Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 65. Keinginan Wiliam


__ADS_3

Pada malam harinya.


Floren berkunjung ke sebuah mansion, tempat dimana Wiliam tinggal. Wanita itu langsung datang ketika mendengar kabar baik dari kakak sepupunya.


Wiliam tersenyum dan menyapa Floren ketika, saudari sepupunya itu telah tiba di kediamannya.


"Hi ... How are you, my little sister." Wiliam merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, hingga terlihat otot kekar tubuhnya yang menantang.


Floren tersenyum dan langsung menghampiri kakak sepupunya yang tampan itu. "I'm fine ... Kau semakin tampan saja, Will. Lihat otot mu itu sungguh menggiurkan."


"Kau juga semakin cantik saja, lihat tubuhmu itu, sangat menggoda," balas Wiliam mendekatkan diri menatap saudarinya.


Mereka berdua tersenyum dan saling merangkul, bercengkrama sambil berbincang menanyakan kabar satu sama lain.


"Bagaimana, dengan wanita dalam foto yang ku kirim kepadamu kemarin?" tanya Floren.


Wiliam menarik sebatang candu, lalu menjepit barang tersebut pada bibir sensualnya. Pria tampan itu menyalakan sebuah pemantik, berukirkan seekor naga dengan satu tangan.


Dia menghisap barang terlarang itu sambil memejamkan kedua mata, dan menghembuskan asapnya ke udara secara perlahan.


"Aku suka dia," balasnya santai, lalu melanjutkan kembali aktivitasnya.


Floren tersenyum smirk. "Jadi, apa kau ingin membantuku menghancurkan hidupnya?"


Wiliam menarik laci nakas dan mengambil foto Jelita. Dia tersenyum menatapi wajah gadis itu dalam foto.


"Aku tidak ingin merusaknya," balas Wiliam.


"Apa maksudmu, jadi kau tidak ingin membantuku?" tanya Floren mulai tidak senang.


Wiliam menarik ujung bibirnya dan menggeleng. "Daripada merusak hidupnya, lebih baik aku memiliki gadis itu seutuhnya."


"Jadi kau ingin apa?" tanya Floren kembali.


"Aku ingin menjadi kekasihnya," balas Wiliam mencium lembut foto Jelita.


Floren ternganga, bingung dengan tingkah laku sepupunya itu dan dia semakin kesal dengan Jelita yang menurutnya pandai memikat hati para pria tampan, walau hanya melihatnya dari selembar foto.


"Ck! Apa yang bagus dari wanita gembel itu, hingga kau juga tertarik kepadanya?" Floren berdecak kesal.


Wiliam terkekeh, kemudian menarik dagu Floren dan menatapnya. "Kau seorang wanita, mana mengerti apa yang disukai oleh pria seperti ku ini."

__ADS_1


Floren menepis kasar tangan sepupunya. "Aku memang tidak mengerti apa yang menjadi keinginan para lelaki. Tadinya aku berpikir hanya Mike saja yang bod*oh, ternyata dirimu itu juga sama dengannya."


William berdecih. "Cih! Dia sudah punya pacar ternyata."


Floren berdengus kesal. "Mike itu pacarku, dan dia adalah wanita pengganggu. Itu sebabnya aku ingin kau menghancurkan hidupnya secepat mungkin, agar wanita itu tidak selalu menjadi penghalang diriku dan juga Mike!" Floren meninggikan suaranya.


Wiliam mengangguk dan mematikan api pada batang candunya dan tersenyum melihat Floren kesal. "Aku mengerti, kau ingin aku menjauhkan dia dari kekasih mu itu kan. Ya sudah, besok aku akan mulai mendekatinya."


Emosi Floren mereda saat mendengar jawaban dari Wiliam yang sesuai dengan keinginannya. Dia kemudian tersenyum. "Terima kasih. Aku tunggu kabar baiknya darimu."


Wiliam menangguk pelan dan tersenyum. "Hem ...." jawabnya tanpa menarik pandangannya pada foto Jelita.


Floren menghela nafas. "Ya sudah kalau begitu aku pulang dulu, semoga kau tidak lupa dengan janjimu itu."


William berdecih. "Cih! Aku tidak pernah berjanji apapun padamu, tapi aku akan berusaha menjadikan gadis ini sebagai milikku."


Floren mencebik. "Terserah kau saja, tapi aku ingin kau menjauhkan gadis itu sesegera mungkin dari Mike."


William tersenyum. "Hem," balasnya lalu melambaikan tangannya memberi kode agar Floren segera pergi. "Maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang ke rumah."


