Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 134. Malam pertama S-2


__ADS_3

...WARNING!!!...


...BAB INI MENGANDUNG UNSUR 21+, JIKA KALIAN YANG MASIH BERUSIA DIBAWAH 21 TAHUN, DISARANKAN UNTUK SKIP BAB INI. DAN JIKA ADA BOCIL YANG KETAHUAN MEMBACA BAB INI, MAKA AUTHOR SUMPAHIN MATANYA BINTITAN....


...SEKIAN TERIMA KASIH, SELAMAT MEMBACA, SELAMAT KEPANASAN....


...SALAM NGANU DARI AUTHOR!!...


...----------------...


...----------------...


"Wil ..." ucap Jelita gemetaran.


Wiliam melangkah maju, sebanyak langkah kaki Jelita yang semakin terus mundur. Wanita itu kembali ketakutan saat melihat ekspresi Wiliam sama persis, kala ingin merenggut kesuciannya waktu lalu.


"Wil ..." ucap Jelita kembali dan dia menoleh kebelakang saat langkahnya terhenti karena terhalang dinding batu.


"Mau kemana hem?" ucap Wiliam lalu menyergap Jelita yang tersudut.


"J-jangan," ucap Jelita terbata.


"Jangan apa Baby? Aku adalah suamimu dan kau adalah milikku," balas Wiliam dengan suara beratnya begitu menusuk hingga ke sukma.


Jelita menenguk ludahnya yang tercekat, perkataan Wiliam memang benar adanya. Jika mereka telah sah menjadi suami istri dan mengenai tubuh beserta isinya ini, telah menjadi hak Wiliam secara mutlak.


Namun bukan seperti ini yang ia inginkan, Jelita tidak ingin jika Wiliam merenggut kehormatannya secara paksa.


"Akh! Wiliam. Tolong jangan seperti ini," Jelita menggeleng, ketika Wiliam mendorong dan mendesak tubuhnya hingga merapat ke dinding.


Pria itu mencantumkan kedua pergelangan tangan Jelita menjadi satu, lalu menguncinya diatas kepala menggunakan satu tangan besarnya dan mulai merampas bibir ranum istrinya yang bergetar.


Jelita hanya bisa terbelalak, ketika menerima serangan tiba-tiba dari suaminya sendiri.


Emphh!


"Oh tidak, jangan ciuman seperti ini lagi!" batin Jelita meronta ingin dilepaskan.


Akan tetapi, bagaimana bisa dirinya menghindari ciuman tersebut, disaat Wiliam tengah asik menggila.


Alhasil ciuman maut itu membuat Jelita kewalahan.


Tidak puas dengan hanya melumaat saja, Wiliam mulai memainkan lidahnya. Memaksa masuk ke dalam rongga mulut Jelita agar bisa bermain-main di dalam sana.


Mengabsen setiap deretan gigi, menyesap bibirnya dengan kuat bahkan membelit lidah dan bertukar saliva.


Selagi pertautan itu terjadi, salah satu tangan Wiliam mulai aktif merambah ke mana-mana. Mencari simpul pada lilitan handuk, yang menghalangi sentuhan kulit pada tubuhnya.


Jari jemarinya begitu lihai, karena dalam hitungan hanya persekian detik, tubuh Jelita kembali polos tanpa penghalang sama sekali. Seperti bayi yang baru saja dilahirkan dan saat itu juga Jelita meronta ingin dilepaskan.


Emhhhp!


Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Wiliam mulai menerkam gundukan kenyal dihadapannya. Mulai dari meremass, memutar bahkan memainkan pucuk si kembar dengan ujung jarinya hingga Jelita bergelinjang dan melenguhh tanpa sadar.


"Eugh!"


Wiliam menyeringai, suara lenguhan istrinya membuat dia semakin bernafsuu. Tak hayal pria itu pun semakin gencar memainkan area sensitiff istrinya secara bergantian, dengan tidak melepaskan kuncian maupun pertautannya sebelum ia merasa puas.


