
Acara penyambutan telah berakhir, semua orang kaya itu beserta anak mereka telah meninggalkan kampus. Para pelajar itu sedang mempersiapkan diri mereka untuk memulai kegiatan belajar di kampus pada esok hari dan kini giliran para petugas kebersihanlah yang sibuk lalu lalang merapihkan gedung serbaguna tersebut.
Mereka membersihkan gedung sambil menatap kasihan kepada Jelita. Walaupun mereka semua pernah merasakan hinaan dari siswa dan siswi kaya yang belajar disana selama mereka bekerja, tetapi hinaan kepada Jelita lah yang paling menyakitkan menurut mereka.
"Kasihan Jelita, ucapan siswa-siswi tadi pasti melukai hatinya," ucap Anita.
Cesi menghela nafas. "Benar, orang kaya itu keterlaluan sekali. Mereka hanya pintar dan kaya saja tetapi tidak berhati."
"Mereka semua sama saja cuma bisa menghina orang miskin seperti kita, tapi mendengar dan melihat sendiri hinaan kepada Jelita aku ikut merasakan sakit. Kedepannya mereka pasti akan membuat ulah kepada gadis kecil itu," balas Dina.
"Benar, selama kita bekerja disini. Mereka hanya menghina dan tidak memandang kita saja, tapi tidak pernah sampai ingin membuat perhitungan," ucap Anita menimpali.
"Sudah, lebih baik kita menyelesaikan pekerjaan ini dengan cepat karena sebentar lagi sudah mau istirahat."
Mereka kembali mengerjakan pekerjaan dan memilih untuk tidak berurusan kembali dengan anak-anak orang kaya tersebut.
Tak lama kemudian gedung serbaguna itu telah rapih kembali dan para pekerja kampus sedang menikmati jam istirahat mereka. Seperti biasa ketika jam istirahat berlangsung, Jelita selalu meminta ijin pulang ke rumah untuk mengecek keadaan sang Ibu dan juga memberi makan siang.
***
Jelita terus berlari dibawah panas nya terik matahari dan tak lama kemudian, diapun telah sampai di rumah. Jelita bergegas masuk ke dalam dan tidak lupa dia mengucapkan salam lalu menghampiri Ibunya.
"Ibu, Jelita sudah di rumah. Ibu makan siang dulu ya, setelah itu minum obat."
"Heem ..." jawab Ibu yang hanya bisa mengeluarkan suara seperti itu. Sebuah suara helaan nafas yang membuat hati Jelita teriris pilu.
Jelita mengambil peralatan makan di dapur dan mulai menyuapi Ibu. Sepasang tangannya tidak pernah lelah mengurus malaikat tanpa sayap itu, dengan sabar dan telaten dia menyuapi Ibu yang kesulitan makan dan tanpa sadar dirinya menitikkan air mata.
__ADS_1
"Hiks ... Ibu maaf, sampai sekarang Jelita belum bisa membawa Ibu ke rumah sakit."
Ibu mengedipkan mata dan sesekali bergetar berusaha mengangkat lengannya. Beliau ingin sekali mengusap air mata putrinya itu, namun apalah daya dirinya hanya mampu tergolek tak berdaya dan hanya bisa ikut menangis.
"Ibu jangan menangis, Jelita baik-baik saja."
Jelita menghapus air mata Ibu dan tidak pernah sekalipun dia menceritakan kejadian pahit apapun yang menimpah dirinya kepada beliau, karena itu bisa mempengaruhi kesehatan sang Ibu. Jelita lebih memilih memendamnya sendirian karena dia ingin pikiran dan hati Ibu selalu tenang tanpa beban.
"Sekarang minum obatnya dan setelah ini Jelita bersihin badan Ibu ya."
Setelah semua selesai, Jelita mulai mengurus perutnya yang sudah perih. Dia mengambil sebungkus mie instan, lalu mematahkan mie tersebut menjadi dua bagian. Setengah bagian mie itu dia masak dengan kuah banyak dan ditaburi garam lalu setengah bagian mie instan mentah lain dia simpan untuk dimasak di lain waktu.
