Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 29. Kesempatan


__ADS_3

Di Kelas.


Michael dan Floren masuk ke dalam kelas, mereka masih terdiam mengingat perkataan Jelita.


"Cih, tidak ku sangka si Jelek itu berani berkata seperti itu kepadaku."


Michael tersenyum, dan menatap Floren. Dirinya juga tidak menyangka bila Jelita mampu membungkam mulut Floren yang cerewet dan berujar kasar dengan perkataannya yang lembut.


"Dia memang benar, si Jelek yang kau bilang itu. Hatinya lebih cantik daripada dirimu," sindir Michael membuat Floren seketika merongos.


Michael lalu duduk santai, sambil terkekeh dan menggeleng kepalanya samar tertanda puas melihat Floren yang mati kutu.


Sedangkan Floren mencebik bibirnya karena kesal mendengar perkataan Michael dan tidak menyukai tingkahnya yang seakan-akan menyindirnya dengan gaya.


***


Jelita mengistirahatkan Ibunya di ruang istirahat untuk petugas disana, dia mengangkat ibunya sendiri dari kursi roda sekuat tenaga untuk berbaring disebuah kasur sederhana di dalam ruangan tersebut.


"Ibu istirahat lah dulu disini, nanti setelah pekerjaan rapi. Jelita antar Ibu pulang ke rumah," ucap Jelita.


Jelita memberikan minum untuk Ibu, merasa jika sang Ibu sudah cukup nyaman dengan posisinya, Jelita kemudian meninggalkan Ibu sejenak untuk melanjutkan kembali pekerjaannya.


***


Sementara itu, si Nyonya Besar sedang menemui temannya yang kebetulan berada di kantor. Nyonya Caca menceramahi temannya itu karena tidak memberi tahu dirinya jika ada seorang anak dibawah umur dan juga kurang mampu yang bekerja di lingkungan kampusnya.


"Lis ... Kamu kan tahu kalau aku membuka yayasan untuk anak-anak putus sekolah dan warga kurang mampu. Mengapa kamu tidak memberitahuku dan malah membuatnya bekerja disini. Dia itu masih dibawah umur."


Nyonya Lista, yang kebetulan teman baiknya itu berusaha menjelaskan kepada Nyonya Caca bahwa Jelita bekerja atas kemauannya sendiri.


"Aku sudah melarangnya Ca, tapi dia itu seperti dirimu, yang selalu ingin mencari nafkah dengan usahanya sendiri. Tidak ingin ketergantungan dengan pemberian orang lain. Lagipula aku sudah memintanya mengikuti program anak asuh sejak lama. Sejak anak itu putus sekolah, untuk dia melanjutkan kembali sekolahnya, tapi entah mengapa dia selalu menolaknya dan lebih memilih bekerja."


Nyonya Caca kemudian merenung, mengingat dirinya yang dulu. Selalu menolak tawaran pak Tris yang memintanya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan lebih memilih bekerja dan tidak ingin menggunakan harta ayahnya yang berlimpah sepeserpun. Mengikuti orang tua angkatnya dan memilih hidup sederhana.


Nyonya Lista menghela nafas, dia berdiri dan menatap keluar jendela. "Ku kira di dunia ini orang bodoh hanya dirimu saja, tetapi ada juga yang lainnya." Dia lalu terkekeh hingga membuyarkan lamunan Nyonya Caca.

__ADS_1


Sedangkan Nyonya Caca hanya gemas dengan ucapan temannya itu. "Kau menyindirku ..." balasnya sambil melipat kedua tangan di depan dada.


Nyonya Lista menggeleng. "Tidak, aku hanya tidak habis pikir saja, jika mengingat dirimu yang dulu. Kau menjalani kehidupanmu yang begitu menegangkan, hidup miskin dan selalu dalam bahaya. Hingga akhirnya kau bisa menemukan pria yang mencintaimu dan kalian bisa menikah setelah menghadapi perjuangan yang cukup panjang."


Nyonya Caca pun tersenyum. "Benar ... Sudah lah Lis, tidak usah dibahas lagi. Itu sudah berlalu cukup lama. Sekarang aku ingin kau memanggil Jelita untuk bertemu denganku."


"Baiklah."


***


Jelita menjeda pekerjaannya karena mendapatkan panggilan mendadak. Dirinya was-was mengingat kejadian tadi di halaman.


"Ya Tuhan, kenapa aku dipanggil? Apa karena wanita itu, apa dia mengadukan ku ke pihak kampus karena tidak senang dengan perkataanku tadi?" tanya Jelita pada dirinya sendiri.


"Tok tok tok!"


"Masuk!" sahut Nyonya Lista si Ibu Yayasan kampus.


Jelita begitu panik, tidak biasanya Ibu Yayasan yang memanggil dirinya secara langsung.


"Selamat siang."


Jelita pun duduk di sebelah Nyonya Caca. Jelita memandangi wanita yang duduk di sebelahnya itu dengan lekat, dalam hatinya bertanya-tanya. Siapakah wanita yang duduk di sebelahnya, apakah Nyonya itu adalah ibunya Floren.


