Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 69. Maksud kedatangan William


__ADS_3

"William cucuku, dasar badjingan kecil! Kemana saja kau, sudah sebesar ini baru ingat mengunjungiku," ucap Kakeknya William bernama Wijaya sambil merenggut rambut gondrong cucunya.


William pun tersenyum sambil meringis kesakitan karena rambut panjang sedikit bergelombang itu di tarik oleh Kakeknya sendiri.


"Akh! Sakit Opa, jangan seperti itu. Apa kau ingin ketampanan cucumu ini berkurang." William berlagak sakit untuk menyenangkan hati sang Kakek.


Sang Kakek pun mencebik. "Potong rambutmu, Opa tidak suka. Dan penampilan macam apa ini, kau seperti preman berandal saja, tidak ada wibawanya sama sekali," ucap Opa Wijaya terus memandangi cucu kandung semata wayangnya itu dari atas hingga ke bawah.


Wiliam tersenyum meraih tangan sang Kakek kesayangan dan mengajak beliau untuk duduk terlebih dahulu.


Takut kena jantung, pikirnya.


"Kita duduk dulu Opa," Wiliam menyengir sambil menenteng sang Kakek dengan satu tangan.


"Hei turunkan! Opa bisa jalan sendiri, jangan kau samakan Opa dengan wanita-wanita malammu yang tidak jelas itu." Opa Wijaya memukul punggung belakang William bertubi-tubi.


Kebiasaan!


William hanya terkekeh. "Maaf Opa," lalu mendudukan Opa pada sofa di dalam ruangan tersebut.


Benar-benar cucu kurang ajar, gumam Opa Wijaya. Tapi dia begitu senang, karena selama keluar dari penjara, ini kali pertama Wiliam mengunjungi dirinya.


...***...


"Oke sekarang beritahu Opa, apa maksud kedatanganmu kesini?" tanya Opa Wijaya sambil membetulkan jasnya yang tersingkap akibat ulah William.


"Opa, aku kesini ingin meminta hal kecil padamu," balas William sambil menuangkan secangkir wine dari lemari pendingin diruangan itu tanpa ijin.


Opa Wijaya mencebik. "Heh! Ternyata kau juga sama dengan dia, datang kepadaku jika ada maunya saja."


Opa Wijaya menghela nafas, ingin sekali dia mencekik cucu nya itu karena kesal merasa sendirian selama hidupnya. Sementara anak tiri beserta keluarganya itu tidak ada yang mengingat dirinya dan hanya datang jika membutuhkan sesuatu.


Apalagi setelah anak kandung lelaki satu-satunya tiada, dia dibuat pusing dengan siapa yang akan meneruskan perusahaannya.

__ADS_1


William menunduk. "Maaf ... Kalau aku jarang mengunjungimu Opa, tapi kunjunganku kali ini benar-benar penting dan aku yakin kau akan senang dengan maksud kedatanganku kesini," balas William sambil memutar-mutarkan wine dalam gelasnya.


Opa Wijaya berdecak kesal. "Ck! Seberapa penting urusanmu dan apa maksud kedatanganmu yang bisa membuat ku senang. Apa kau sudah menemukan wanita pendamping?" tanya Opa bergurau, mengingat cucunya itu tidak pernah ada keinginan untuk menikah atau serius terhadap wanita.


Heh!


William tersenyum dan menggeleng. "Aku memang belum ada keinginan menikah, tapi aku sudah menemukan satu gadis yang cocok untuk ku nikahi," balasnya sambil mengingat satu gadis dalam foto.


Opa Wijaya mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali, dirinya terkejut bercampur senang. Tapi dia tetap tidak percaya.


"Oh begitu, bagus lah. Jika ada kesempatan bawa dia kemari untuk menemuiku. Aku ingin melihat gadis bod*oh mana yang tertipu olehmu" balas Opa Wijaya santai untuk menjaga wibawanya, padahal jauh didalam hati dia sudah ingin melompat karena senang. "Akhirnya."


"Aku belum sempat menemuinya, tapi aku berjanji, suatu saat aku akan mengajaknya kesini untuk bertemu denganmu," balas William.


Opa Wijaya memicingkan matanya. "Dasar penipu, belum bertemu tapi sudah yakin jika gadis itu mau diajak olehmu. Kau pikir Opa mu ini anak kecil yang tidak tahu apa-apa hah."