Aksi panas Wiliam membuat Jelita kian melemas tidak berdaya, wanita itu sampai tersengal dan hampir mati kehabisan nafas, jika Wiliam sedikit saja terlambat melepas pangutanya.


Belum sempat Jelita mengisi penuh oksigen pada paru-parunya itu, Wiliam kembali membuatnya kewalahan.


Kali ini dia membenamkan wajahnya pada ceruk leher Jelita, menciumi bahkan meninggalkan beberapa jejak cintanya diatas sana.


"Eugh!" Jelita kembali melenguhh dan Wiliam semakin mendesis.


Kali ini pria itu melepas kuncian tangan Jelita, dan bergantian menarik pinggang ramping istrinya untuk mengikis jarak yang ada.


Suami sejuta gairah itu, kembali mencium bibir istrinya penuh nikmat. Hingga suara decapan bibir pun terdengar nyaring menggema kemana-mana dan mengisi seluruh ruangan dimana mereka kini berada.


Wiliam melepas pertautannya itu lalu memutar tubuh Jelita agar membelakangi dirinya. Dia kembali mendorong Jelita agar merapat ke dinding dan memeluk raga istrinya dari belakang.


"Eugh!"


Lenguhan terdengar kembali saat Wiliam menjamah dan meremass-remaas kedua gundukan mengantung, sambil terus membenamkan wajahnya pada ceruk leher Jelita.


Suara nafas Wiliam terdengar kian lama kian memburu di telinga Jelita, dan menampar lembut seluruh permukaan leher belakangnya.


Pria itu mulai menciumi bagian belakang daun telinga, melumaat dan memainkannya dengan menggunakan ujung lidah. Sesekali memberi gigitan kecil pada daun telinga, membuat si empunya bergelinjang karena merasa kegelian.


"Aah ..." desaah pelan Jelita, tapi cukup terdengar jelas di telinga Wiliam. Membuat ia semakin bersemangat mencumbuii istrinya.


Tak sampai hanya disitu Wiliam, mulai mengecupi punggung polos Jelita dan membuat jejak percintaan sebanyak mungkin diatas sana, hingga mirip seperti macan tutul.


Setelah puas memandangi dan juga mencicipi bagian belakang, Wiliam berhenti mencium. Lalu memutar kembali tubuh Jelita agar berhadapan dengannya. Untuk melihat sejenak wajah istrinya yang sudah memerah dengan nafas yang kian memburu.


Sungguh tidak disangka Jelita akhirnya takluk juga dan berhenti memberontak hanya dengan sentuhan hangat dari suaminya sendiri.


Wiliam menahan tengkuk Jelita dan menatapnya dengan lekat. "Sayang, aku menginginkannya malam ini. Aku sangat menginginkan dirimu. Bolehkah hem?" bujuknya merayu.


Jelita menatap Wiliam baik-baik, tak terasa air matanya menetes begitu saja. Dia tersenyum dan mengangguk pasti.


"Boleh, kau boleh mendapatkannya malam ini suamiku. Aku bersedia dan aku telah siap," balasnya yakin.


Wiliam menarik senyum dan dia begitu bahagia setelah mendengar jawaban dari Jelita, lalu tanpa banyak bicara pria itu membopong istrinya ala bridal style, membawa Jelita menuju ke tempat peraduan sesungguhnya.


Semangat melangkah penuh dengan kemenangan.

__ADS_1


...***...


Wiliam membaringkan tubuh Jelita diatas kasur dengan hati-hati, membuat istrinya senyaman mungkin saat dirinya ingin mendekati. Karena dia tahu, jika Jelita masih punya trauma mendalam akan dirinya.


Wiliam mulai merangkak naik keatas dan mengungkung raga Jelita. Pria itu menatap wajah istrinya dengan lekat dan tersenyum.


"Jangan takut, percayalah padaku. Aku akan bermain selembut mungkin," ucap Wiliam ketika melihat Jelita kembali tegang.


