Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 80. Berusaha kabur.


__ADS_3

Di dalam mobil, Jason bertanya kepada Michael mengenai pria berandal yang dicurigai sebagai orang yang membawa Jelita. Siapa tahu dirinya mengenali atau bisa membantu melacak keberadaan pria tersebut.


"Mike .. Pria itu seperti apa?" tanya Jason sambil mengemudikan mobilnya.


Michael mengingat kembali. "Dia berperawakan sama sepertimu, berkulit sawo matang, berotot, tinggi dan juga besar."


"Lalu?" tanya Jason.


"Hem, kemarin aku sempat melihat dia memiliki tato di kedua dada dan juga lengannya. Rambutnya juga diikat dan dia terlihat seperti mafia saja," balas Michael.


"Apa hanya itu saja yang kau tahu tentang pria itu, Mike?" tanya Jason.


"Ya ... Sayangnya hanya itu saja yang ku tahu Jason," balas Michael.


"Apa kau pernah melihat mobil nya, atau ingat nomor polisi mobil pria itu misalnya?" tanya Jason kembali.


"Ah! Aku ingat nomor polisi nya," balas Michael.


"Cari di situs pencarian plat kendaraan bermotor, disana kita bisa dapat info siapa pemilik kendaraan tersebut," saran Jason.


"Ah kau benar sekali, kenapa aku tidak berpikir ke arah sana," balas Michael. Dia terlihat begitu bersemangat saat mengingat ada secerca harapan.


Michael pun mengeluarkan smartphone canggih miliknya dan membuka situs online tentang pelacakan nomor kendaraan tersebut.


Tak butuh waktu lama, data pemilik pun telah muncul dan Michael segera melihat data tersebut. Walau tidak lengkap karena privasi, setidaknya Michael dapat mengetahui nama pria yang telah membawa Jelita.


"Jason ... Nama pemilik mobil itu adalah Wiliam Wijaya," ucap Michael segera setelah data muncul pada layar ponselnya.


Jason tersedak ludahnya sendiri dan dia membulatkan kedua matanya lebar-lebar, raut wajah pria itu seketika berubah, tidak menyangka ketika mendengar nama tersebut.


"Wiliam Wijaya ... Apa kau yakin, Mike?" tanya Jason menyakinkan dan Michael mengangguk. "Iya benar, dari datanya seperti itu," jawabnya.


"Gawat jika benar dia orangnya," gumam Jason dalam hati. Dia sedikit khawatir karena mengenal sesosok pria yang bernama Wiliam.


"Kenapa kau diam Jason, apa kau kenal sama orang yang bernama Wiliam ini?" tanya Michael sedikit khawatir saat melihat raut kecemasan di wajah Jason.


"Mike, Wiliam itu bukanlah pria biasa. Setahuku saat remaja, dia pernah masuk ke dalam penjara karena kasus kecelakaan. Tapi bukan itu yang ku takuti Mike," ucap Jason.


"Apa yang kau takuti Jason?" tanya Michael penasaran.


Jason menelan ludah. "Dia ... Dia seorang pemain wanita," balasnya.


"Apa maksudmu Jason, jelaskan kepadaku," pinta Michael berharap itu bukan sesuatu yang buruk.


"Mike ... Lebih baik kau tidak usah mendengarnya, ini berkaitan dengan hal yang berbau dewasa," balas Jason, dia sedikit bingung harus bagaimana menjelaskan hal tersebut kepada pria bau kencur di sebelahnya.


Michael mendesahh kesal. "Jason come on ... Apa kau tahu, aku paling benci jika jawabanku tergantung seperti ini," balasnya sambil mencebik bibir.


Jason menghela nafas. "Janji kau tidak akan emosi ketika mendengar hal ini ya," ucapnya takut Michael berubah kalap.


"Baiklah janji," balas Michael lalu memasang telinganya lebar-lebar.

__ADS_1


"Wiliam ... Dia adalah seorang pemain wanita handal, pria itu kerap berganti-ganti pasangan dan tidak memiliki keseriusan terhadap seorang wanita. Dia juga ahli dalam merayu dan telah meniduri banyak wanita di luaran sana. Kebanyakan orang bilang kalau si Wiliam itu adalah Sang Casanova," tutur Jason menjelaskan.


