
Mansion Chandra Putra.
Kembali lagi ke rumah Michael. Setelah makan siang, Nyonya Caca mengajak Floren ke sebuah paviliun yang berada di taman belakang dekat kolam berenang. Di dalam sana mereka berbincang satu sama lain, membicarakan apa saja mengenai diri mereka masing-masing.
"Floren, bagaimana dengan Michael di kelas. Apa Michaelku berlaku baik kepadamu?" tanya Nyonya Caca.
Floren mengulum senyum karena inilah saat untuk dirinya meracuni pikiran Nyonya Caca.
"Mike ... Dia kadang baik, kadang buruk juga padaku," balas Floren.
"Apa yang membuat dia berlaku buruk padamu sayang?" tanya Nyonya Caca.
"Ya, banyak. Kadang dia tidak suka di nasehati, jika dirinya sedang salah. Apalagi dia suka sekali menggodaku di kampus, dan dia akan marah jika aku melarangnya menyentuhku."
"Apa Michael ku seperti itu di kampus?"
"Ya Mike seperti itu, dia sulit sekali di atur, dia terkadang pergi keluar kelas saat dirinya bosan dan baru mau balik ke kelas jika aku yang membujuknya," balas Floren.
"Apa hubungan mu dengan Michael baik-baik saja disana? Apa kalian pernah bertengkar?" tanya Nyonya Caca kembali.
"Hubungan kami baik Tante, cuma kami pernah bertengkar saat ada si Jelita. Gadis cleaning servis itu, dia berusaha merayu Mike, padahal aku sering sekali melarangnya untuk dekat dengan Mike. Tapi gadis itu sungguh tidak tahu diri, dia selalu saja mendekati Mike, entah apa tujuannya yang jelas pasti karena harta," Floren menghela nafas dan melirik Nyonya Caca yang terdiam.
"Oiya Tante bukan hanya itu saja, aku dan Mike pernah bertengkar hebat karena si gadis kampung itu memfitnahku, dia bilang pada Mike kalau aku yang membuatnya di pecat dari kampus. Padahal aku sendiri tidak tahu jika dia sudah berhenti bekerja dari sana, tapi ternyata dia diam-diam berbicara kepada Mike, jika aku yang membuatnya di pecat,"
"Jelita di pecat?" tanya Nyonya Caca.
"Iya dia dipecat, sebab bukan karena kerjanya saja yang tidak becus, tapi dia juga suka menggoda pria-pria kaya disana bahkan Michel di goda olehnya. Makanya dia dipecat oleh pihak kampus," balas Floren.
"Begitu kah?" tanya Nyonya Caca kembali.
"Benar Tante, sebab itu Mike dan aku sering bertengkar. Ah entah apa yang di lakukan oleh cewek itu, hingga Mike yang mesra kepadaku malah membenciku sekarang. Padahal aku selalu bersikap baik padanya." Floren lalu menangis.
"Tante, tolong bujuk Mike kembali padaku. Dia sebenarnya mencintaiku Tante, dia hanya salah paham. Aku sama sekali tidak membuat wanita itu di pecat, tapi dia yang telah dihasut oleh wanita itu Tante agar membenciku."
"Sudah sayang jangan menangis, Tante akan bicara dengan Michael ya agar hubungan kalian baik kembali ya," bujuk Nyonya Caca.
"Benarkah Tante, terima kasih. Mike hanya mendengarkan kata-kata dari mu saja," ucap Floren.
Nyonya Caca menghapus air mata Floren. "Sama-sama. Kau tenang saja, Tante pasti akan membujuk Michael agar berhubungan baik denganmu," balas Nyonya Caca.
__ADS_1
Floren tersenyum dia merasa rencana nya telah berhasil, namun nyatanya Nyonya Caca telah mengetahui lebih banyak dari pada Floren.
Nyonya Caca hanya tersenyum saat mengetahui sifat asli dari Floren.
"Sayang sekali, jika saja hatinya baik. Mungkin dia bisa ku jadikan sebagai menantu, tapi melihatmu hari ini, aku rasa sudah cukup. Jika hubungan ini tidak bisa di teruskan."
***
Beberapa saat kemudian Michael turun dari kamarnya, dia merasa kelaparan sekali. Matanya beredar mencari sesosok wanita yang tidak dia sukai.
"Syukurlah dia tidak ada dimana-mana," gumam Michael lalu berjalan menuju dapur untuk makan.
Dia bertanya kepada Bi Sari yang sedang membereskan peralatan dapur. "Bi, apa si cewek ular itu sudah pulang?" tanya Michael dengan mulut yang penuh dengan makanan.