Wiliam mendekatkan tubuhnya, lalu melakukan pemanasan terlebih dahulu, agar Jelita kembali rileks dan berusaha membangkitkan gairahh sang istri sampai benar-benar terbangun.


Dia mulai menciumi bibir Jelita dengan lembut dan menunggu sampai ia membalas ciumannya.


Tak butuh waktu lama, Jelita akhirnya mau membalas ciumannya itu dan kini mereka berdua terpejam menikmati pertautan yang tercipta.


Keduanya saling membalas, menyesap kuat setiap lekukan bibir, melumaatnya lembut dan saling bertukar saliva.


Setelah puas mencumbuii bagian bibir Jelita, Wiliam mulai merambah turun. Membenamkan wajahnya pada ceruk leher Jelita dan bermain disana.


"Aaah ..." lirihan dan desahaan terdengar jelas saat Wiliam meraup bagian daun telinga Jelita.


Wiliam kembali menurunkan wajahnya, kali ini dia menyambar kedua gundukan kembar dan menyesapnya kuat, sesekali memainkan ujung pucuk si kembar dengan menggunakan lidahnya.


Lagi-lagi Jelita bergelinjang dan mengeluarkan suara desahaan dari bibir sensualnya.


"Eumm ... Aahh ..."


Wiliam menuruni pergunungan dan mengecup lembut bagian perut. Aksi Wiliam membuat Jelita merasakan ada yang menggelitik dibawah sana dan dia kembali mendesaah.


Wiliam menengok sejenak wajah Jelita dan ia merasakan jika gairah istrinya telah bangkit diatas 80%.


Hal tersebut membuat Wiliam semakin gencar mencumbui area sensitif saat melihat Jelita tengah membusungkan dada. Terlebih saat jemarinya mulai menyentuh bagian lembah hitam dibawah sana.


"Aah, Wil ..." lirih Jelita.


Wiliam mulai menyelusupkan satu jarinya pada bagian inti Jelita, membangkitkan keinginan dari bawah sana.


Jelita terpejam dengan wajah menengadah ke atas saat jemari Wiliam mulai menusuk masuk perlahan.


"Wil ..." lirih Jelita sambil mencengkram erat sprei pada kedua sisi tangannya.


Wiliam tersenyum, tubuh Jelita mulai menerima sentuhan dirinya. Itu ditandai dengan bagian inti Jelita yang telah basah.


"Hem .. basah," ucap Wiliam seraya mencabut jarinya.


Wiliam menggangkat kedua kaki Jelita agar menekuk dan membukanya seraya memberi jarak untuk akses masuk.


Dia membenamkan wajahnya pada inti Jelita, bermain-main di bawah sana tanpa rasa jijik sedikitpun.


Hal tersebut membuat Jelita meremang tidak karuan dan bergelinjang kesana kemari, saat daerah terlarangnya dibuat main oleh Wiliam.


"Oh Wil ... Ehmm ... Aah!" desaah dan lirih Jelita berulang kali terdengar diatas sana.


"Wil ... Aah, berhenti. Aku ... Aku mau pipis," ucap Jelita pelan namun berat menahan hasrat.


Wiliam menarik wajahnya sebentar. "Keluarkan sayang, tidak apa. Aku menunggunya," kemudian memainkan daerah sensitif itu lagi.


"Oh tidak!" Jelita menggeleng. Ketika merasakan Wiliam semakin sengit memainkan area sensitifnya.


"W-wil ..." lirih Jelita. Dadanya mulai naik turun seiring gejolak yang ingin datang pada sekujur tubuh.


"Aaahrgg!"


Setelah sekian lama akhirnya lenguhann panjang keluar juga dari bibir Jelita dan Wiliam tersenyum tertanda kemenangannya.


Jelita merasa lemas, tidak disangka permainan Wiliam membuat dirinya terbang melayang walau hanya dengan sentuhan.


Lalu bagaimana jika si ular python yang memainkannya?


