
Sore hari telah tiba, setelah puas menikmati alam di daerah sekitar. Wiliam dan Jelita akhirnya memulai sesi pemotretan untuk foto prewedding.
Seorang fotografer beserta kru dan juga team make up dari bridal, dengan sigap memberikan pelayanan tertanda profesionalitas kerja mereka.
Macam-macam pose selalu mereka arahkan untuk hasil foto yang terbaik dan segera merapihkan riasan serta gaun, jika ingin masuk ke pose berikutnya agar sang calon pengantin tetap terlihat paripurna demi hasil foto yang memuaskan.
Hal tersebut membuat Jelita kelelahan, terlebih Wiliam selalu saja melakukan kesalahan dalam setiap pemotretan.
Pria itu tidak sabar, selalu saja mengecup dan mengecup bibir Jelita berkali-kali, yang seharusnya hanya sekedar saling menempelkan hidung dan dahi saja.
Seperti sengaja pria itu melakukan kesalahan, hanya karena ingin berlama-lama memandangi calon istrinya dalam jarak yang sangat dekat.
Wiliam hanya tersenyum-senyum saja, ketika ditegur berkali-kali oleh sang Photografer. Alhasil sudah hampir jam 10 malam, mereka masih belum mendapatkan foto yang maksimal.
"Wiliam tolong seriuslah, aku sudah capek berdiri dan bergaya seperti ini terus. Kita turuti saja keinginan mereka ya, biar cepat selesai," ujar Jelita, sambil menahan tubuhnya yang sedang ditarik oleh lengan Wiliam.
"Kau begitu menggoda sekali Jelita, bagaimana bisa aku menahan diri untuk tidak menciummu," balas Wiliam mendekatkan kembali wajahnya.
Karena memang gaun yang dipakai oleh Jelita kali ini, membuat Wiliam tidak berhenti berkedip dan tidak ingin sampai melewatkan kesempatan yang ada di depan mata.
Ingin sekali rasanya mengecup seluruh bagian bahu dan juga leher jenjang Jelita, karena gaun tersebut memang dibuat terbuka tanpa sehelai benang pun pada bagian atasnya hingga se atas dada.
Apalagi pada bagian tengah gadis itu, yang sedikit terpampang belahannya dan sangat menantang untuk Wiliam sendiri.
Begitu menggiurkan untuk dipandang.
"Wil, jangan pandangi aku terus seperti itu!" bisik Jelita penuh penekanan. "Dan kenapa gaun ini tidak sesuai dengan pesananku?" gumamnya dalam hati.
Entah mengapa gaun yang telah dia pesan bisa berubah begitu saja dan berbeda jauh dari yang pernah ia minta sebelumnya.
Seperti mencium bau-bau campur tangan dari Pria dihadapannya itu.
"Jangan katakan kau yang mengganti gaun pilihan ku ini," ucap Jelita.
Wiliam tersenyum. "Tidak diganti sayang, hanya sedikit di modifikasi saja."
"Apanya yang sedikit, ini tidak sesuai dengan apa yang aku pesan. Banyak belahan dimana-mana, aku bisa masuk angin jika punggungku terbuka lebar seperti ini," gerutu Jelita sambil menunjuk-nunjuk bagian yang salah dengan gaunnya.
"Kalau begitu sini aku peluk, biar badanmu tidak masuk angin dan kedinginan." Wiliam mendekap Jelita dengan erat, bermaksud menutupi semua bagian tubuh wanitanya yang terekspos.
"Tidak mau, pergi sana. Menjauh dariku!" tolak Jelita, merasa tidak nyaman karena Wiliam menggelayut manja di atas punggungnya.
Sedangkan sang fotographer hanya bisa geleng-geleng kepala, karena melihat keduanya tidak bisa di ajak bekerja sama.
Mau tidak mau photograper itu hanya mengambil foto sesuai kemampuannya, walau foto tersebut melenceng jauh dari konsep yang diinginkan oleh mereka sebelumnya.
...***...
Malam hari.
__ADS_1
Setelah selesai melakukan sesi pemotretan yang sangat panjang dan cukup melelahkan serta tidak tahu juntrungannya kemana, Wiliam dan Jelita kembali lagi ke dalam kamar hotel.
Jelita pergi ke kamar mandi sejenak, untuk membersihkan diri dan menukar pakaiannya yang serba bolong dimana-mananya itu.
Sedangkan Wiliam langsung membuka kemeja dan juga jas yang melekat pada tubuhnya, lalu menghempaskan diri ke atas kasur begitu saja tanpa cucian lagi.
"Ahh nyaman sekali," ucap Wiliam sambil menggeliat kesana kemari seperti ular.
Beberapa saat kemudian, Jelita keluar dari kamar mandi dan melihat Wiliam sudah tergeletak diatas kasur tanpa bertanya lagi. "Hei kau! Jangan tidur disana!" tegasnya.
"Kalau aku tidak boleh tidur disini, aku harus tidur dimana sayang? Diatasmu hem?" tanya wiliam seenak jidat.
"Tidurlah di atas sofa sana!" Jelita menunjuk sofa di dekat dinding kaca.
Wiliam menoleh ke arah sofa yang sedang ditunjuk oleh Jelita. "Tidak mau," balasnya dengan gelengan kepala.
Jelita mengelus dada. "Baiklah, kalau kau tidak mau tidur disana, biar aku saja yang tidur di sofa!" ucapnya kesal, lalu merampas bantal kepala dan juga guling untuk ia tidur.
"Hoam ... Ngantuknya," gumam Jelita sembari menutup mulutnya. Lalu merangkak naik ke atas sofa dan berbaring.
Sekali lagi wanita itu melihat ke arah Wiliam yang sudah tertidur pulas di atas kasur. "Dasar pria egois!" umpatnya kesal.
