Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 141. Membeli kebutuhan.


__ADS_3

Mansion Wiliam.


Hari silih berganti, usia kandungan Jelita kini telah memasuki bulan ke delapan. Wanita itu semakin hari semakin bertambah bulat saja, ditambah perutnya yang juga membesar dan terus maju ke depan membuat Jelita sekarang ini mirip seperti seorang badut.


Namun kasih sayang dan cinta Wiliam kepada istrinya tidak pernah pudar sedikitpun, malah ia semakin menyayangi dan mencintai Jelita yang menurutnya semakin montok saja.


Seperti saat sekarang ini, Wiliam tengah asyik mencumbuii istrinya dan semakin bernafsuu saja melihat istrinya yang semakin lama semakin berisi.


"Sudah sayang, jangan seperti ini terus. Kau bisa membuatku kontraksi sekarang juga," gurau Jelita sambil menyingkirkan wajah Wiliam dari pergunungannya.


"Salahmu sendiri, tidak pakai baju seperti ini," balas Wiliam masih asyik menenggelamkan dan mengusak wajahnya diantara dua pegunungan sintal nan menggiurkan, hingga Jelita tidak henti-hentinya bergelinjang karena geli.


"Oh sayang, bagaimana aku bisa pakai baju kalau kau masih saja asyik memelukku seperti ini," cebik Jelita.


Wiliam menegadah ke atas dan menatap wajah Jelita dengan mulut yang masih asyik menyusu. "Kau semakin menggoda ku saja, bagaimana bisa aku melewatkan pagiku ini sebelum menyicipimu terlebih dahulu."


Jelita memutar bola matanya lelah, merasa capek dalam menghadapi Wiliam yang selalu saja agresif di setiap hari.


Ada saja kegiatan panas suaminya itu, entah sudah berapa banyak kali mereka bermain dan melakukannya dimana-mana tempat. Namun Wiliam dan ular pythonnya itu tidak pernah ada kenyang-kenyangnya.


"Sayang, sebelum pergi kita main sekali ya." Bujuknya merayu.


Jelita menghela nafas panjang. "Baik ... Tapi tolong lembut sedikit ya," balasnya mengingatkan agar Wiliam tidak bermain sampai gasrak gusruk.


Wiliam tersenyum lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur. "Kalau begitu, kau diatasku saja. Dengan begitu kau bisa atur sendiri kecepatannya," balasnya lalu membuka celana hingga menampakkan wujud sang ular yang telah berdiri tegak siap menerkam mangsa.


Jelita menelan ludahnya susah payah, selama ini Wiliam yang selalu mengambil kendali. Tapi kali ini, pria itu ingin dia yang memegang kendali penuh atas dirinya.


"Ayo sayang, cepatlah naik. Jangan terlalu lama berpikir, jika tidak aku akan terlambat pergi ke kantor," ucap Wiliam dengan senyuman smirknya.


Jelita menghela nafas dan tersenyum, akhirnya dia menuruti permintaan Wiliam dan memahami jika posisi bercinta seperti itu memang disarankan oleh dokter sebelumnya, karena tidak ada banyak tekanan pada perutnya yang buncit.


"Baiklah," ucap Jelita lalu mulai merangkak naik.


Wiliam tersenyum dan membantu Jelita saat memegang kendali saat berada di atas tubuhnya.


"Ah iya sayang, benar. Begitu terus," racau Wiliam terus menerus saat Jelita mulai menggoyangkan pinggulnya.


Pria itu benar-benar mengajari istrinya dengan baik, karena dalam waktu cukup singkat Jelita telah berhasil menguasai teknik itu sepenuhnya. Hingga Wiliam harus kewalahan sendiri akibat ulah Jelita yang sudah mahir bermain kuda-kudaan diatas raganya.


"Oh sayang, kau hebat sekali. Terus seperti ini aku ingin keluar," desaah dan racau Wiliam berkali-kali.


"Ahh ..." lirih Wiliam saat melakukan pelepasan pertamanya.


Mereka sama-sama menikmati penyatuan di pagi hari ini, seperti sarapan wajib yang harus dipenuhi setiap hari.


...***...


Sebelum pergi ke kantor Wiliam menyempatkan diri berbincang sejenak dengan putranya yang masih di dalam kandungan.

__ADS_1


Dia menempelkan telinganya di atas perut Jelita, mendengar suara riuh di dalam dan menunggu reaksi sang calon bayi sampai menendang wajahnya dengan sabar.


"Ayo sayang, tendang sekuat tenaga wajah Daddy mu ini," celoteh Wiliam dengan senyuman gelinya.


Perut Jelita pun bergejolak dan mengeliat kesana kemari, membuat Wiliam semakin gemas saja.


Dug!


Wajah Wiliam pun terkena hantaman sang bayi dari dalam perut, hingga pria itu segera menarik wajahnya dan melongo seketika.


"Tendangannya kuat sekali," ucap Wiliam terkesiap sambil mengelus pipinya yang terkena hantaman kecil.


Jelita hanya bisa tertawa geli dan senang melihat suaminya yang tertawa. "Bagaimana tidak kuat, dia adalah putramu."


"Kau benar, karena dia adalah anakku. Sudah pasti dia akan kuat seperti diriku ini," balasnya membanggakan diri.