Michael pun berusaha mencerna penjelasan dari Jason. "Jadi maksudmu, dia adalah pria mesum?" tanyanya kurang paham.


"Ya bisa dibilang seperti itu Mike," balas Jason tidak mau panjang lebar.


"Oh Tidak!" Michael menjambak rambutnya sendiri, karena khawatir ketika mengingat nasib Jelita jika benar cintanya itu sedang berada di tangan pria tidak bermoral seperti Wiliam.


"Jelita ku ... Oh No! Jason cepat lah kita susul dia, aku tidak ingin pria cabul itu sampai menodai kekasihku!" titah Michael, dia kalang kabut sendiri di dalam mobil.


Jason pun berdecih. "Cih! Ijin saja belum dapat sudah mengaku-ngaku sebagai kekasihnya," gumam Jason dalam hati dan dia menghela nafas panjang. Berharap tidak terjadi hal buruk yang menimpah Jelita, adik asuhnya.


"Jason apa kau tahu rumahnya dimana?" tanya Michael.


"Aku tidak tahu rumahnya, tapi aku tahu dimana perusahaan kakeknya pria itu. Kita juga bisa meminta tolong kepada beliau meminta cucunya untuk mengembalikan Jelita kepada kita. Karena setauku Wiliam sangat menghormati dan menyayangi kakeknya, dia pasti akan menuruti setiap permintaan kakeknya itu," balas Jason.


"Oke Jason, lebih baik kita kesana saja sekarang," pinta Michael, dia meremas celana jeansnya karena gemas. Tidak sabar untuk segera menemukan Jelita. "Jelita tunggu aku!" gumamnya.


Sedangkan Jason, dia segera memutar setir mobil. Mengarahkan laju kendaraannya menuju perusahaan kakeknya Wiliam, Perusahaan Wijaya Group untuk meminta bantuan pria tua tersebut.


...----------------...


Mansion Wiliam.


Sementara itu, Jelita sedang mencari jalan keluar untuk kabur dari kamarnya Wiliam sebelum pria itu kembali lagi ke dalam kamar.


Dia menggeser pintu kaca dan berjalan ke arah balkon. "Syukurlah tidak dikunci," gumamnya.


"Oh tinggi sekali," ucap Jelita ketika menengok ke bawah.


Jelita pun kembali ke dalam kamar dan mencari-cari sesuatu seperti kain panjang atau apapun itu untuk membantu dirinya agar bisa turun ke bawah.


Dia merangkai beberapa selimut tipis dan beberapa pakaian Wiliam dari lemari baju, sampai celana berbentuk segitiga pria itu pun tidak luput dia gunakan untuk membuat sebuah untaian kain panjang.


Tak berapa lama kemudian, setelah selesai membuat rangkaian yang cukup, Jelita kembali ke balkon kamar itu lalu melemparkan kain nya agar menjuntai ke lantai bawah.


Dia mengikat sekencang-kencangnya kain itu pada pilar di dekat balkon tersebut, lalu menarik-nariknya untuk memastikan agar ikatannya itu benar-benar telah kuat menahan beban.


Dengan segera Jelita memanjat pagar besi balkon, akan tetapi baru saja kakinya menaiki pagar tersebut, seseorang menariknya dari belakang.


"Akh!" pekik Jelita, dia terkejut bukan main. Gadis itu langsung menoleh dan dia terbelalak dengan tubuhnya yang bergetar hebat.


"Mau kemana hem?" tanya Wiliam, lalu segera memeluk Jelita agar tidak melarikan diri.


"W-wiliam ... Akh tolong lepaskan aku!" Jelita meronta.


"Kau ini tidak patuh sekali," ucap Wiliam sambil menatap Jelita. Lalu melihat beberapa celaana dalaamnya yang menjuntai dan berayun-ayun bebas di bawah sana.


"Berani sekali menyentuh barang-barang pribadiku," ucap Wiliam lalu memutar tubuh Jelita agar bertatapan dengannya.


"Ah itu ... I-itu, aku hanya. A-ku," ucap Jelita tebata, dia begitu takut sekali dengan Wiliam yang terus saja menatapnya dengan tajam.

