
Michael mengajak Clara ke sebuah taman kota dan mereka duduk bersama menikmati udara sejuk disana.
Keduanya terdiam cukup lama, sampai Clara berani membuka suaranya untuk berbincang.
"Michael, apa kau ingin minum?" Clara memberikan sebotol minuman kaleng miliknya untuk Michael.
"Tidak terima kasih, aku sedang tidak ingin minum," balas Michael menggeleng.
Clara menarik uluran tangannya. "Michael, apa kau marah juga kepadaku? Karena aku tidak memberitahumu tentang kejadian Jelita beberapa waktu yang lalu?" tanyanya merasa bersalah sekali.
Michael menghela nafas. "Untuk apa aku marah, hal itu sudah berlalu. Kalaupun aku berusaha untuk merebutnya kembali dari tangan Wiliam, kurasa itu hanyalah sia-sia, karena Jelitaku tidak akan pernah bisa kembali lagi ke dalam pelukkanku," ucapnya sedih lalu menatap Clara.
"Clara, sejak kapan kau kenal dengan Wiliam. Maksudku apakah benar, pria itu seperti yang dibicarakan oleh banyak orang, kalau dia itu adalah pria yang tidak baik? Apa kau bisa ceritakan sedikit kepadaku tentang dirinya?" tanya Michael bertubi-tubi.
"Baiklah Michael, aku akan menceritakan sedikit cerita kepadamu apa saja yang aku ketahui tentang Wiliam," balas Clara.
"Terima kasih," balas Michael lalu mulai memasang telinganya baik-baik.
"Michael ... Aku mengenal pria itu karena dia adalah kakak sepupu tirinya Floren."
"Floren juga pernah bilang padaku kalau Wiliam adalah anak yatim piatu saat dirinya berusia 7 tahun karena orang tuanya meninggal akibat kecelakaan lalu lintas."
"Aku dan Floren adalah teman baik sejak masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Saat aku masuk sekolah dasar, aku sering bertemu dengan Wiliam karena ternyata kami belajar di sekolah yang sama."
"Saat itu Wiliam sudah kelas 1 SMP, dia begitu tampan. Aku sempat menyukainya saat itu, setauku selain tampan dia juga sangat baik sekali dan juga cerdas."
"Hingga suatu hari dia diberhentikan dari sekolah karena kasus kecelakaan. Aku sempat tidak menyangka karena setauku Wiliam sangat mahir berkendara walau dia masih sangat muda. Dia juga pernah bilang pada semua orang kalau rem mobilnya telah di rusak orang tidak bertanggung jawab dan bukan kecelakaan akibat dirinya yang ugal-ugalan. Tapi sayangnya tidak ada yang percaya akan hal itu, karena tidak ada satu orangpun yang membela dirinya."
"Kakeknya Wiliam tidak ada disana saat itu dan tidak ada yang memberitahu masalah Wiliam kepada beliau. Hanya ada keluarga Floren, Om Wijaksana merasa marah dan malu lalu menjebloskan Wiliam ke dalam penjara tanpa meminta persetujuan dari kakeknya terlebih dahulu."
"Padahal keluarga yang dirugikan telah memaafkan Wiliam dan menurut CCTV di jalan, Wiliam sama sekali tidak menabrak mobil tersebut, namun naas mobilnya malah keluar dari jalur dan membuat mobil angkot itu hilang kendali dan akhirnya jatuh ke dalam jurang."
"Sejak saat itu aku tidak pernah bertemu dengannya lagi, karena Wiliam telah masuk ke dalam lapas anak-anak remaja. Dia dipenjara selama satu tahun setelah kakek Wiliam tahu, akhirnya dia dibebaskan."
"Pernah aku melihatnya sekali ketika dia keluar dari penjara, Wiliam begitu berbeda. Dia terlihat pendiam dan menyeramkan. Tidak lagi ada senyuman diwajahnya, dan menurut kabar dia tidak percaya dengan siapun lagi. Termasuk kakeknya sendiri."
__ADS_1
"Sepanjang hari dia menghabiskan waktu dengan keluyuran dan keluar masuk klub malam. Tidak tahu apa yang dia lakukan di dalam sana, tapi banyak orang yang bilang kalau dia suka memainkan wanita."
"Tapi aku ragu saat semua orang mengatakan hal itu, karena aku tidak pernah mendengar ada satu pun gadis atau wanita yang pernah tidur dengannya."
"Dan yang terakhir kali aku melihatnya, ketika menemani Floren datang ke mansionnya Wiliam sambil membawa selembar foto. Saat itu Floren menginginkan Wiliam untuk menghancurkan kehormatan Jelita."
