
Setibanya di sekolah, Jelita bergegas turun dari mobil. Tidak lupa dia berterima kasih kepada Pak Yos dan juga Michael sebelum dirinya memasuki halaman sekolah.
"Pak Yos terima kasih karena sudah mengantarku ke sekolah," ucap Jelita kepada supir pribadinya Michael.
"Sama-sama Non," balas Pak Yos.
Jelita kemudian menoleh kepada Michael yang masih sibuk melihat laptopnya.
"Michael ... Terima kasih ya," ucap Jelita kemudian menutup pintu tanpa menunggu Michael menjawabnya.
Jelita lalu berlari, bergegas masuk ke dalam sekolah untuk berkumpul bersama dengan teman-temannya.
Setelah itu Michael mengulum senyum dan menatap Jelita dari kejauhan. "Sama-sama."
"Ayo Pak, kita ke kampus," titah Michael.
"Baik Tuan," balas Pak Yos lalu memutar balik kendaraan untuk mengantar tuan mudanya menuju kampus.
***
Sesampainya di kampus, Michael menemukan pemandangan yang tidak menyenangkan. Ya siapa lagi kalau bukan wanita cantik yang bernama Floren.
Gadis cantik dengan tubuh tinggi semampai, berambut panjang yang bergelombang pada ujungnya, berkulit putih bersih, memiliki lekuk tubuh sempurna dan hanya beda usia beberapa bulan saja dengan Michael.
Gadis itu duduk di bangku Michael sambil terus menatap pria tampan yang baru saja datang. Floren tersenyum begitu manis dan menunggu Michael menghampiri dirinya.
Michael berjalan menghampiri Floren dan menatap tajam. "Menyingkir dari kursiku!" titah Michael merasa tidak suka jika tempat favoritenya di duduki oleh Floren.
Sementara itu Floren tak menghiraukan permintaan Michael. "Ternyata duduk disini enak juga ya," ucap Floren lalu melemparkan pandangannya keluar jendela.
Michael mendesah kesal, lalu mengalah mencari tempat lain dan duduk di kursi kosong sebelah Floren. Dia membuka kembali laptopnya dan serius mengerjakan sesuatu.
Floren melirik Michael yang duduk disebelahnya dan berusaha mengumpulkan informasi tentang wanita yang di lihatnya kemarin.
"Mike, siapa wanita cantik yang datang ke rumahmu kemarin? Sepertinya kalian begitu mesra, apa dia kekasihmu?" tanya Floren.
Michael berdecak kesal. "Ck! Siapa dia? Tidak ada urusannya denganmu," balas Michael dengan wajah dinginnya.
"Mike, kurasa aku perlu tahu, mengingat kedua orang tua kita sebelumnya sudah menyetujui hubungan kita untuk pacaran. Tapi secara tiba-tiba wanita itu malah muncul dan ku lihat kau juga begitu mesra bersamanya. Jadi Mike, beritahu aku, siapa wanita itu? Apa kau mencintainya?" tanya Floren dengan kedua bola mata mulai berkaca-kaca.
Michael menghela nafas dan menatap Floren yang mulai menangis.
"Iya, wanita cantik yang kau lihat kemarin itu adalah kekasihku dan aku ... aku sangat mencintainya! Ah bukan, yang benar adalah kami saling mencintai," jawab Michael tanpa ragu.
__ADS_1
"Tapi Mike, apa istimewanya wanita itu? Aku bahkan tak kalah cantik darinya dan aku juga sangat mencintaimu. Apa aku tidak bisa jadi wanita spesial dihatimu Mike?" Floren terisak, merasa begitu sedih. Dia berusaha untuk meluluhkan hati Michael yang begitu dingin kepadanya.
Tapi nampaknya tangisan dan suara lembut Floren tak berarti bagi Michael. "Maaf Flo, kau tidak bisa menjadi wanita istimewa dihatiku. Karena hatiku sudah ada yang mengisinya."
Michael tersenyum sambil mengingat wajah Jelita. "Karena hati ku sudah di isi oleh wanita itu, wanita yang kau lihat kemarin. Dia yang bukan hanya cantik pada wajahnya saja, tapi cantik di hati nya juga," balas Michael
Michael tersenyum begitu lembut, kemudian berubah dingin saat kembali menatap Floren.
"Apa kau sudah puas dengan jawabanku? jika sudah, maka mulai sekarang menjauhlah dariku sebelum kau terluka lebih jauh," jawab Michael dengan tegas.
Floren langsung terdiam saat mendengar jawaban Michael. Dia merasa gemas, merasa sia-sia menangis demi lelaki yang sama sekali tidak mencintainya.
Floren menghapus air matanya dengan kasar. Dia menatap tajam wajah Michael yang tampan.
"Mike, baiklah jika kau tidak menerima ku. Tapi ingat satu hal ini Mike, bahwa aku tidak akan melepaskan mu dan aku juga tidak akan membiarkanmu bahagia bersama wanita itu!" ancam Floren.
Michael tersenyum tipis. "Terserah kau mau bilang apa, yang jelas aku tidak takut pada ancamanmu!" balas Michael lalu pergi menjauhi Floren.
Sementara itu Floren berdecak, merasa sesak pada bagian dadanya. "Ck! kau bilang tidak takut pada ancaman ku bukan. Oke Mike, kita lihat saja, sekuat apa kamu bisa menjaga wanitamu itu dari terkaman pria dewasa seperti Wiliam."