Jelita meneguk ludahnya kasar dan terbelalak, saat Wiliam mulai menunjukkan senjata pusaka di depan mata kepalanya sendiri.


"B-besar sekali," gumam Jelita merasa ngilu jika benda sebesar itu menghujam masuk ke dalam intinya.


Wiliam menekan tubuh Jelita dan kembali mengungkung raga istrinya, kali ini pria itu menggenggam erat kedua tangan Jelita.


Menyelusupkan jari jemari menjadi satu dan mencengkram erat saling menguatkan.


Wiliam menciumi bibir Jelita kembali, saat si ular python kini mulai mendapat gilirannya untuk masuk ke dalam sarang.


Jelita terbelalak karena merasakan sesuatu yang besar mengesekk bagian intinya. Dia berdebar begitu kuat dan ingin melarikan diri, namun Wiliam senatiasa menggenggam erat dan menguncinya agar tidak kabur.


"Santai sayang, biarkan dia masuk," bisik Wiliam.


Jelita semakin mencengkram erat jemari tangan Wiliam saat merasakan ada sesuatu yang mendesak masuk pada bagian intinya itu.


"Wil ..." lirih Jelita mulai ketakutan.


Wiliam tidak menghiraukan hal tersebut, karena dia sedang berkonsentrasi menerobos masuk penjagaan yang begitu sempit dibawah sana.


"Oh sempit sekali," gumamnya sambil terus berusaha menekan.


"Wil, sakit!" pekik Jelita, saat intinya mulai terasa tertusuk benda tumpul.


"Sabar sayang sedikit lagi," Wiliam mendorong perlahan. Karena memang sulit sekali rasanya masuk ke dalam lubang sesempit itu.


"Akh sakit!" jerit Jelita kembali.


Wiliam menarik nafas sejenak dan berkonsentrasi, dia menegadah ke atas sambil mendesis perlahan.

__ADS_1


Sekuat tenaga Wiliam mendorong masuk ular pythonnya. "Yeah sedikit lagi," gumamnya sekssi sekali.


"Aakh Wil, berhenti!" pekik Jelita.


Wiliam menghentikan sejenak menekan pinggul, kemudian membungkam mulut Jelita. Lalu menciuminya dengan mesra, agar Jelita tidak terfokus pada rasa sakit di bagian intinya itu.


Selama Wiliam menciumi bibir Jelita, ia kembali menghentak sekuat tenaga. Menekan pinggulnya dan tak lama setelah itu ia berhasil melesakkan senjatanya ke dalam, diiringi dengan suara robekan dibawah sana.


"Emphh!!!" Jelita mulai menangis terisak saat merasakan rasa sakit serta perih mulai menjalar di sekujur bagian intinya.


Wanita itu ingin menjerit sekuat tenaga, saat penyatuan tersebut terjadi, namun suaranya telah tertelan habis oleh Wiliam.


Dia hanya bisa meremas kuat jemari tangan Wiliam yang sama erat menggengam jemarinya yang bersilang.


Kali ini ular ptyhon pria itu telah berhasil masuk dan tenggelam sempurna ke dalam liang dan Wiliam beristirahat sejenak untuk mengisi tenaganya yang hampir terkuras.


Selagi Jelita membiasakan diri untuk terbiasa dengan kehadiran ular pythonnya, Wiliam memandangi wajah Jelita yang sedang menangis dan kelelahan.


"Maaf sayang, sakit ya." Wiliam segera menghapus air mata Jelita dan menciumi wajah istrinya yang telah basah terkena air mata.


Jelita mengangguk dan terisak. "Iya, sakit sekali. Kau jahat Wil," balasnya.


Wiliam tersenyum dan meminta maaf berkali-kali. "Iya aku jahat, tapi setelah ini kau pasti akan memujiku," ucapnya lembut kemudian meraup satu ciuman dari bibir Jelita.


Nampaknya si ular python telah mengamuk, dia tidak sabar ingin menyerang dan mengobrak-abrik sarang barunya.