"Aku mengintip mereka berdua dan mendengarkan percakapan itu dikejauhan, karena aku memang penasaran ingin sekali mengetahui kabar Wiliam setelah sekian lama tidak bertemu dengannya."
"Aku terkejut ketika melihat ekspresi Wiliam saat Floren menunjukkan selembar foto padanya. Dia tersenyum lembut dan begitu tertarik dengan Jelita."
"Namun bukan itu saja yang membuatku terkejut, karena aku mendengar langsung dari mulutnya sendiri, kalau Wiliam menolak untuk melukai atau menghancurkan kehormatan Jelita dan lebih memilih untuk menjadikannya seorang pendamping hidup karena ingin menebus kesalahan."
"Aku tidak tahu apa maksud dari perkataannya itu, tapi yang jelas aku sangat bersyukur dia tidak melakukan hal jahat kepada seorang gadis."
...***...
Michael merenungi setiap perkataan yang diceritakan oleh Clara mengenai Wiliam. Ada satu kesimpulan yang dapat dia ambil, kalau Wiliam tidaklah seburuk dengan apa yang selama ini masyarakat katakan.
"Terima kasih karena mau bercerita kepadaku, setidaknya aku merasa lega Jelitaku berada ditangan pria yang tepat," tutur Michael.
"Hem," balas Michael dengan anggukan kepala.
"Michael, kurasa kau tidak perlu mengkhawatirkan Jelita lagi. Karena dia aman dan aku yakin Wiliam akan selalu menjaga Jelita sepenuh hatinya."
"Kau benar, tapi apa yang membuatmu yakin akan hal itu?" balas Michael dengan bertanya.
"Karena dia pernah menolongku sekali saat aku tersesat dijalan dan dia melindungiku begitu kerennya dari para pria hidung belang. Ah sudah lah Michael jangan mengungkit masa laluku," balas Clara dia tertunduk malu jika mengingat pernah di tolong oleh Wiliam.
Ketika Floren meninggalkannya di jalan sendirian.
Michael tersenyum dan sedikit tertawa melihat Clara tersipu malu, setidaknya dia bisa tertawa lagi setelah sekian lama semenjak sakit hati.
Dia juga berharap apa yang dikatakan oleh Clara adalah benar, bahwa Wiliam adalah pria yang baik dan dengan begitu dia benar-benar tenang melepas Jelita sepenuhnya.
...----------------...
__ADS_1
Perusahaan Wijaya Group.
"Hatciu!"
"Hatciu! Brengs*k! Sepertinya ada yang sedang membicarakanku," umpatnya kesal karena dia sedang tidak flu dan tidak mempunyai riwayat alergi.
Tapi Wiliam sudah bersin sepanjang pagi ini, hingga Riko sang asisten sekaligus teman seperjuangannya itu pun langsung datang menghampiri dan mengejeknya.
"Wah sepertinya ada yang lagi ngomongin si bos nih, apa jangan-jangan Jelita lagi ngomongin bos sama teman-temannya," gurau Riko.
Wiliam berhenti bekerja dan menatap tajam Riko. "Dasar asisten tukang gosip, tidak mungkin dia membicarakanku sembarangan di depan umum," ucapnya begitu yakin.
"Haha ... Maaf, hanya bercanda," balas Riko terkekeh melihat Wiliam terpancing emosi.
"Mau apa datang kesini, apa laporan yang ku berikan padamu sudah dikerjakan?" tanya Wiliam.
"Ini sudah," balas Riko lalu menyerahkan berkasnya kepada Wiliam.
"Thank's," balas Wiliam lalu membuka berkas tersebut sambil menatap Riko yang masih betah berdiri dihadapannya. "Sedang apa berdiri disitu, kembalilah ke tempatmu. Jika ada yang kurang, aku akan memanggilmu lagi," sambungnya ketus.
"Ada yang kirim ini untukmu," balas Riko seraya mengulurkan tangannya.
"Apa ini?" tanya Wiliam mengambil sesuatu dari tangan Riko..
"Lihatlah sendiri dan kau bisa baca bukan?" ejek Riko lalu bergegas kabur sebelum Wiliam melemparnya dengan sesuatu.
"Untung saja kau adalah temanku, karena jika bukan, sudah pasti akan ku patahkan batang lehernya itu!" gemas Wiliam lalu beralih membaca sebuah undangan ditangannya.
"Pertunangan Michael dan Clara."
Wiliam tersenyum dan melihat jam dipergelangan tangannya. "Sudah waktunya untuk menjemput dia," gumam Wiliam lalu bergegas membereskan pekerjaan sebelum dirinya pergi menjemput Jelita di kampus.
.
.
__ADS_1
Bersambung.