Floren tersenyum, dia lalu berusaha mencari infomasi sendiri dari orang kepercayaan pribadinya yang telah disebar untuk memata-matai wanita disekitar mansion Michael.
…………………………………………………………………………
Sore harinya Michael tiba di rumah, dia berjalan menuju dapur untuk minum dan tidak sengaja bertemu dengan Jelita yang sedang mencuci piring.
Michael menghentikan langkahnya sejenak dan tersenyum sambil memandangi Jelita dari belakang. Entah mengapa sekarang dia tidak bisa melepaskan pandangannya itu, pada sesosok gadis biasa, yang dahulu hanya dipandang sebelah mata oleh dirinya.
Jelita yang tidak menyadari ada Michael dibelakangnya pun, mencuci piring dengan begitu santai. Terkadang dia mengibaskan rambut yang menganggu, sesekali mengayunkan dengan salah satu tangan, agar berpindah pada bagian satu sisi lehernya.
Aksi Jelita membuat Michael menelan ludahnya susah payah. Saat melihat leher Jelita yang sekarang telah bersih, putih dan juga mulus. Begitu menggiurkan untuk digigit.
Setelah puas memandangi leher jenjang indah itu, Michael perlahan mendekat, hingga kini jarak mereka hanya satu meter saja. Jarak yang cukup dekat, hingga aroma tubuh gadis itu dapat tercium olehnya.
Michael menurunkan pandangannya kembali dan netranya sedikit terusik saat melihat Jelita yang memakai kaos polos sedikit menerawang.
Matanya itu tak sengaja melihat sebuah pengait pada kain penyangga berwarna hitam, jika dilihat secara seksama. Bagaimana bentuk bagian depan wanita itu, pastilah begitu indah pikirnya.
Michael lalu menurunkan kembali pandangannya, dan berhenti pada sebuah pinggang Jelita yang begitu ramping. Dia lalu tersenyum dan mengingat kembali kejadian kemarin, saat lengan panjang dan kekarnya itu melingkar erat pada pinggang indah Jelita.
Rasa dan bentuk masih terekam pada pikirannya.
Otak Michael mulai terkontaminasi saat kembali menurunkan pandangannya, kedua netranya berpusat pada celana pendek yang Jelita kenakan. Michael meneguk ludah sekilas, merasa aneh dengan perasaan yang menggelitik dari balik celananya.
__ADS_1
Oh God!
Entah mengapa netranya itu betah berlama-lama menatap tubuh gadis dihadapannya, hingga Michael tidak menyadari jika Bi Sari sudah berdiri dan memperhatikan dirinya sedari tadi.
"Tuan Michael, apa tuan muda butuh sesuatu?" tanya Bi Sari, mengejutkan Michael yang sedang melamun.
"Oh My God!" pekik Michael, hingga dia terjingkrak ke depan dan kedua lengannya refleks melingkar erat pada pinggang Jelita, yang sedang berdiri di hadapannya.
Seperti binatang buas yang sedang menerkam mangsanya. Begitu pula dengan Michael yang spontan mencengkram bagian depan Jelita, kedua telapak tangannya yang besar itu malah naik ke atas dan tak sengaja menangkup kedua bukit kembar kenyal milik Jelita.
Apa ini?
Michael sedikit meremas dan memijatnya.
Oh No!
Membuat gadis itu seketika melenguh saking terkejutnya.
"Eugh!"
Jelita langsung menengok kebelakang dan terkejut saat mengetahui bahwa pria itu adalah Michael. Dia melebarkan kedua matanya dan menatap tajam wajah Michael yang sudah memerah seperti kepiting rebus.
"Michael!" pekik Jelita lalu mengayunkan sendok sayur ke wajah Michael sebisanya. Hingga pria tampan itu segera melepaskan pelukan dan juga cengkraman tidak sopannya pada Jelita.
Jelita kemudian berbalik dan kini mereka telah berhadapan. Membuat Michael mematung seketika.
Sadar karena dirinya bersalah, akhirnya Michael meminta maaf berkali-kali kepada Jelita dengan kedua telapak tangan yang masih bergetar hebat.
"Maaf Jelita ... A-aku tidak sengaja!" ucap Michael berusaha menelan salivanya dengan kedua mata yang sulit di kondisikan.
Selalu melihat ke arah dada Jelita yang sedang naik turun begitu cepat mengatur nafas.
"Kau ini bukan hanya mengagetkan ku saja, tapi tanganmu ini juga, ah begitu kurang ajar!" Jelita memukuli lengan Michael dengan sendok sayur dengan wajah yang sudah merah karena marah dan juga malu.
Bukan tanpa sebab, karena kejadian di dapur itu telah disaksikan oleh Bi Sari. Namun Bi Sari hanya bisa tersenyum saat melihat tingkah lucu keduanya.
Sementara itu Nyonya Caca yang kebetulan melihat, tak menyangka dengan kedekatan putra dan juga putri asuhnya yang begitu intim. Dia merenung dan berpikir dengan ucapan Nyonya Berta kemarin malam.
"Apa ... Apa wanita yang dimaksud oleh Nyonya Berta itu ... adalah Jelita?" gumam Nyonya Caca, lalu dia menjauh dan kembali ke dalam ruangannya dengan perasaan bimbang.
.
.
__ADS_1
Bersambung.