Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 17. Bu Maria, ibu semua anak.


__ADS_3

"Cih! kalian dengar apa yang diucapkan oleh Michael tadi? karena si Jelek itu Michael jadi memarahi kita," ucap Sandra mengatur nafasnya yang sesak karena kesal.


"Michael bahkan berani mengancam kita hanya karena wanita gembel itu, sunguh menyebalkan. Ternyata si Jelek itu benar-benar licik, dia mampu mempengaruhi pikiran Michael dengan trik rendahannya. Menggunakan air mata dan juga tampang polos sok sucinya itu sampai Michael pun tidak ingin mengerjainya lagi," ucap Mika.


"Benar, aku yakin dia pasti memelas di depan Michael untuk mendapatkan simpati agar Michael merasa iba kepadanya dan menghasut pikiran Michael untuk tidak menganggunya lagi dan berbalik mengadukan perbuatan kita yang sudah melakukan kekerasan kepadanya," ucap Nadia.


"Bisa jadi Nad, entah apa yang dia katakan kepada Michael. Pasti Michael telah tercuci otaknya oleh si Jelek itu sampai Michael mau berhenti membencinya dan rela tidak berteman lagi dengan kita demi wanita itu," balas Sandra.


Clara menatap Floren yang terlihat kesal dan bertanya. "Flo, apa rencanamu sekarang? Michael tidak menyukai kekerasan dan karena kejadian tadi dia malah membenci kita dan sekarang dia meminta kita untuk tidak mengganggu wanita itu lagi."


Floren mengepalkan tangannya dengan kuat dan berdecak kesal, "Huh! gadis itu membuatku kesal, entah bagaimana Michael bisa berubah dengan cepat begitu saja. Clara, aku harus menemui si Jelek itu," ucap Floren lalu ingin pergi keluar kelas.


"Flo kau ingin apa? jangan mengganggu gadis itu, jika tidak Michael akan semakin membencimu," balas Clara menahan Floren.


Floren berbalik dan membalas perkataan Clara. "Aku hanya ingin memberinya pelajaran, biarkan saja Michael membenciku. Aku tidak takut karena yang terpenting bagiku, aku bisa membalas wanita hina itu."


"Tapi Flo pikirkanlah baik-baik untuk apa kau melakukan itu semua, bersabarlah kita pikirkan cara yang lain. Bagaimana jika ada orang yang melihatmu melakukan kekerasan kepadanya?" ucap Clara.


"Tenang Clara aku masih waras, aku hanya ingin memperingatinya saja sebelum wanita itu menjadi sombong dan merasa dirinya di atas angin. Aku hanya ingin menyadarkan si jelek itu akan posisinya disini agar dia tidak berusaha melewati batasannya!" Floren kemudian pergi dari kelas.


Sementara itu Clara mencemaskan Floren, dia mengenal betul sifat Floren yang selalu menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.


"Floren, ku harap kau jangan gegabah yang akan menghancurkan dirimu sendiri," gumam Clara sahabat baik Floren.


***


Sementara itu Michael sedang duduk di bangku taman, dia berteduh di bawah pohon rindang dan memejamkan kedua mata sambil menikmati udara segar di siang menjelang sore hari.


Michael bersandar pada badan kursi besi tegak dibelakangnya dan merentangkan kedua tangan dengan kepala yang menengadah ke atas, Michael bersantai dan menikmati suara alam bebas disekitarnya.


Suara kicauan burung, desiran angin yang bergesekan dengan daun dan juga suara gerakan sapu lidi yang konstan memenuhi kepalanya.


"Srek!"

__ADS_1


"Srek!"


"Srek!"


Michael perlahan membuka kedua matanya, lalu mencari sumber suara itu dan mendapati Jelita yang sedang menyapu halaman kampus.


Angin yang menghembus menerpa Jelita membuat rambutnya yang sejak tadi tergerai menjadi tak beraturan, sesekali wanita itu menyelipkan anak rambutnya kebelakang telinga.


Terkadang dirinya harus berperang dengan angin yang selalu menerbangkan daun kering yang telah susah payah dia sapu bersih, hingga Michael dengan sendirinya mengeluarkan sebuah tawa kecil ketika melihat tingkah laku Jelita.


Jelita menjeda pekerjaannya untuk memperbaiki kacamata tebalnya yang sudah tidak layak pakai lagi itu berkali-kali karena gagang yang rusak sering terlepas dari penyangganya.


"Dia benar-benar miskin ..." gumam Michael masih terus memperhatikan Jelita.


***


Tak berselang lama seorang guru besar menghampiri Michael, dia pun menyapa murid yang sedang duduk tersebut.


"Michael, kau sedang apa disini, mengapa tidak di kelas. Apa kamu sedang ada masalah?" tanya Bu Riana kemudian duduk disebelah Michael.


Bu Riana menghela nafas. "Andaikan saja Bu Maria masih disini, dia tidak akan membiarkan seorang murid melamun dan duduk sendirian."


