
Kelas sebentar lagi akan dimulai, namun para siswa-siswi di dalam masih sibuk mengagumi sosok pria tampan yang berada di kelas mereka.
"Ah dia tampan sekali, beruntung kita bisa satu kelas dengan dia dan bisa memandang pria itu setiap hari."
"Benar, ternyata dia sangat tampan dan lihatlah tubuhnya itu begitu sempurna jika dilihat dari jarak sedekat ini."
"Akh! aku sangat ingin menyentuhnya. Bagaimana rasanya dipeluk pria itu."
"Hush! dia milikku."
Begitulah kira-kira pembicaraan para murid wanita yang sedang mengagumi ketampanan dan juga kesempurnaan tubuh Michael. Namun Michael tampaknya tidak memperhatikan para siswi cantik yang sedang membicarakannya, karena Michael sedang melamunkan sesuatu.
"Bagaimana caranya mengusir cewek jelek itu dari sini tanpa mengotori tanganku?" Michael bergumam dalam hati.
Mereka mulai mengerumuni Michael untuk sekedar berkenalan. Mengingat Michael termasuk anak keluarga terkaya, mereka sangat berharap untuk bisa dekat dengannya.
Mereka kemudian menyebutkan nama dan juga bisnis ayah mereka masing-masing, namun Michael hanya menoleh sebentar dan tersenyum sambil mangut-mangut saja menanggapi ucapan semua orang.
Setelah itu pandangannya kembali dia lemparkan ke luar jendela dan masih memikirkan bagaimana caranya mengusir Jelita. Melihat Michael yang sangat dingin membuat semua murid disana menjadi semakin penasaran dan menambah kekaguman mereka.
"Walau sikapnya sangat dingin kepada kita, tapi itu membuat dia menjadi semakin tampan."
"Benar, tapi dia sedang melamunkan apa sih?"
"Pasti melamunkan diriku."
"Sembarangan!"
Mereka terkekeh sesekali menunjukkan sikap genit kepada Michael seperti belatung nangka yang tidak bisa diam, hingga seorang siswi tercantik disana yang bernama Floren akhirnya mendesis kesal saat melihat kelakuan centil para teman sekelasnya.
"Cih! kalian semua tidak tahu malu, ingin berdekatan dengan Michael ... Heh! jangan mimpi. Minggir kalian semuanya!"
Floren membelah kerumunan para siswi lain sambil berjalan mendekat ke arah Michael lalu tanpa ragu dia menarik paksa siswa yang duduk disamping Michael agar menyingkir.
"Minggir, aku mau duduk di sini!" titah Floren dan tanpa banyak kata pria itu lalu pergi membiarkan Floren duduk di sebelah Michael.
"Cih! siapa dia, beraninya mendekati Michael."
"Tapi dia sangat cantik."
__ADS_1
Salah satu teman Floren yang bernama Clara tersenyum dan menjawab pertanyaan tersebut. "Dia adalah Florencia, putri pengusaha kaya nomor dua di Negeri ini setelah Tuan Nael."
Mereka sontak terkejut mendengarnya, lalu seorang siswa bertanya, "J-jadi dia adalah putri Pak Wijaksana? Pantas saja ...." Clara lalu membalas dengan anggukan kepala dan akhirnya para siswi itu pun duduk mundur seperti menyerah.
***
Floren memperhatikan Michael yang sedang memandang ke luar jendela. Rasa penasaran dengan apa yang dipandangi oleh Michael begitu serius, membuat Floren ikut melemparkan pandangannya ke depan sana.
Dirinya sedikit terkejut saat mengetahui bahwa Michael ternyata sedang memandangi Jelita yang sedang membersihkan sebuah halaman sambil mengobrol bersama petugas kebun.
Floren tersenyum sinis lalu berkata, "Aku bisa membantumu menyingkirkan cewek jelek itu!"
Michael seketika menengok, dia memandang wajah gadis cantik disebelahnya lalu tersenyum tipis. "Apa yang kau inginkan?" tanya Michael kemudian memandang kembali keluar jendela.
Floren menghela nafas, dirinya sedikit kesal karena Michael hanya memandangnya sekilas. "Aku tidak menginginkan apa-apa."
Michael menoleh kembali ke Floren lalu berkata, "Aku tidak ingin berhutang budi kepada siapapun, jadi sebutkan saja keinginanmu. Tidak perlu basa-basi atau merasa sungkan."
Floren memainkan jarinya di atas bahu Michael, kemudian mengatakan sesuatu. "Baiklah bagaimana kalau kita membuat kesepakatan. Jika aku berhasil menyingkirkan gadis itu, maka kau harus bersedia menjadikan aku sebagai pacarmu."