Bi Sari pun terdiam dan berpikir sejenak. "Cewek ular? Maksud Tuan, Nona Floren?" tanya Bi Sari.
Michael mengangguk dan menelan makanan dengan susah payah. "Iya dia siapa lagi," balasnya.
"Oh Nona itu belum pulang, sedang ada di taman belakang bersama Nyonya," balas Bi Sari lalu melanjutkan kembali pekerjaannya.
Michael pun cemberut, "Ck!" dia lantas bergegas menghabiskan makanannya dan berniat untuk menemui seseorang.
***
Sesampainya disana, Michael tidak menemukan orang yang di cari. Diapun bertanya kepada Suster Desi. "Sus, dimana si Jelita?" tanya Michael dengan mata yang terus waspada takut ketahuan si Floren.
"Dia sedang pergi, tadi di perintahkan oleh Nyonya ke suatu tempat," balas Suster Desi.
"Kemana?" tanya Michael kembali.
"Tidak tahu Tuan, Jelita tidak bilang nama tempatnya," balas Suster Desi.
Michael melipat wajahnya berkali-kali, merasa kesal. "Ini semua gara-gara wanita itu, jika dia tidak datang kesini, mungkin aku sudah bisa pergi ke rumah teman-temanku," oceh Michael merasa bete dan kesepian.
Dia lalu berjalan ke arah lapangan didepan sana untuk bermain basket demi menghabiskan hari liburnya yang menyebalkan.
……………………………………………………………………………
Beauty Skin Care Clinic.
__ADS_1
Jelita mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali lalu membuka mata perlahan. Dirinya terkejut saat melihat sudah banyak orang yang berkunpul di sekitar dirinya.
Orang-orang tersebut tersenyum dan menatap Jelita begitu kagum.
"A-ada apa ya?" tanya Jelita merasa aneh sekali dipandangi banyak orang.
Tanpa banyak kata, orang-orang meminta Jelita menengok ke sebuah cermin besar di belakangnya.
"B-belakang? aku harus menengok ke belakang maksudnya?" tanya Jelita sambil menunjuk-nunjuk belakangnya dan mereka mengangguk serempak.
"Baiklah," patuh Jelita.
Jelita lalu memutar bangku dan mulai menatap cermin dengan seksama. Netranya seketika membola saat melihat pantulan dirinya di depan cermin.
Jelita mendadak kaku dan hanya bisa mengangga lebar. "A-apa itu aku?" tanya Jelita menoleh ke arah orang-orang dan bergantian menoleh melihat cermin kembali sambil menunjuk-nunjuk dirinya pada pantulan benda itu seperti tidak percaya.
Dokter Evelyn yang baru datang berjalan menghampiri Jelita. "Itu benar kamu Jelita, coba lihat lagi dengan jelas," ucap dokter Evelyn sambil memegang kedua bahu Jelita.
Jelita menatap dirinya dengan lekat, pada sebuah cermin besar dihadapannya. Dia menyentuh wajah dan mengelus begitu lama, "Halus sekali," ucapnya.
Dia kemudian mengagumi penampilannya sendiri, seperti bocah dapat mainan baru. Begitu norak dan mengoceh tiada henti.
Jelita begitu senang dan puas dengan hasil kerja semuanya. Dia menatap semua orang dan menangis haru, Jelita kemudian meraih tangan ajaib dokter Evelyn, "Terima kasih ... terima kasih semuanya."
Dokter Evelyn dan yang lainnya pun tersenyum ikut terharu dengan penampilan Jelita yang sekarang. "Kamu bagai berlian yang tertutup oleh lumpur, membuat kilaunya tidak terlihat. Tapi sekarang lumpur itu telah hilang dan kau sudah kembali bersinar dan terlihat begitu mempesona. Tak heran jika Ibumu memberi nama Jelita, karena sebenarnya kamu sudah cantik."
"Benarkah begitu, terima kasih." Jelita pun menangis makin menjadi-jadi membuat semuanya tertawa bercampur sedih.
"Jangan menangis dan jangan berterima kasih seperti itu, karena semua ini sudah menjadi tugas kami. Sekarang pulang lah, beritahu Nyonya Caca, jika lumpur itu sudah hilang sekarang. Dan jangan lupa merawat tubuh dan wajahmu secara rutin ya," ucap dokter Evelyn.
Jelita mengangguk dan memeluk semua orang disana. "Terima kasih semuanya.
"Sama-sama," balas mereka serempak.
.
.
Bersambung.
__ADS_1