bisa menjaganya lebih baik, ia terlalu lemah untuk berhadapan dengan musuh , "
Nara baru ingat jika ia pernah mempunyai nomor ponsel tregek, tidak butuh berfikir Nara mencari nomor telepon,
" hai Ara apa kabar " beberapa kali suara itu yang keluar dari nada dering itu, tapi tidak di angkat oleh pemilik ponselnya
berkali kali Nara memencet nomor tersebut , hingga akhirnya Nara menyerah jika tidak di angkat oleh pemilik nomor
" sial, !! pasti lagi main, hah ?" mendesah berat " mending mandi dulu sebelum bang wilLie dan yang lain datang " mencium ketiaknya " ish sedikit bau keringat , huh padahal udah di kasih parfum sebelum nya hi hi hi " cekikikan sendiri mengingat saat ia kelupaan untuk menjemput seseorang yang menunggu lama, Nara kelelahan hingga melupakan janjinya bahkan ponsel pun ikut di lupakan, untung anak buah nya sigap dan mengantarkannya di mansion utama
45 menit telah berlalu iringan mobil yang berjejer dan terparkir asal, tiga pria tampan dan gagah kini keluar dari mobil dan berjalan dengan tegasnya dan berwibawa, sedang Jonatan berlari mencari Nara dan langsung menuju kamar di mana Nara berada ,
mansion utama memiliki empat tingkat yang di mana lantai dasar untuk para pelayan dan juga bodyguard, sedangkan lantai dua beberapa kamar yang berjejer ketiga adalah ruang untuk beraktivitas seperti olahraga gym, bioskop, bar , yang paling akhir ruang yang terbuka, ada kolam renang yang luar dan juga di hiasi pohon buatan agar terlihat seperti taman
" selamat datang kembali tuan " ketua pelayan memberi hormat pada tuannya yang kembali pada rumah utama nya
__ADS_1
meski rumah tidak di huni oleh tuannya , tapi banyak pekerja yang setia untuk membersihkannya setiap hari
" hhmm, dimana dia berada, "
" nona ada di kamar tuan "
" baik lah, siapkan makan malam,"
" baik tuan, saya permisi "
" tunggu bi, "
" ya tuan, apa yang bisa saya bantu,"
" anak siapa yang ada di halaman samping dan juga orang tua "
" oh, itu ,, " gugup takut salah bicara
" itu apa "
" anu tuan "
" apa ??!" kini Liam yang menjawab dengan nada yang agak meninggi, hingga Erni yang menjadi seorang ketua pelayan terlonjak kaget dengan teriakan tersebut
" eh ,, itu tuan, mereka orang yang di bawa nona " bi Erni tidak berani berbicara bahwa wanita yang sedang duduk di taman adalah wanita serta temannya yang sudah melindungi nona nya yang satu lagi, yang harusnya sendirilah yang menjaga nira sang pengasuhnya
" oh,, " hanya ber ' oh ' ria saja atas jawaban dua orang yang memiliki temperamen yang berbeda beda
bersambung,
__ADS_1