Michael yang kebetulan ingin mengetahui tentang Bu Maria pun bertanya, "Siapa sebenarnya bu Maria, Bu?


Bu Riana menjawab, "Bu Maria itu sudah seperti ibu bagi semua anak murid disini, sifatnya yang baik dan juga keibuan membuat siapapun mencari dirinya. Mereka sering mencurahkan isi hati dan juga masalah kepada bu Maria dan ajaibnya bu Maria selalu bisa membuat anak yang datang kepadanya kembali tenang dan ceria."


Michael yang masih belum mengerti kemudian bertanya kembali, "Mencurahkan isi hati ... mengapa mereka selalu mencari bu Maria?"


"Kau tahu para murid disini adalah anak-anak dari kalangan atas dan terhormat seperti dirimu, namun karena pekerjaan orang tua mereka yang selalu sibuk dan status sosial keluarga kaya membuat mereka tidak ada waktu luang bersama anak mereka."


Michael terdiam dan mulai mengerti diapun terus mendengarkan dengan seksama, lalu Bu Riana melanjutkan kembali perkataannya.


"Anak-anak menjadi kurang perhatian dan juga kurang butuh kasih sayang dari orang tua. Mereka menjadi anak broken home yang tidak tahu harus kemana jika ada masalah dan selalu menyendiri, terkadang mereka tidak mempunyai rasa kepedulian terhadap sesama."

__ADS_1


"Bu Maria mengerti kondisi anak-anak tersebut, dia sering menghampiri anak-anak yang sering menyendiri tak punya teman untuk bercerita. Bu Maria juga menjadi pendengar yang baik, dia membuat hati anak-anak tersebut menjadi hangat dan lega. Mereka merasa kehangatan seorang ibu dari bu Maria, hingga bu Maria dijuluki ibu nya anak-anak kampus disini."


"Sejak saat itu mereka selalu mencari ibu Maria jika butuh solusi atau hanya ingin sekedar minta ditemani dan membutuhkan pelukan. Kami sebagai guru pembimbing dirasa tidak bisa menandingi kehangatan dari bu Maria."


"Mengapa beliau melakukan itu semua?" tanya Michael.


"Dia melakukan itu semua agar anak-anak tersebut tidak mengambil jalan pintas yang bisa merusak dan menyesatkan dirinya sendiri. Maka dari itu beliau memilih menyempatkan diri untuk menemani anak-anak broken home, walau dia sendiri sibuk dengan pekerjaannya. Bu Maria juga selalu ada disaat mereka membutuhkan dan siapa saja bisa datang kepadanya tanpa pandang bulu karena beliau merangkul semua anak disini."


"Sayangnya beliau jatuh sakit, sehingga mereka merasa seperti kehilangan sosok seorang ibu. Tetapi mereka tetap mengingat bu Maria, karena kebaikannya."


Michael terdiam kemudian dia melihat Jelita dan bertanya kembali kepada Bu Riana, "Lalu, bagaimana dia bisa kerja disini, dan kenapa bu Maria bisa sakit?"


Bu Riana melihat orang yang di tunjuk oleh Michael, kemudian tersenyum, "Semenjak bu Maria sakit dia yang mengantikan pekerjaan ibunya, tapi karena itu juga Jelita jadi putus sekolah demi mencari uang. Pihak kampus sebenarnya telah melarang dia bekerja karena mengingat usianya yang masih dibawah umur."


"Namun karena kesungguhan hati Jelita yang ingin mengobati ibunya membuat pihak kampus menjadi iba dan menyetujui dia untuk bekerja disini. Tapi karena umurnya yang masih muda, kita tidak terlalu mengekang waktu dia untuk bekerja."


"Dia diberi ijin khusus untuk pulang ke rumah dan merawat ibunya yang sedang sakit dan juga waktu bekerja yang tidak terlalu lama seperti yang lain. Kalau mengenai kenapa ibunya bisa sakit, kita juga masih belum mengetahuinya," jelas Bu Riana kepada Michael.


Michael terdiam dia sedikit merenung dengan kejadian sebelumnya, bagaimana dia telah berbuat tidak baik kepada gadis itu.


"Michael kemana almamatermu? apa kau tahu penampilanmu yang seperti ini bisa menggoda iman banyak gadis." Bu Riana kemudian menggoda Michael.


"Ah masa Bu?" tanya Michael tidak percaya, kemudian dia mengingat kembali kejadian aneh yang terjadi kepada para siswi saat melihatnya.


"Pantas saja," gumam Michael.


"Almamaterku ada di kelas, aku akan mengambilnya dan pulang," balas Michael.


"Ya sudah Ibu ingin balik ke kantor, jika pulang jangan keluyuran kemana-kemana," perintah bu Riana lalu Michael membalas dengan senyum dan anggukan kepala.


"Almamater ku ketinggalan di toilet, aku harus mengambilnya kesana," gumam Michael lalu berdiri menuju toilet tempat dimana dia lupa menggantung almamaternya.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2