"Jelita perkenalkan, Nyonya ini dari Yayasan Djuanda Foundation, dia datang ingin bertemu denganmu," ucap Nyonya Lista.


Jelita manggut-mangut sambil menyambut uluran tangan untuk berjabat tangan. Jelita mengenal yayasan itu, tapi dia masih penasaran apa hubungan yayasan itu dengan dirinya. Dia masih menatap Nyonya Caca tiada henti, seperti mengenalnya tapi entah dimana.


"Dia adalah Nyonya Caca," ucap Nyonya Lista kembali membuat Jelita seketika merinding.


Jelita yang terkejut, dengan segera berdiri dan membungkuk meminta maaf. "Maaf Nyonya, saya tidak sopan karena telah berani duduk disamping anda Nyonya besar."


"Tidak apa, duduk saja disini. Salahku juga yang menyamar seperti ini." Nyonya Caca berdiri dan mengajak Jelita untuk duduk kembali disampingnya.


Setelah kembali duduk, begitu pula dengan Nyonya Caca. Dia lalu mengeluarkan satu map berisi formulir pendaftaran dan menjelaskan maksud tujuannya bertemu dengan Jelita.

__ADS_1


"Jelita, aku mendengar banyak tentang dirimu dari putraku Michael dan juga beberapa orang kepercayaan ku. Termasuk Ibu Yayasan kampus, Nyonya Lista."


"Kau pasti sudah mendengar tentang yayasan keluarga Djuanda kan, disana banyak anak seperti dirimu."


"Kau layak mendapat bantuan Nak, aku ingin membantumu, mewujudkan impian dan juga memperbaiki kehidupanmu agar lebih baik. Kau bisa mengeyam pendidikan tinggi, mendapat perlindungan dan kau juga tidak perlu bekerja. Kau hanya perlu belajar, menemukan jalan untuk menggapai cita-citamu sendiri," ucap Nyonya Caca.


Nyonya Caca kemudian mengulurkan Formulir tersebut kepada Jelita untuk dibaca dan diisi. "Terimalah formulir ini dan isi lah dibagian yang kosong lalu kau tanda tangani disini."


Jelita menatap formulir tersebut dan masih terselip keraguan dalam hatinya. "Tapi bagaimana dengan ibuku, aku harus merawatnya. Jika aku pergi bagaimana dengan dirinya, siapa yang akan merawat dan membiayai pengobatannya."


Nyonya Caca mengulum senyum, "Aku mengerti dengan semua itu, makanya aku telah memutuskan untuk menjadikanmu anak asuh pribadiku. Kau bisa belajar sambil mengurus ibumu, selama kau belajar akan ada yang membantu dirimu dalam merawat dan menjaga ibumu. Aku juga akan menanggung biaya pengobatan ibumu Jelita."


Jelita terdiam, berusaha mencerna perkataan dari Nyonya itu. "Anak asuh pribadi?" tanya Jelita masih bingung.


"Benar! kau akan menjadi anak asuh pribadiku, berbeda sedikit dengan anak asuh biasa. Kau akan ku pegang secara langsung, secara pribadi. Kau akan menjadi tanggung jawabku secara penuh," balas Nyonya.


"Bukankah itu akan menimbulkan kecemburuan pada yang lain nantinya?" tanya Jelita.


Nyonya Caca menggeleng. "Tidak sayang, mereka tidak akan cemburu, karena mereka menerima perlakuan yang sama. Hanya saja, mereka anak asuh biasa akan di pantau oleh Yayasan, tapi jika anak asuh pribadi akan dipantau langsung olehku," balas Nyonya Caca.


"Tapi bagaimana dengan pekerjaanku disini?" tanya Jelita kembali.


"Tidak masalah, aku akan mencari penggantimu. Ku sarankan kau lebih baik mengambil kesempatan ini," balas Nyonya Lista dengan cepat.


Nyonya Caca lalu mendekati dan memegang kedua bahu Jelita.


"Dengarkan ini Jelita, ini adalah kesempatan yang baik untukmu. Tapi kau bisa pikirkan terlebih dahulu, jika nanti sudah merasa yakin dan mendapatkan jawabannya, kau bisa langsung memberitahu Nyonya Lista dan dia yang akan menghubungi ku secara langsung."


Jelita memeluk formulir tersebut dan memikirkan kembali apa yang akan terjadi jika dia menjadi anak asuh pribadi Nyonya Caca. Apakah baik untuknya atau tidak, karena dia khawatir akan ada timbal balik kedepannya nanti.


Tapi pengobatan Ibu begitu penting, dirinya juga ingin mendapatkan kehidupan yang lebih baik agar bisa mengangkat derajat ibunya. Jelita lalu menghela nafas panjang, membuang semua keraguan dan juga beban dalam pikirannya.


Dia menatap yakin Nyonya dihadapannya itu dan dengan tegas dia berkata. "Baiklah Nyonya, aku setuju menjadi anak asuh mu. Tapi, biarkan lah aku bekerja melayanimu."


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2