William tersenyum. "Aku tidak berbohong dan aku orang yang selalu menepati janji."


Opa Wijaya menghela nafas. "Ya sudah anggap saja Opa percaya padamu. Lalu apa kedatanganmu ini hanya untuk memberitahuku mengenai hal tersebut?" tanyanya lagi.


Opa Wijaya terkejut dan mengucek-ucek kedua matanya tidak menyangka. Apa di depannya itu adalah cucunya sendiri atau bukan. Karena selama ini yang dia tahu William sama sekali tidak tertarik dengan mengurusi perusahaan milik keluarga.


"Ciyus?" tanya Opa Wijaya tidak percaya dan mencubit kulit keriput pada lengannya. "Aks sakit!" dia tidak bermimpi ternyata.


William mengangguk dan meneguk wine dalam gelas hingga tandas. "Hem ... Betul," balasnya.


Opa Wijaya menyentil air mata pada ujung ekor mata dan menatap William dengan serius. Ada kegembiraan dalam hati mendengar cucu kandungnya mengatakan hal tersebut.


Namun ada kegelisahan dalam hatinya, karena semenjak William menolak meneruskan perusahaan. Anak tiri yang tidak lain dan tidak bukan adalah Wijaksana, bermaksud ingin mengambil alih perusahaan milik keluarganya.


"Opa tidak tahu apa maksud dan tujuanmu berbicara seperti itu, tapi jujur Opa sangat senang mendengar kalau kau ingin meneruskan perusahaan keluarga kita ini. Jadi William ... Opa ingin melihat keseriusanmu dalam memimpin perusahaan ini."


Opa Wijaya memejamkan kedua matanya dan menarik nafas dalam-dalam. Dia membuka kedua matanya lalu berbicara dengan tegas.

__ADS_1


"Oke ... Baiklah! Opa sudah memutuskan, mulai besok kamu akan bekerja disini. Tunjukkan jika dirimu memang pantas meneruskan perusahaan keluarga kita dan satu hal yang paling penting ... Jangan kecewakan Opa mu yang sudah renta ini."


William tersenyum dan memeluk Opa nya. "Terima kasih, aku berjanji tidak akan mengecewakanmu."


Opa Wijaya mengurai pelukan itu, lalu meminta kepada asisten pribadinya untuk menyiapkan tempat untuk William dan mengurus beberapa keperluan serta mengatur para pekerja yang akan menjadi pendamping untuk membantu William selama dia bekerja di perusahaan ini.


Opa menepuk-nepuk keras pundak cucunya dan tersenyum. "Opa yakin kamu bisa menjadi penerus perusahaan ini, kau anak yang pintar hanya saja salah jalan."


Opa Wijaya tertawa sambil menunjukkan ekspresi bahagianya, kemudian diikuti suara tawa dari William dan juga pekerja lain yang berada di dalam sana.


...----------------...


Sementara itu, di perusahaan cabang, anak perusahaan besar Wijaya Group. Info mengenai kedatangan William dan juga keinginan menjadi penerus pun telah sampai di telinga Tuan Wijaksana. Dia menatap si pembawa pesan, dan tersenyum sinis.


"Apa itu benar?" tanya Tuan Wijaksana.


"Benar Pak Presdir," balas si pembawa pesan.


Tuan Wijaksana kemudian berdecak kesal dan mematahkan pulpen dalam genggaman tangannya itu, lalu melempar ke sembarang arah.


Pria paruh baya itu menghela nafas dan mengatur emosinya agar tidak terlihat. Dia menyuruh semua orang dalam ruangannya keluar terlebih dahulu agar dirinya sendirian.


Kemudian setelah semuanya pergi, dia mendengus kesal, lalu menghampiri sebuah foto berukuran besar pada dinding ruang kerjanya.


Tuan Wijaksana menatap foto keluarga besarnya itu, dimana sang kakak tirinya yang sudah tiada berada di dalam foto tersebut.


Dia tertalak pinggang dan berdecih. "Cih! Jika tahu jadinya seperti ini, seharusnya aku menghabisi seluruh keluargamu di hari itu juga!"


Tuan Wijaksana merapihkan meja kerjanya dan memanggil supir untuk pergi ke perusahaan pusat untuk menemui sang Ayah tiri dan membicarakan mengenai keberatannya tentang keputusan sang Ayah tanpa meminta pendapat atau persetujuannya terlebih dahulu.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2