Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 139. Ngidam yang aneh.


__ADS_3

Mansion Wiliam.


Setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit, Jelita akhirnya pulang ke rumah. Kondisi ibu hamil satu ini sedikit berbeda dari biasanya, itu ditandai dengan cara ngidam Jelita yang aneh.


Jika biasanya Ibu hamil suka memakan buah yang asam, atau memilih membeli barang mewah maupun kebiasaan wanita ngidam lainnya. Namun berbeda bagi Jelita, dia lebih suka mematahkan batang candu milik suaminya sendiri.


Lalu isinya di kumpulkan dalam satu wadah dan tidak boleh di buka sampai dia bosan, sehingga Wiliam hanya bisa menghela nafas berulang kali ketika melihat istrinya begitu gemar mematahkan candu miliknya sampai habis dan memiliki hobi baru yang tidak biasa.


Tapi itu lebih baik, daripada permintaan aneh Jelita sebelumnya, yang ingin mematahkan langsung ular ptyhonnya itu di depan banyak orang.


"Sayang, kenapa permintaan mu selalu saja aneh. kemarin kau ingin mematahkan ular ku, sekarang kau malah mematahkan habis semua batang canduku ini," ucap Wiliam merasa terheran-heran.


Jelita menaikkan kedua bahunya sambil asik mematahkan batang candu. "Tidak tahu, mungkin aku sedang bosan karena tidak melakukan apapun di dalam rumah. Setiap hari hanya bisa duduk dan berbaring, rasa makanan juga hambar sekali, apalagi jika aku melihat wajahmu. Oh sayang, aku rasanya ingin muntah. Tolonglah menjauh," balasnya sembari membuang muka.


Wiliam tersenyum kecut, bisa-bisanya sang istri merasa mual saat melihat wajah tampannya yang luar biasa.


Sang singa jantan perkasa itu pun akhirnya hanya bisa menatap Jelita dengan tatapan memelasnya, seperti kucing kecil yang sedang minta dikasihani.


"Jahat sekali, aku tidak boleh mendekatimu menyentuhmu bahkan melihatmu pun tidak boleh," gerutu Wiliam.


Jelita menoleh sejenak ke arah suaminya. "Wil, jangan memandangku seperti itu dan jangan mengeluh tentang semua ini. Aku benar-benar mual dan ingin muntah jika melihat wajahmu itu," balasnya lalu membuang muka kembali.


Wiliam menekuk wajah tampannya berkali-kali, kehamilan istrinya ini membuat ia merana dan merasa kesepian. "Sayang, kau membuatku tersiksa."


"Maaf sayang, tapi aku tidak suka melihat rambutmu itu. Rasanya geli sekali, kenapa tidak dipotong saja," ucap Jelita tiba-tiba.


Wiliam berdecak dan menghela nafas. "Sayang, kenapa kau kejam sekali sekali kepadaku. Kemarin tidak ingin aku sentuh dan sekarang kau ingin memotong rambutku. Bagaimana jika ketampananku ini berkurang hem?" balasnya menolak keinginan Jelita.


Mendengar Wiliam menolak keinginannya, Jelita tiba-tiba menangis tanpa sebab.


"Jangan menangis sayang, baiklah baik! Aku akan memotong rambutku ini," ucap Wiliam menenangkan istrinya yang menangis.


Jelita langsung tersenyum. "Potong hingga tandas ya," balasnya sambil menyengir.


Wiliam hanya mengangguk pasrah dan tersenyum melihat Jelita tersenyum. Tidak disangka dia harus merelakan rambut panjangnya ini demi keinginan sang ibu hamil.


Nasib.


...***...


Sore harinya.


Sesuai janjinya, pria tampan nan penepat janji itu segera mencukur rambutnya di salon sepulang dari bekerja. Dengan berat hati dan juga perdebatan yang cukup panjang, akhirnya Wiliam menetapkan hati untuk membuang rambut panjangnya.


"Hufftt ..." Wiliam menghela nafas panjang sekali, ketika sang pemangkas rambut mulai memotong rambutnya.

__ADS_1


"Demi sang calon buah hati," gumamnya menguatkan hati.


Helaian demi helaian rambut berguguran dari kepala Wiliam dan pria itu benar-benar jantan sekali menghadapi situasi sulit untuk dirinya sendiri.


Tidak pernah sekalipun dalam hidupnya, Wiliam tunduk pada perintah siapapun, apalagi untuk seorang wanita. Namun kali ini pria itu benar-benar mengalah, demi keinginan Jelita yang aneh.


Tak butuh waktu lama, Wiliam telah berubah menjadi gundul. Walau tidak sampai botak licin, pria itu masih tidak rela tambutnya telah dicukur habis.


Dia hanya bisa tersenyum puas dan berharap agar sang istri mau di dekati kembali saat pulang ke rumah nanti.


Setelah selesai mencukur rambut, Wiliam bergegas membayar tagihan dan pulang dengan perasaan aneh akibat rambutnya yang telah hilang.