Wiliam berhenti menggoda anaknya, karena dia ingat harus segera pergi bekerja.


"Sayang, tunggu aku pulang ya." Wiliam merampas bibir istrinya sebelum pergi.


"Hati-hati," balas Jelita tersenyum.


Wiliam lalu berjongkok dan menatap perut istrinya. "Tunggu Daddy pulang ya, Daddy masih ada urusan denganmu," ucapnya lalu mendaratkan satu kecupan hangat di perut Jelita.


...***...


Semenjak Jelita hamil, Wiliam tidak pernah terlambat pulang ke rumah. Karena ia selalu saja merindukan sang istri dan juga calon bayi yang masih berada di dalam perut.


Ia bergegas masuk ke dalam kamar dan segera mencari istrinya.


Wiliam terkesima ketika melihat Jelita yang sedang berdiri di dekat dinding kaca sambil memandangi dan memegang perutnya yang buncit.


Terlebih lagi sinar mentari senja yang masuk ke dalam kamarnya begitu saja, menyinari sang ibu hamil yang sedang tersenyum menatap dirinya sehabis bekerja dan itu menambah ketakjuban Wiliam akan sesosok istri tercinta.


"Kau terlihat memukau sayang," ucap Wiliam seraya melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang istri.


"Benarkah," balas Jelita.


"Tentu saja," jawab Wiliam tidak lupa mendaratkan kecupan hangatnya.


"Terima kasih," balas Jelita.


"Beritahu aku, kenapa kau memakai pakaian tipis dan terbuka di bagian perut seperti ini? Bagaimana jika anakku nanti kedinginan hem?" tanya Wiliam sambil mengelus elus perut Jelita.


"Sayang, baju hamil yang kemarin kita beli sudah tidak muat lagi," keluh Jelita seraya membentangkan pakaianya di depan Wiliam.


"Ah kasihan sekali, ya sudah aku akan memesankan beberapa baju hamil besar untukmu sekarang juga," balas Wiliam segera mengambil ponselnya. Namun Jelita menahan hal tersebut.


"Kenapa hem?" tanya Wiliam.

__ADS_1


"Sayang, sudah lama aku tidak keluar rumah. Bolehkah kalau kita langsung belanja saja ke mall, sekalian aku ingin beli perlengkapan bayi," pinta Jelita dengan tatapan memelasnya.


Wiliam terenyuh, ada benarnya juga perkataan Jelita, bahwa selama hamil istrinya itu tidak pernah keluar rumah, bahkan tugas kuliah pun semuanya dilakukan di kamar.


Pria itu tersenyum lalu menaruh ponselnya kembali. "Baiklah, aku akan menemanimu jalan-jalan ke mall. Kita akan belanja semua keperluan anak ularku ini," balasnya senang.


Jelita berbinar dan tersenyum hingga menampakkan seluruh deretan giginya yang putih, lalu mendaratkan satu ciuman mesra untuk suami tercinta.


"Terima kasih sayang, aku akan bersiap sekarang juga," ucapnya bersemangat.


Wiliam tersenyum dan senantiasa memperhatikan Jelita yang sedang kesenangan karena di ajak berjalan-jalan ke luar rumah. Ada kepuasan hati ketika melihat ia telah berhasil membuat istrinya bahagia.


...----------------...


Mall.


Jelita menarik lengan Wiliam ke pusat perbelanjaan yang menjual berbagai keperluan bayi baru lahir. Disana mereka memilih dan memilah semua barang penting untuk kebutuhan sang buah hati nantinya.


Mulai dari pakaian, selimut, tempat tidur hingga pernak-pernik bayi tidak luput mereka beli dari tempat itu dan segera membayar semua barang tersebut setelahnya.


"Sayang, semua keperluan bayi sudah dibeli. Apa kau lelah berjalan?" tanya Wiliam memastikan istrinya tidak lelah.


Jelita menggeleng. "Aku tidak lelah, malah senang sekali bisa jalan-jalan seperti ini. Wiliam, aku ingin makan es krim. Belikan ya," pintanya.


Wiliam mengangguk dan mencubit gemas hidung Jelita. "Baik, aku akan membelikanmu dua."


"Dua?" tanya Jelita.


"Benar, satu untukmu dan satu lagi sudah pasti untuk anakku yang berada di dalam sini," balas Wiliam tersenyum dan mengelus lembut perut Jelita.


"Kau selalu bisa menyenangkanku," balas Jelita.


Wiliam segera merangkul Jelita dan mengajaknya duduk di bangku yang ada di dalam resto, lalu memesan es krim dan juga beberapa makan malam untuk mereka santap.


Selama menunggu pesanan datang, Jelita mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dia terpaku saat menjumpai dua orang yang sudah tidak asing lagi untuknya.


Dua orang itu saling duduk berhadapan, sambil menyantap makan malam bersama dengan begitu romantisnya.


Jelita tersenyum, saat melihat keduanya terlihat begitu dekat dan akrab kepada pasangannya. Bahkan tidak ragu menunjukkan kemesraan di depan umum.


"Wil, coba kau lihat kesana!" pinta Jelita menunjuk ke arah sudut ruangan.


Wiliam pun menurut, lalu menoleh ke arah yang ditunjukkan Jelita dan ia menarik senyum. "Hem ... Itu Michael dan Clara."


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2