Jelita mulai memejamkan kedua matanya, karena rasa kantuk yang menjalar di kedua mata, ia pun akhirnya tertidur pulas di atas sofa.
...***...
Deru ombak terdengar menusuk indera pendengaran Jelita, menggantikan suara kokok ayam dipagi hari. Sinar mentari mulai meninggi dan gadis manis itu pun mulai terbangun dari tidurnya.
Dia mengerjapkan kelopak mata berkali-kali, untuk menyesuaikan seberkas cahaya yang baru saja masuk ke dalam indera penglihatannya.
"Hoam ..." Jelita menguap dan masih setengah sadar dengan mata masih sulit untuk dibuka.
Wangi yang menyeruak ke dalam indera penciumannya, membuat ia betah berlama-lama tidur dan enggan membuka mata.
"Hem ... Kenapa sofanya wangi sekali," gumamnya dalam hati, sesekali menghirup aroma wangi itu dalam-dalam dan dikecupnya lembut.
Gadis itu terdiam sejenak, sambil terus meraba-raba ke sekitar. Karena merasa aneh dengan rasa sofa yang ia pernah tiduri sebelumnya.
"Loh kok beda?" ucapnya pelan dengan mata masih terpejam rapat.
"Bangun dasar tukang tidur, sampai kapan kau mau memeluk dan meraba dadaku seperti itu," ucap Wiliam sambil terus menatap Jelita yang masih saja enggan menyingkir dari atas tubuhnya.
Mendengar suara Wiliam begitu dekat di telinga, Jelita membuka matanya segera dan menoleh ke arah sumber suara.
Deg!
Seketika itu pula dia terbelalak, ketika mengetahui jika dirinya sedang memeluk Wiliam bagai bantal guling kesayangannya.
Terbaring berduaan di atas kasur yang empuk dan nyaman, memakai dada pria berotot itu sebagai sandaran kepalanya tanpa permisi.
__ADS_1
Dan lebih sialnya lagi, satu tangannya itu masih saja meraba-raba dada Wiliam dengan gemasnya.
Seperti pencuri yang sedang tertangkap basah, begitu pula dengan Jelita, hingga gadis itu langsung hilang muka saat itu juga.
"Oh tidak, apa yang sedang aku lakukan?"
"K-kenapa aku bisa di sini dan mengapa kau bisa ada disebelahku?" Jelita langsung duduk dari pembaringannya, sambil memandangi seluruh pakaiannya yang masih lengkap.
"Katakan, apa yang kau lakukan disini dan kenapa aku bisa tidur bersamamu," ucapnya panik sekali.
Karena sepengetahuan gadis itu, semalam ia tertidur pulas di atas sofa. Tapi entah mengapa ketika ia terbangun dipagi hari, dirinya sudah berada di atas kasur saja.
Wiliam menumpu kepalanya dengan satu tangan dan menatap Jelita yang masih kelimpungan. "Aku kasihan melihatmu tidur sendirian di atas sofa dan meringkuk kedinginan."
"Jadi selagi kau masih mendengkur, aku si pria yang baik hati ini, dengan sukarela berbagi kasur denganmu. Lalu membopong tubuhmu yang lumayan berat itu, untuk tidur disisiku dan membantu menghangatkan diri mu disini," balas Wiliam sambil menepuk-nepuk dadanya.
"M-menghangatkan diri? Apa maksudmu itu, kau menghangatkanku pakai apa?" tanya Jelita rancu.
"Jangan berpikiran kotor sayang, aku hanya menyelimuti mu dengan bedcover saja dan meminjamkan sebagian tubuhku ini untuk dipeluk olehmu sepanjang malam hingga pagi," balas Wiliam.
"Pembohong, mana mungkin aku memelukmu. Cepat katakan apa kau melakukan hal yang lain lagi hah?" tanya Jelita masih tidak percaya.
Wiliam berdecih. "Untuk apa aku melakukan hal lain padamu, aku kan sudah berjanji tidak akan melakukan hal yang kau bilang menjijikkan itu."
Jelita masih menatap Wiliam. "Apa itu benar?"
Wiliam menghela nafas. "Jika tidak percaya ya sudahlah," balasnya lalu pergi ke kamar mandi dan melewati Jelita yang masih terdiam memikirkan sesuatu.
"Apakah benar dia tidak melakukan apapun kepadaku?" gumam Jelita dalam hati seraya meraba seluruh bagian tubuh pentingnya.
"Eh tapi tidak ada yang sakit atau luka dimana-mana," gumamnya lagi, sambil menghela nafas lega.
"Syukurlah dia tidak melakukan apapun padaku, tapi kenapa bibirku rasanya tebal sekali ya," ucap Jelita sambil meraba-raba bibirnya.
Sementara itu di dalam kamar mandi Wiliam tersenyum dan terkekeh, mengingat kejadian pada malam tadi.
Bagaimana dirinya tidak bisa tidur semalaman, karena terus saja memandangi Jelita yang sedang tertidur pulas dalam dekapannya. Hingga ular pythonnya itu terus saja merasa sesak di dalam celana ingin keluar.
Memang ia tidak melakukan hal menjijikkan pada Jelita malam tadi, karena masih bisa mengontrol emosi si ular pythonnya.
Akan tetapi bibir wanita itu tidak selamat dari terkaman Wiliam, sebagai pembalasan karena Jelita telah berhasil membuat dia dan juga si ular python tidak bisa tidur dengan nyenak.
Sepanjang malam hingga pagi tadi, Wiliam selalu mencumbuii bibir Jelita, tidak henti-hentinya menyesap lembut dan melumaat mesra bagai candu.
.
.
Bersambung.
__ADS_1