
...WARNING!!!...
...BAB INI MENGANDUNG UNSUR 21+, JIKA KALIAN YANG MASIH BERUSIA DIBAWAH 21 TAHUN, DISARANKAN UNTUK SKIP BAB INI. DAN JIKA ADA BOCIL YANG KETAHUAN MEMBACA BAB INI, MAKA AUTHOR SUMPAHIN MATANYA BINTITAN....
...SEKIAN TERIMA KASIH, SELAMAT MEMBACA, SELAMAT KEPANASAN....
...SALAM NGANU DARI AUTHOR!!...
...----------------...
...----------------...
Setelah acara resepsi pernikahan mereka selesai, Wiliam bergegas membawa Jelita untuk masuk ke dalam kamar hotel.
Selain karena sudah tidak sabar ingin beristirahat serta membaringkan tubuhnya di atas kasur yang empuk dan nyaman, Wiliam juga ingin melakukan sesuatu hal penting lainnya diatas sana.
Dan sudah pasti bersama dengan sang istri tercinta tentunya.
Sepanjang perjalanan menuju kamar pengantin, Wiliam memperhatikan Jelita yang tengah lesu dan lunglai.
"Kau kenapa sayang?" tanya Wiliam.
"Tidak apa ... Aku hanya lelah sekali hari ini," ucap Jelita memukul pelan bahunya.
Wiliam mengernyitkan dahi, merasa kalau malam ini dia tidak akan bisa melakukan wik wik bersama Jelita.
Eits tapi tunggu dulu, bukan Wiliam namanya jika menyerah begitu saja.
Pria yang bukan hanya tampan, namun juga gagah itu segera membopong istrinya yang sedang mengeluh kelelahan.
"Wil, apa yang sedang kau lakukan. Turunkan aku cepat!" titah Jelita.
"Menggendongmu ... Kau tadi bilang lelah, jadi aku hanya berniat membantumu berjalan ke kamar." Kemudian Wiliam mempercepat langkahnya.
Jelita mengalungkan kedua lengannya di leher Wiliam, takut terjatuh sambil menatap semua orang yang melihatnya.
"Iya aku memang lelah, tapi aku masih bisa berjalan sendiri. Turunkan aku, malu banyak orang yang lihat," bisik Jelita penuh penekanan.
Wiliam berdecih. "Cih! Untuk apa malu, kita sudah menikah. Jadi aku tidak akan malu lagi," balasnya dengan senyuman devil.
"Apa maksudnya itu, tidak akan malu lagi?" tanya Jelita dalam hati.
...***...
Setibanya di dalam kamar hotel, Jelita diam terpana. Ketika melihat kamar pengantin khusus untuk mereka berdua telah dihias begitu indah dipandang mata.
Suasana romantis begitu lekat di dalam sana, dengan banyaknya kelopak mawar merah bertaburan hampir diseluruh ruangan kamar yang temaram.
Cahaya dari lilin-lilin kecil menjalar rapi, sebagai penerangan dijalan setapak bertahtakan kelopak bunga mawar, hingga ke tempat pembaringan.
"Cantik sekali," ucap pelan Jelita, sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar pengantin yang telah dihias dengan indah.
Wiliam tersenyum, lalu menurunkan Jelita dari gendongannya. Dia mendekat dan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang istrinya dari belakang.
"Benar, cantik sekali. Ini kamar kita untuk malam ini, sebelum kita pergi bulan madu esok pagi."
Wiliam mengecup punggung Jelita lalu memutar tubuh istrinya agar bisa berhadapan dengan jelas. Pria itu menangkup kedua sisi wajah Jelita dan menatapnya dengan serius.
"Jelita, malam ini. Bersedia kah kau menjadi milikku untuk selamanya?" tanya Wiliam kembali untuk memastikan.
Jelita meneguk ludahnya kasar, tidak disangka jika sudah tiba waktu baginya untuk merelakan semua yang telah ia jaga dengan baik selama ini kepada Wiliam.
__ADS_1
Pria yang telah sah menjadi suaminya.
Jelita sedikit gemetaran, ketika sekelibat bayangan buruk sewaktu dua tahun lalu kembali lagi dalam ingatannya.
Jelita menggeleng cepat. "Tidak! Jangan sentuh aku, menjauhlah dariku!" pekiknya sambil terpejam dan menutup kedua telinganya.