Floren berdecih. "Aku bisa pulang sendiri, terima kasih karena kau sudah mau mendengarkanku." Floren bergegas keluar dari rumah itu dengan raut wajah kesal.


Pria berusia 26 tahun itu menghela nafas, dia memejamkan kedua mata saat mengingat serpihan kenangan buruk beberapa tahun yang lalu. Ketika dirinya berusia 13 tahun mengemudi sebuah mobil secara ugal-ugalan, dia yang saat itu kehilangan kendali, mengendari mobil diluar jalur dan mengakibatkan sebuah kendaraan umum terkena imbasnya.


Dirinya tidak sengaja menabrak sebuah kendaraan itu hingga oleng dan terjun ke dalam jurang, dimana ayah Jelita lah yang menjadi korbannya.


Seminggu menyembunyikan diri, Wiliam berhasil ditangkap oleh pihak berwajib, dia mendekam di dalam lapas remaja dan semenjak saat itu, hidupnya mulai berubah menjadi berantakan.


Pria macho itu juga mengingat Jelita sewaktu masih kecil, menangis pilu sambil memukuli dirinya di pengadilan.


"Dasar kau orang jahat, kembalikan ayahku!"


Bukan hanya itu saja yang membuat dirinya merasa bersalah, melainkan sesosok ibu dari si gadis kecil yang memarahinya. Perkataannya selalu membekas di dalam hati dan menjadikan hidupnya tidak tenang sampai sekarang.


"Aku sudah memaafkanmu."


William membuka matanya, lalu bangkit dari sofa. Dia berjalan menaiki tangga ke arah kamarnya dan bergumam. "Aku akan mencari tahu kebenaran itu sendiri, dan aku akan berusaha menebus kesalahanku dimasa lalu pada keluarga itu."


………………………………………………………………………………


Mansion Chandra Putra.

__ADS_1


"Kau sedang apa, mengapa belum tidur?" tanya Michael saat melihat Jelita duduk di taman.


"Aku sedang duduk saja, bagaimana aku bisa tidur. Seharian ini aku sudah puas tertidur, rasanya bosan sekali seharian hanya bisa berbaring di atas kasur tanpa melakukan apapun," balas Jelita lalu menghela nafasnya.


"Jadi kau sedang bosan sekarang ini ya?" tanya Michael dan Jelita mengangguk. "Iya aku bosan."


Michael mengerti kemudian menarik Jelita untuk ikut dengannya. "Kalau begitu ikut denganku saja."


"Kau mau mengajakku kemana?" tanya Jelita enggan bangkit dari tempat duduknya.


"Ikut ke dalam kamarku," jawab Michael.


Deg


Jelita membulatkan mata dan menarik lengannya dengan segera agar terlepas dari Michael. "Kau bilang apa, mengajakku ke dalam kamarmu?"


Michael mengangguk. "Iya ke kamarku, memangnya kenapa, apa salahnya dengan itu?"


Jelita terdiam dan mengingat kembali perkataan Nyonya Caca, jika dirinya tidak boleh memasuki setiap kamar keluarga Chandra Putra.


"Tidak mau, aku tidak ingin kesana," jawab Jelita sambil menggeleng kepalanya.


"Kenapa?" tanya Michael. "Aku kan sudah mengijinkanmu masuk ke dalam kamarku," jawabnya tanpa beban lalu menarik lengan Jelita kembali.


"Tidak Michael ... Hari sudah malam, aku juga sudah mengantuk, sekarang aku mau istirahat saja di kamarku dan kau ... Kau pergilah istirahat juga," balas Jelita.


"Pembohong ... Kau ini takut kenapa, aku tidak akan berbuat macam-macam denganmu," ucao Michael.


"Begini saja Michael, kita ke lapangan basket saja. Aku ingin kau mengajariku caranya main bola karet oranye itu." Jelita mengedipkan kedua mata nya berkali-kali kepada Michael.


Michael tersenyum jahat lalu mengubah arah tujuannya. "Ck! Ya sudah, kita ke lapangan basket saja, aku akan mengajarimu bermain basket sampai kau lemas kehabisan tenaga," ucap Michael sambil terus membawa Jelita ke tempat tujuan.


Sedangkan Jelita meneguk ludahnya susah payah mendengar ucapan Michael dengan tatapannya yang mencurigakan.


"Oh tidak! Sampai aku lemas kehabisan tenaga ... Apa maksudnya itu, apa aku akan dikerjai habis-habisan oleh dia. Oh Tuhan tolong bantu aku!" gumam Jelita dalam hati.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2