Seketika itu pula semua mata tertuju kepada mereka berdua, murid disana tercengang saat mendengar ucapan dan juga permintaan dari Floren yang begitu berani dan tiba-tiba.
Suasana di dalam kelas menjadi hening dan mereka semua menunggu balasan dari Michael dengan raut wajah yang cemas terutama para gadis karena takut kehilangan sosok pria idaman.
"Baik, setelah kau berhasil menyingkirkan si jelek itu, maka aku akan menjadikanmu sebagai pacarku."
Floren tersenyum dan senang mendengar jawaban dari Michael lalu mengulurkan tangan kanannya.
"Oke, jadi kita sepakat ya. Jika aku berhasil menyingkirkan cewek jelek itu maka kau harus menjadi pacarku dan tidak boleh menolak semua permintaanku."
Michael menyambut uluran tangan Floren dan berkata, "Baik, kita sepakat. Aku berjanji tidak akan menolak permintaanmu selama itu masih bisa kupenuhi."
Floren menunjukkan senyum terbaiknya lalu berkata, "Namaku Florencia, kau boleh memanggilku Flo."
Michael membalas, "Namaku Michael, kau bisa memanggilku Mike." Michael kemudian menarik lengannya dari Floren.
"Baik Mike, ku harap kau ingat akan janjimu," ucap Floren menatap Michael dengan masih memasang senyuman lalu kembali ke bangkunya semula karena seorang dosen telah masuk ke dalam kelas mereka untuk memulai pelajaran.
***
__ADS_1
Sementara itu Jelita telah selesai membersihkan halaman dari guguran daun kering, dia kemudian mengerjakan tugas yang lainnya.
"Tinggal bersihin toilet habis itu pulang sebentar untuk lihat Ibu," ucap Jelita sambil menenteng ember dan juga karbol pembersih lantai.
Sesampainya di depan toilet, Jelita mendengar perbincangan dua orang siswi di dalam sana dan segera bersembunyi agar tidak ketahuan.
"Michael pengen banget nyingkirin si jelek cleaning service itu sampai setuju dengan permintaan Floren," ucap Mika.
"Iya dia sungguh tidak berpikir ulang dengan permintaan Floren yang mengajaknya untuk pacaran. Oiya bagaimana kalau kita mengingkirkan si jelek itu juga terus meminta sesuatu kepada Michael," balas Sandra.
"Benar, mungkin Michael akan senang dan mengabulkan beberapa permintaan kita."
"Kalau begitu kita kerjai saja dia terlebih dahulu, lalu mengadu kepada Michael, siapa tahu dia senang dan kita bisa menjadi teman dekatnya."
"Wah benar juga, kau jenius."
Mereka kemudian tertawa, lalu mengacak-acak seisi toilet agar menambah pekerjaan Jelita dan setelah puas mereka pergi meninggalkan toilet yang telah berantakan oleh ulah siswi tersebut begitu saja.
Setelah siswi itu menjauh, Jelita bergegas masuk ke dalam toilet dan dirinya langsung dibuat syok bukan main saat melihat toilet dihadapannya begitu berantakan dan sampah tisue telah tersebar dimana-mana.
Dirinya dibuat geram oleh ulah dua siswi tersebut, sambil terus mengutip dan membereskan sampah. Jelita menggerutu dan tak habis pikir dengan kelakuan orang kaya di lingkungan kampus tempatnya bekerja.
"Mereka sungguh tidak bermoral, apa begitu hasil didikkan orang tua mereka. Lihat tisue gulungan ini sampai habis tidak bersisa, mereka membuangnya menjadi sia-sia begitu saja. Dan apa salah ember dan juga peralatan disini, semuanya di acak-acak. Ah mereka itu, aku benar-benar tak habis pikir."
Jelita menghela nafas dan hanya bisa bersabar menghadapi itu semua.
"Mereka keterlaluan sekali, ini semua pasti karena si Michael itu!" ucap Jelita dengan kesal.
Sambil terus membersihkan toilet, Jelita tidak menyadari jika di depan toilet ada seseorang yang telah merekam video saat dirinya sedang kesal dan marah sambil menyebut nama Michael.
"Bagaimana apa sudah di rekam?" tanya Sandra penasaran.
"Sudah berhasil aku rekam," jawab Mika menunjukkannya kepada Sandra.
"Bagus, ayo kita kasih tahu Michael. Pasti dia senang setelah melihat video ini," ucap Sandra begitu semangat.
"Ayo!"
.
__ADS_1
.
Bersambung.