Pria itu hanya bisa menghela nafas di sepanjang perjalanan pulang ke rumah, kejadian ngidam aneh istrinya benar-benar membuatnya tak habis pikir.


Entah apa lagi yang akan diminta istrinya itu nanti dan sialnya dia harus menuruti semua keinginan istrinya demi menjaga suasana hati sang ibu hamil agar tidak berubah murung.


Karena jika salah satu saja permintaannya itu tidak terpenuhi, sudah pasti Jelita akan menangis tersedu-sedu sepanjang hari.



Kira-kira begini lah penampilan terbaru setelah ia selesai potong rambut.


...***...


Mansion Wiliam.


Hal itu pun membuat semua orang yang berada di dalam sana seketika terkejut, saat melihat perubahan besar pada sang pemilik rumah.


"Wiliam sayang kau terlihat tampan sekali," puji Ibu Maria berbinar.


"Benar kah aku tampan dengan gaya rambut seperti ini?" tanya Wiliam tidak yakin.


"Sudah tentu benar, kau terlihat lebih gagah dan dewasa," balas Ibu Maria.


"Terima kasih Ibu, kalau begitu aku senang sekali mendengarnya," jawab Wiliam mulai tumbuh percaya diri.


"Syukurlah kalau begitu. Wiliam, katakan pada Ibu, siapa yang memintamu memotong rambut seperti ini?" tanya Ibu Maria merasa takjub karena selama ini, Wiliam anti memotong rambut hingga tandas.


"Sudah pasti ini semua keinginan dari Jelitaku tersayang," jawab Wiliam tersenyum.


"Benarkah?" tanya Ibu Maria lagi.


"Benar," balas Wiliam.


Ibu Maria mengusap bahu menantunya. "Wiliam, maaf jika permintaan Jelita begitu aneh padamu. Karena memang setiap ibu hamil punya ngidam yang tidak sama dan berbeda-beda. Tapi percayalah sayang, selama Ibu melihat dia mengandung. Jelita sepertinya menginginkan perubahan baik untukmu."

__ADS_1


"Apa yang baik Ibu?" tanya Wiliam masih bingung.


"Selama dia hamil kau tidak bisa merokok lagi dan itu ada baiknya juga, kau jadi terlihat lebih sehat. Dan mengenai perubahanmu ini, jujur Ibu lebih suka melihat penampilanmu yang sekarang. Kau nampak seperti pria sejati," jawab Ibu Maria.


Mendengar perkataan Ibu Maria, membuat Wiliam membuka matanya dan tersadar. Jika keinginan Jelita yang aneh selama hamil, ternyata berdampak baik untuknya sendiri.


"Terima kasih Ibu, kau membuatku tersadar akan satu hal. Sudah saatnya aku berubah menjadi lebih baik," balas Wiliam.


Pria itu kemudian kembali ke dalam kamarnya untuk bertemu Jelita dan beristirahat.


...***...


Setibanya di dalam kamar Wiliam berjalan mendekati Jelita yang duduk bersandar di atas sofa.


"Sayang," panggil lembut Wiliam.


Jelita menoleh dan dia segera tersenyum. "Kau sudah pulang," balasnya lalu menyambut sang suami.


Wiliam tertegun, akhirnya Jelita mau memeluknya kembali. Pria itu membalas pelukan istrinya dan mendaratkan satu kecupan hangat di bahu.


"Aku sudah pulang dan menuruti keinginanmu mencukur rambut. Sekarang, apa kau suka dengan diriki yang sekarang?" tanya Wiliam memastikan.


Jelita mengangguk. "Benar, setidaknya aku jadi lebih baik sekarang dan mualnya juga tiba-tiba hilang begitu saja."


Wiliam tersenyum. "Syukurlah, setidaknya apa kita boleh tidur bersama lagi?" tanyanya tidak sabar.


Jelita terdiam lalu tersenyum. "Boleh, tapi kau harus ingat saran dari dokter. Kita harus puasa main dulu," balasnya mengingatkan.


Wiliam tersenyum smirk. "Tentu saja aku ingat, tapi aku punya satu permintaan padamu."


"Apa itu?" tanya Jelita.


"Kau harus menuruti keinginan dia ya, dengan tanganmu ini." Wiliam meraih salah satu tangan Jelita, lalu mengarahkannya ke si ular python yang sudah lama menganggur.


Jelita terkekeh. "Baiklah, aku akan memuaskan ular python mu itu nanti malam."


Wiliam mengulum senyum. "Terima kasih, tapi aku ingin kau melakukannya sekarang," bujuknya merayu.


Jelita hanya bisa mengangguk. "Ya sudah baiklah," balasnya.


Wiliam mengajak Jelita ke kamar mandi, untuk menunaikan keinginan si ular pythonnya yang sudah berdiri tegak ingin di manjakan.


Setidaknya pria itu bersyukur, pengorbanannya ternyata tidaklah sia-sia.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2