Kali ini Wiliam meraung keras dan mengerang hebat, saat senjatanya begitu dimanjakan oleh pijatan lembut dibawah sana.


"Oh Yes," erangg Wiliam ketika memulai hentakan pertamanya.


"Agh!" ringis Jelita ketika merasa intinya dihujam begitu kuat.


Wiliam menahan tempo dengan menggerakan pinggulnya perlahan, saat Jelita masih membiasakan diri menerima serangan darinya.


Padahal rasanya ingin sekali ia mempercepat laju gerakannya itu.


"Aah ..." desaah Jelita mulai terdengar dan Wiliam menambah tempo hentakannya.


Kali ini Jelita telah menikmati akan kehadiran senjata laras lanjang yang telah memenuhi seluruh intinya. Suara rintihan kink telah berganti dengan desahaan dan juga erangan.


Rasa nikmat yang dia terima, membuat Wiliam semakin menggila. Pria itu semakin cepat menggerakan pinggulnya naik turun, maju dan juga mundur.


Menghujam inti Jelita berkali-kali dengan pasti, dengan tidak lupa menciptakan pertautan diatas sana.


Keduanya telah memanas dan saling bertukar peluh yang semakin mengalir deras.


"Wil ... Aaah," lirih dan desaah Jelita.


"Hem ada apa sayang, bilang saja kau ingin seperti apa, aku akan mewujudkannya," balas Wiliam masih asik mempompa tubuh Jelita diatas sana.


"Lembut sedikit," lirih Jelita.


Wiliam mengerti dan mengurangi tempo gerakannya, sambil memandangi wajah sensual Jelita yang semakin menggoda dirinya.


Jelita terpejam dengan mulut yang terus mengangga, merasakan keperkasaan suaminya yang begitu luar biasa.


Mereka saling mengerang dan mendesaah kembali, ketika sesuatu gelombang hasrat mulai memuncak diatas kepala.


"Will ... A-ah! Aku ... Eumh ..." desaah Jelita merasa ada gelombang yang akan datang.


"Sabar sayang, kita keluarkan bersama."


Wiliam mempercepat tempo gerakan pada pinggulnya, saat dia juga merasakan gelombang itu sebentar lagi akan datang.


"Wil, aku sudah tidak tahan. Ah!"


Seluruh urat nadi Jelita mulai menegang dan bersamaan hal itu dia merasakan sensasi nikmat luar biasa, diiringi dengan keluarnya cairan bening beserta darah perawaannya.


"Aaarggh!" jerit Jelita dan sekujur tubuhnya mulai melemas diiringi nafasnya yang terdengar memburu.


Tak berselang lama setelah Jelita melakukan pelepasan, Wiliam akhirnya berada dipuncaknya. Pria itu menengadah keatas seperti singa yang sedang menunjukkan kekuatannya.


"Emh, sedikit lagi. Hmm yeah ...."


Wiliam meraung kuat dan mengerang keras saat senjatanya mulai berkedut dan semakin mengeras.


"Ssss ... Aaaghh!! Eugh ...."


Wiliam melakukan pelepasan seiring membuncahnya lahar hangat memenuhi seluruh liang dibawah sana.


"Ah nikmat sekali," gumamnya seraya menekan habis seluruh bisa ular yang dia miliki.


Wiliam melemas dan berganti menciumi bibir Jelita tanpa melepaskan penyatuan dibawah sana.


"Thank's sayang. I love you Jelita. Terima kasih," bisik Wiliam disisa tenaganya.


"Aku juga mencintaimu Wiliam," balas Jelita.


Mereka terbaring bersama setelah melakukan aktifitas malam pertama yang melelahkan, keduanya tersenyum dan saling memeluk. Sebelum akhirnya mereka terpejam dan tertidur lelap hingga pagi datang.


.


.


Bersambung.


...----------------...

__ADS_1


Ah setelah bab yang panjang ini, akhirnya penulis bisa bernafas lega. Terima kasih karena masih setia membaca novel recehan ini.


__ADS_2