Putri Yang Hilang

Putri Yang Hilang
Hanum 5


__ADS_3

di sini lah kami berdiri sekarang di halaman rumah yang tidak terlalu megah, namun kanan dan kiri nya tempat usaha kedua orang tua ku


Yap. sekarang kami berada di rumah mama dan papa, Kahfi membawa ku ke rumah mama dan papa tanpa singgah lebih dulu ke rumah ku


mas imam, biar kan saja ia mau berbuat apa, terserah dia, memang dasar nya pernikahan kami memang tidak sehat dari awal kami menikah


'' ayo masuk kak, kenapa malah bengong sih..'' ujar Kahfi menggoyah kan lengan ku


'' eh..iya.. ayo..'' ujar ku setelah tersadar dari lamunan ku


'' siapa saja di dalam, kenapa terlihat ramai sekali..'' tanya ku sambil berjalan di belakang tubuh Kahfi


'' keluarga besar Al Fatih dong..'' saut Kahfi membuat ku hanya mengangguk saja


'' onti bunga ada di dalam..'' tanya ku seketika mengingat onti ku yang sedikit cerewet itu


'' mungkin belum sampai, ada apa..'' tanya Kahfi


'' tidak ada, sedikit rindu saja kepada onti yang paling cerewet itu..'' ujar ku terkekeh kecil kala mengingat bagai mana cerewet nya onti bunga


berbanding terbalik dengan onti Kania yang sedikit pendiam tapi pintar memasak itu, walau terkadang menyebal kan jika di ajak berbicara hanya diam saja


'' Deddy mungkin sudah sampai..'' ucap Kahfi lagi


kami berjalan beriringan ke arah dalam rumah, walau pun rumah ini tidak seluas rumah nenek dan almarhum kedua nenek dari papa dan mama


tapi rumah ini menyimpan sejuta kenangan di mana kami tumbuh besar sampai sekarang ini


'' eh.. bidadari kecil papa sudah datang..'' papa begitu antusias menyambut ku


walau terkadang aku sedikit sebal dengan panggilan yang di semat kan papa kepada ku sejak aku baru lahir


'' iiss.. papa, Hanum tidak kecil lagi..'' sungut ku kepada papa


yang di sambut kekehan kecil dari papa, walau pun bibir ku sedikit manyun, namun aku tetap memeluk papa ku dengan erat


'' walau bagai mana pun, kami tetap bidadari kecil papa .'' ucap papa mengelus pucuk kepala ku dengan sayang


__ADS_1


'' udah dua puluh lima papa sekarang umur ku..'' sungut ku pada papa ku ini


walau pun umur ku dua puluh lima, namun papa ku masih nampak muda, karena papa ku dulu nya menikah muda dengan mama


sedang kan mama dua tahun lebih tua dari papa, mungkin saat ini umur papa sekitar empat puluh empat tahun,


sedang kan mama sekarang usia nya sudah menginjak, empat puluh enam tahun, dan papa mempunyai saudara kembar dan adik perempuan yang ku sebut onti Kania


sedang kan mama memiliki dua adik, yaitu om Daren dan onti bunga, sebenar nya saudara angkat papa pun ada, namun entah ada kendala apa,


kabar mereka bak di telan bumi, sampai sekarang pun kami tidak pernah mendengar kabar tentang mereka sedikit pun


sedang kan saudara angkat papa menikah dengan adik mama dan mereka masih ada kabar karena masih dalam lingkungan kami


'' papa tau itu Hanum, mana mungkin papa melupakan umur mu..'' ucap papa masih memeluk ku


'' masih ada yang lain papa, Aisyah ada aisiah juga ada..'' ujar ku sedikit kesal dengan papa


'' mau bagai mana pun, kalian bertiga itu tetap bidadari kecil papa..'' ucap papa menyambar pipi ku dengan gemas