Wiliam tersentak dan berhenti mengulurkan tangan pada istrinya, dia perlahan mendekati dan berusaha sesabar dan selembut mungkin membujuk Jelita agar mau.
"Baik ... Baiklah, jangan takut. Aku tidak akan menyentuhmu malam ini," balas Wiliam berusaha menahan sejenak hasratnya.
Jelita tersadar kembali dan segera membuka matanya. "Oh Tuhan, apa yang telah aku lakukan! Kenapa aku bersikap seperti itu kepada suamiku sendiri," sesalnya dalam hati.
"Wiliam, maaf. Bukan maksudku menolakmu, tapi aku hanya gugup dan masih sedikit takut denganmu. Apalagi jika kita berduaan seperti ini di dalam kamar," jujur Jelita menjelaskan ketakutannya.
Wiliam menghela nafas, nampaknya dia mengerti ketakutan Jelita saat ini.
Selain takut karena ini adalah malam pertama bagi wanita itu, Jelita juga punya trauma akibat kejadian buruk sewaktu lalu.
"Maaf, aku tidak akan memaksamu melakukan itu malam ini. Sekarang bagaimana jika kau beristirahat saja, mari sini biar ku bantu kau melepaskan semuanya," bujuk rayu maut Wiliam mulai dari sini.
Jelita mengangguk, jantung nya sedikit berdebar tidak karuan saat melihat tempat pembaringan besar di sudut sana.
Tempat peraduan untuk mereka berdua yang juga telah dihias begitu indah, dengan taburan kelopak bunga mawar merah tertata cantik diatas sana.
Wiliam membuyarkan lamunan Jelita untuk tidak terpaku pada kasur indah di depan mata, dengan menarik dagu agar menatap wajahnya saja.
"Jangan melihat kesana, tapi lihat aku saja," pinta Wiliam lembut dan Jelita mengangguk pelan. "B-baiklah," balasnya.
Wiliam mengandeng tangan Jelita, sambil terus bersitatap dan tersenyum lembut. Membawa istrinya agar terus berjalan menuju ke sisi ranjang.
Perlahan tapi pasti, akhirnya Wiliam berhasil membawa dan mendudukkan istrinya diatas pembaringan bertabur bunga.
Jelita tersentak saat tangannya menyentuh pinggiran kasur nan lembut di sekitarnya, tapi dengan segera Wiliam menarik wajah Jelita kembali agar terus menatap wajahnya.
Wiliam menghela nafas lembut, ketika melihat kaki-kaki milik istrinya. Walau masih tertutup gaun panjang, Wiliam dapat merasakan betapa halus dan mulusnya kulit sang istri.
Wiliam menengadah ke atas dan menatap istrinya yang menunduk. "Sudah lepas," ucapnya senang.
Jelita tersenyum. "Terima kasih," balasnya.
Wiliam kembali berdiri dan berpusat menatap puncak kepala Jelita, dimana sebuah mahkota cantik masih bertahta manis di atas sana.
Tanpa banyak kata, Wiliam kembali membuka satu persatu jepit rambut serta aksesoris yang menempel dikepala istrinya.
"Wil," cegah Jelita menahan tangan Wiliam saat ingin melepas mahkota besar diatas kepalanya.
Wiliam berhenti sejenak. "Tidak apa, biar aku yang membantu melepasnya," bujuk Wiliam.
Jelita kembali menurunkan lengan dan mengijinkan Wiliam untuk melepas mahkota pada puncak kepalanya.
Tak butuh waktu lama bagi pria itu untuk melepaskan mahkota dari atas kepala dan seketika itu pula rambut indah Jelita terurai bebas.
Hasrat Wiliam kini kembali naik, ketika aroma tubuh Jelita mulai menyeruak masuk ke dalam diindera penciumannya. Akan tetapi dengan segera ia kembali menekannya.
"Sudah lepas," bisik Wiliam dibelakang daun telinga Jelita.
Kali ini Wiliam duduk di belakang Jelita lalu menyingkirkan semua rambut yang menghalangi punggung istrinya, agar bisa mencari sumber pengait pada gaun pengantin.