Jelita memakan mie rebus itu dengan nasi yang banyak agar perutnya terisi penuh dan kenyang hingga malam nanti. Selama Ibunya sakit tidak pernah dirinya membeli daging sebagai lauk, dia memilih menyimpan uang tersebut untuk membawa Ibu ke rumah sakit.
"Yang penting kenyang!" gumam Jelita menyemangati dirinya sendiri.
Jelita berlari dengan segera agar tidak telat masuk kerja, selama perjalanan ada perasaan tidak enak yang mengganjal dalam hatinya.
"Maaf Bi Sumi, Jelita masih saja menyusahkan Bibi. Tapi Jelita tidak ada pilihan lain selain meminta tolong kepada Bibi."
***
Jelita telah sampai di kampus, dengan nafas tersengal-sengal dia mulai meraih kembali alat kebersihan yang biasa dia pakai lalu mulai membersihkan setiap ruangan gedung tempat para pelajar kaya itu menuntut ilmu.
Jelita bekerja di gedung B Universitas, sialnya gedung tersebut akan diisi oleh para pelajar yang ingin memberi perhitungan kepada Jelita. Namun Jelita belum mengetahui hal tersebut dan jika dia tahu pun Jelita tidak akan merasa keberatan ataupun takut menghadapinya karena yang ada di dalam pikirannya adalah kerja dan kerja, cari uang yang banyak untuk membawa Ibu ke rumah sakit.
…………………………………………………………………………
__ADS_1
Mansion Chandra Putra.
Michael tidak mau bicara kepada siapapun termasuk Mamynya sendiri. Pria muda tampan itu sedang menunjukkan aksi protesnya kepada sang Mamy, perihal aksinya yang dipaksa untuk meminta maaf kepada Jelita di kampus tadi.
"Brak!"
Michael menutup pintu kamar nya dengan kasar hingga suara kencang dari pintu tersebut terdengar ke telinga Mamynya yang berada di lantai bawah.
"Miki apa kamu sudah tidak waras! kalau kamu marah jangan lampiaskan kepada pintu. Mari bicarakan sama Mamy, kamu bukan anak kecil lagi yang suka mengambek dan marah tidak jelas!"
Michael tidak membalas perkataan Mamynya, dia memilih meluapkan kekesalan itu di dalam kamar.
"Meminta maaf kepada orang miskin, bahkan debu kaki ku lebih terhormat daripada dirinya. Mamy kenapa kamu selalu baik kepada semua orang? apa kejadian keluarga Satya dimasa lalu tidak membuat mu mengerti bahwa semua orang yang kau bantu tidak selamanya bisa membalas kebaikan keluargamu dengan kebaikan."
Michael mengambil semua buku tentang perjalanan Mamy dan Daddynya di masa lalu, kisah sedih, kepahitan hidup dan cinta mereka tertulis jelas di dalam buku berjudul "Dandelion Kecil".
"Walau orang itu, yang telah membuat hidup Mamy menderita dimasa lalu telah lama tiada, tetapi aku tetap tidak akan membiarkan Satya yang lain masuk kembali kedalam kehidupan keluarga kita sekarang ini. Mereka yang kau tolong bisa saja berubah menjadi Satya yang kejam suatu hari nanti."
Michael merebahkan dirinya di atas kasur, dia memikirkan cara untuk bisa mengusir Jelita dari kampus sebelum Ibunya membantu gadis itu lebih banyak lagi.
"Mamy, apa yang aku lakukan itu demi kebaikan keluarga kita. Bukannya aku jahat atau tidak punya perasaan, tapi aku hanya tidak ingin kamu membantu orang yang belum kita tahu sifat aslinya dan sebelum Mamy membantu orang tersebut lebih jauh, lebih baik Mike menjauhkannya dari keluarga kita."
Michael teringat kembali kejadian tadi pagi saat dikampus, kemudian bangkit dari tempat tidurnya. Dia mengepal tangan dengan kuat lalu berkata, "Dia baru mendapat perhatian sedikit dari Mamy saja sudah besar kepala, bagaimana jika dia mendapat dukungan yang lebih dari itu? apa dia akan berbalik menyerang? Ah entahlah, lebih baik aku tidur siang."
.
.
__ADS_1
Bersambung.