'' mas.. anak nya sudah mpunya suami itu, jangan di bikin seperti bayi terus, nanti suami nya marah loh..'' ujar mama entah datang dari mana


'' eh.. iya, mana suami mu kak..'' papa yang baru menyadari jika aku hanya seorang diri


'' kerja keluar kota pa..'' saut ku, tentu saja berbohong kepada papa, tidak mungkin aku jujur kepada papa saat ini, waktu nya belum tepat sama sekali


'' kapan akan kembali nya..'' tanya papa lagi


'' Hanum kurang tau pa, nanti kalau pulang di kabari kok?'' ucap ku meyakin kan papa


'' papa ini, anak nya baru datang, bukan nya di suruh ke lain nya, malah di tahan sih..'' ucap mama sebal


'' maaf ma,, sudah lama tidak berjumpa dengan kakak..'' ucap papa cengengesan agar mama tidak marah kepada papa


'' Salim yang lain kak, ada onti di dalam ada nenek dan kakek juga .'' suruh mama


sedang kan kahfi, entah kemana ia sekarang aku puntak melihat nya lagi, ketika papa memeluk ku tadi

__ADS_1


'' iya ma..'' saut ku berjalan mendahului mama yang berada di belakang ku, meninggal kan papa di ruang tamu seorang diri


'' assalamualaikum...'' ucap ku ketika memasuki area dapur yang begitu ramai


ternyata mereka semua berkumpul di dapur, begitu juga dengan Kahfi dan adik kembar ku, tidak lupa dengan para sepupu dan keponakan ku


'' mencari siapa kak..'' tegur mama ketika aku celingukan mencari keberadaan Ihsan dan adik bungsu ku


'' adik kecil di mana ma..'' tanya ku menoleh ke arah mama karena aku tidak mendapati goufor kecil


walau pun kini usia nyabtidak muda lagi, namun Hanum tetap mencari keberadaan goufor saat ini


''' ada di kolam belakang, bersama dengan Sammy dan juga Ihsan..'' saut mama


'' aisiah kemana ma, ada di belakang juga..'' tanya ku kepada mama


'' aisiah belum kembali, sedang kan Aisyah sedang bersama Azka entah kemana .'' saut mama membuat ku mengangguk paham


jangan tanya kan sepupu ku, mereka semua memang senang bermain kemari, entah karena papa mama ku baik,


di sini juga sangat ramai sekali, maka dari itu, mereka senang bermain kemari


'' eh.. ini siapa nama nya onti..'' tanya ku kepada onti bunga.


setelah aku bersalaman dengan mereka semua, aku mendapati satu anak kecil yang begitu imut seperti berby saja


'' jangan sentuh Hanum, itu putri cantik onti..'' ketua onti bunga membuat ku semakin ingin menjahili nya


'' dasar cengeng, di sentuh gitu aja menangis..'' ucap ku tertawa geli melihat anak kecil onto bunga meringsut menjauhi ku


'' dasar kau ya,, selalu saja jahil, tidak kecil, sampai besar begini pun masih suka menjahili..'' sungut onti bunga


'' apa beda nya dengan onti dulu, yang selalu membuat ku menangis..'' ucap ku, setidak nya itu lah yang ku dengar cerita dari mama dan papa dulu


'' siapa suruh, kamu selalu menolak ajakan onti, giliran uang onti aja ada, kamu baru mau sama onti..'' sungut onti bunga


'' jaman sekarang itu apa-apa uang onti, jadi? jangan salah kan Hanum dong, yang sudah mata duitan sejak kecil..'' ujar ku terbahak-bahak


sedang kan yang lain, semua nya menertawakan kami, tak terkecuali nenek Hani yang duduk di kursi meja makan

__ADS_1


'' kalian ini selalu saja bertengkar, membuat nenek ingin pulang saja ke rumah..'' saut nenek Hani, sedang kan nenek Dania, hanya tersenyum saja ketika melihat perdebatan antara cucu dan anak nya


...****************...


__ADS_2