Suara resleting terbuka terdengar dikesunyian mereka berdua, dan Jelita kembali tersentak. Wanita itu segera menarik diri dan menjauh dari Wiliam.
"Wil, biar aku saja yang membuka gaunku ini. Kau sebaiknya bertukar pakaian juga," ucap Jelita sambil memegangi gaunnya yang sudah melorot dan terbuka bebas pada bagian punggungnya.
Wiliam menghela nafas, ingin sekali rasanya menerkam Jelita sekarang juga. Tapi demi membuat istrinya nyaman saat bertempur nanti, Wiliam lagi-lagi harus menekan keinginan berburunya.
__ADS_1
"Baiklah, kau benar. Aku juga harus mandi sebelum tidur," balas Wiliam lalu beranjak dari tempat tidur untuk menuju kamar mandi.
Jelita menghela nafas lega dan mulai membersihkan riasan diwajahnya terlebih dahulu.
Dia bergegas membuka gaunnya selagi Wiliam di dalam kamar mandi dan menutupi tubuhnya dengan handuk, lalu segera menghampiri lemari pakaian yang tidak jauh dari tempatnya berada.
Namun ada satu hal yang membuatnya kelimpungan. "Oh tidak dimana semua bajuku!" jeritnya histeris sambil menggigit kuku jari.
Sementara itu Wiliam bergegas keluar dari kamar mandi, ketika mendengar suara jeritan istrinya. Namun karena saking tergesanya, Wiliam melupakan satu hal penting untuk dia kenakan.
Dia tidak memakai handuk.
"Jelita! Ada apa sayang? Kenapa kau berteriak seperti itu?" tanya Wiliam.
Jelita menoleh dan dia terbelalak, ketika melihat seluruh tubuh suaminya tanpa busana satu helaipun.
"Akkkhhh!!" jerit Jelita kembali, sembari menutup matanya dengan kedua tangan.
Hal tersebut membuat Wiliam segera menutup bagian ular pythonnya yang asyik bergundal-gandul kesana kemari.
"Maaf!" ucap Wiliam.
"Pergi! Cepat pergi!" histeris Jelita.
Wanita itu bergidik ngeri, ketika tanpa sengaja melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Namun karena terlalu lama menutup mata, Jelita melupakan lilitan handuk yang melingkar ditubuhnya mulai mengendur.
Alhasil handuk yang Jelita kenakan pun melorot ke bawah, hingga menampilkan seluruh surga dunia pada wanita itu tepat di depan mata kepala Wiliam.
Jelita terbelalak dan kembali menjerit histeris, dengan segera ia memungut handuk dekat kaki dan melilitkan pada tubuhnya agar tertutup kembali.
Tapi sial tangannya yang gemetaran dan Wiliam pun yang tidak mau menyingkir dari hadapannya membuat Jelita panik setengah mati.
"Oh shitt!!" umpat Wiliam ketika melihat keindahan di depan matanya sendiri.
Pria itu meneguk ludahnya kasar dengan kedua netra yang kini mulai tertutup kabut. Dia tidak menghiraukan ketakutan Jelita lagi karena si ular python mulai menghasut pikiran jernihnya.
"Ayo Wil, kita terkam dia!" sahut di ular python mulai meracuni otak Wiliam.
Sementara itu Jelita masih sibuk melilitkan handuk, padahal Wiliam sudah berdiri tepat di belakangnya.
Pria itu segera mencekal pergelangan tangan Jelita, agar berhenti menutupi tubuh mulus miliknya itu.
"Sudahlah biarkan saja terbuka seperti ini," ucap maut babang Wiliam menatap istrinya penuh damba.
Jelita meneguk ludahnya berkali-kali dan menggeleng. "J-jangan," jawabnya gugup dan terbata.
Wiliam mendesis, ular pythonnya telah terbangun dan berdiri tegak sempurna. Siap menerkam mangsa yang sedang ketakutan menatapnya.
"Wil ... " ucap Jelita melangkah mundur. Dia tidak berani menatap ke bawah sana.
Karena OMG begitu besar dan panjang sekali.
.
.
Bersambung.
...----------------...
Bagaimanakah Jelita dalam menghadapi Wiliam kali ini, dimana otak suaminya itu telah tertutup kabut hasrat sempurna?
Tunggu kelanjutan aksi mereka di bab selanjutnya.
__ADS_1