__ADS_1


Wiliam tersenyum smirk lalu tanpa basa basi mengangkat Jelita seperti karung beras pada pundaknya dan membawa gadis itu masuk ke dalam kamarnya lagi.


"Turunkan aku! Turunkan aku sekarang juga!" titah Jelita, dia memukuli punggung Wiliam sekuat tenaga.


"Aku akan menghukummu karena telah menyentuh barang-barang pribadiku, dan hukumanmu menjadi naik berkali-kali lipat karena tidak patuh dan berusaha kabur dari sini," ucap Wiliam dengan santainya.


"Jangan Wiliam, jangan hukum aku. Jangan sakiti aku," Jelita terisak.


Dirinya begitu takut sekali apalagi mengingat kejadian yang belum lama tadi. Saat Wiliam ingin menggempur pertahanannya secara paksa dan juga mengingat saat pria itu mencium bibirnya dengan begitu liar.


Mungkin bagi wanita yang sering bermain dengan Wiliam atau yang sudah hilang kewarasannya, mendapatkan ciuman tersebut, bagaikan candu yang memabukkan.


Namun beda hal bagi Jelita, menurut gadis polos itu ciuman Wiliam bagaikan maut menuju kematian baginya.


"Jangan lempar aku!" pekik Jelita saat Wiliam ingin menghempaskan tubuhnya kembali di atas ranjang.


Wiliam hanya tersenyum, lalu menurunkan Jelita dengan hati-hati. Mendudukkannya dengan perlahan, hingga Jelita pun terheran-heran.


Pria itu menghela nafasnya. "Bersyukurlah aku memberi kesabaran dan perhatian yang lebih kepadamu, karena jika itu wanita lain dia pasti sudah ku lempar dari atas kamar ini," ucap Wiliam menakuti.


Jelita terdiam dan menelan ludahnya susah payah. Dia kembali memohon agar Wiliam tidak melakukan hal yang menjijikkan.


"Tolong jangan sentuh aku, ijinkanlah aku pulang sekarang. Tolong jangan sakiti aku, aku seorang pelajar dan aku juga seorang anak asuh. Aku punya ibu dirumah yang sedang menungguku pulang ke rumah. Tolong lepaskanlah aku," Jelita terisak dan menangis pilu.


Wiliam menghela nafas dan menarik dagu Jelita untuk menatap wajahnya. Dia berubah menjadi lembut pada gadis dihadapannya itu.


"Baiklah, aku tidak akan menyentuhmu lagi. Tapi penuhi lebih dulu permintaanku," ucap Wiliam.


"Apa itu?" tanya Jelita.


"Makan malamlah bersama ku, aku punya seorang Kakek dan aku sangat menyayanginya. Aku telah membuatnya sedih cukup lama dan aku telah berjanji kepadanya akan membawa dirimu untuk bertemu dengannya," balas Wiliam.


"Lalu, apa setelah itu kau tidak akan mengganggu atau menyentuhku lagi?" tanya Jelita kembali.


"Tidak ... Aku tidak akan menyentuhmu lagi," balas Wiliam.


"Benarkah?" tanya Jelita masih ragu.


Wiliam tersenyum dan menatap kedua netra Jelita yang berkaca-kaca. "Benar ... Sekarang bersiaplah temui Bibi, ada beberapa pakaian untuk kau kenakan."


Jelita pun menangis haru, akhirnya Wiliam mau melepaskan dirinya, entah mengapa pria itu sulit sekali untuk di tebak. Tapi jika dilihat secara seksama Wiliam sepertinya adalah seorang pria kesepian.


"Apa yang membuat dia seperti itu," gumam Jelita menatap Wiliam yang sedang menghisap candu, lalu terdiam membisu.


Merasa di perhatikan oleh Jelita, Wiliam segera bersuara. "Kau masih betah diam disana, apa kecewa dengan keputusanku yang berubah tidak ingin menyentuhmu atau kau ingin bercinta denganku," ucap Wiliam tanpa malu.


Jelita pun gelagapan. "Ah jangan! Aku akan segera bersiap-siap," balasnya lalu ikut dengan Bibi maid yang ternyata sudah menunggunya di luar kamar Wiliam.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2