Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 59. Permintaan aneh.


__ADS_3

Nyonya Caca memeluk putranya yang sedang sedih. Dia mengajak Michael untuk duduk dan meminta maaf tiada henti.


"Mom ... Jangan meminta maaf terus kepadaku kau tidak salah," Michael mengenggam kedua tangan Nyonya Caca yang terus saja meminta maaf kepada dirinya.


"Maaf Miki ... Mamy tahu jika kamu sedang mencintai seseorang dan orang itu adalah Jelita, tapi Mamy malah memisahkan kamu dengan cintamu itu," ucap Nyonya Caca.


Michael terkejut, ternyata hatinya bisa ditebak dengan mudah oleh sang Mamy. "Dari mana Mamy tahu tentang itu?" raut wajah Michael kembali sedih.


"Karena Mamy adalah seorang Ibu, mana mungkin Mamy tidak tahu perasaan buah hatinya sendiri, bahkan melihat ekspresi wajahmu saja sudah cukup membuktikan, jika anak Mamy sedang patah hati," balas Nyonya Caca.


Michael kembali menitikkan air mata dan meraih kedua tangan Nyonya Caca.


"Mamy, boleh aku meminta sesuatu kepadamu?" tanya Michael.


Nyonya Caca mengangguk. "Apa itu sayang?" balas Nyonya Caca dengan bertanya.


"Mike mohon, jangan larang Mike untuk mencintainya. Dia ... Dia adalah teman wanita pertama dan juga cinta pertamaku, jika Mamy melarangku bagaimana aku bisa semangat kembali," ucap Michael lirih.


Nyonya Caca bertambah sedih dan merasa bersalah kepada putranya sendiri. "Miki ... Kau boleh mencintainya, tapi apa kau yakin akan kuat menerimanya, Mamy tidak ingin kamu terluka lebih dari ini?" Nyonya Caca menangkup kedua sisi wajah Michael.


Michael mengangguk. "Mom, Mike yakin akan kuat, walau Mike cuma bisa mencintai Jelita tanpa bisa memiliki. Asalkan Mamy berjanji untuk tidak melarangku bersamanya selama dia masih tinggal disini."


"Tapi sayang bagaimana bisa seperti itu, lebih baik kamu menjauh agar kamu tidak semakin sedih. Miki ... Mamy janji akan mencarikanmu wanita sebaik Jelita," ucap Nyonya Caca.


Michael menggeleng. "Tidak Mom, tidak ada wanita yang bisa sebaik Jelita." Michael menatap Nyonya Caca. "Mamy tolong berjanjilah kepadaku tidak akan melarangku untuk mendekati Jelita di sisa waktu, selama dia masih tinggal disini."


"Tapi Nak ...."


"Mamy ... Mike janji, setelah dia pindah dari sini, Mike tidak akan menemui dia lagi. Mike tidak akan menganggu anak asuh Mamy itu atau meminta hal yang lain kepadamu Mom." Michael berlinang air mata dan itu menambah kesedihan Nyonya Caca.


Dia menggenggam kedua tangan putranya kembali. "Baiklah Miki sayang, Mamy tidak akan melarangmu mencintai Jelita dan disisa waktu dia yang tinggal dua minggu lagi disini, Mamy tidak akan melarangmu untuk mendekati dia. Tapi berjanjilah sayang, untuk tidak melupakan peraturan yang pernah Mamy beritahu sebelumnya kepadamu."


Michael tersenyum dan mencium kedua tangan Ibunya. "Thank's, Mam. Mike berjanji." Michael memeluk Nyonya Caca dan berkata di dalam hati.


"Hanya tinggal dua minggu lagi waktu yang tersisa, aku berjanji akan membuatmu mencintaiku Jelita, aku tidak peduli dengan berapa banyak sakit yang akan ku terima setelah ini. Tapi satu hal yang pasti aku akan berusaha membuat mu jatuh cinta kepadaku."


***


Keesokan harinya.


Sesuai janjinya kepada Michael, Nyonya Caca tidak akan melarang putranya itu untuk menemui atau mendekati Jelita.


"Tinggal dua minggu lagi Jelita akan pindah dari sini, tapi bagaimana dengan Miki ku. Dia pasti akan kehilangan Jelita, setelah gadis itu pindah."

__ADS_1


Nyonya Caca masih merasa dilema, apa putranya akan benar-benar kuat menghadapi Jelita yang suatu saat nanti akan pergi darinya.


Sementara itu Michael menemui Jelita dan mengajaknya ke suatu tempat.


"Kau mau membawaku kemana?" tanya Jelita kepada Michael yang terus saja menarik lengannya.


"Sudah ikut saja," jawab Michael.


"Ya tapi mau kemana, jelaskan dulu."


"Kita ke halaman belakang," balas Michael.


"Halaman belakang?" tanya Jelita dan Michael mengangguk.


Gadis itu berpikir keras, mau apa sebenarnya Michael membawa dirinya ke halaman belakang, karena setahu dirinya di halaman belakang itu hanya ada kolam berenang, taman indah yang luas dan juga sebuah paviliun.


"Baiklah, tapi jangan terlalu cepat. Aku tidak bisa mengimbangi langkah kakimu yang panjang itu," ucap Jelita.


"Oh begitu, baiklah kita jalan perlahan saja," balas Michael memperlambat langkahnya.


Kini mereka berjalan perlahan bersama-sama dan setibanya di halaman belakang Mansion, Michael melepaskan genggaman tangan Jelita.


"Oke sudah sampai," ucap Michael kemudian menarik Jelita untuk duduk di kursi tepi kolam berenang.


Bukannya menjawab, Michael malah tersenyum-senyum sendiri menatap Jelita, hingga hadis itu pun salah tingkah.


"M-michael, sudah berapa kali ku bilang padamu, jangan tatap aku seperti itu." Jelita menutupi wajahnya dengan kedua tangan karena malu di pandangi oleh Michael terus menerus.


Michael terkekeh. "Baiklah, tapi hari ini tolong bantu aku ya."


"Bantu apa?" tanya Jelita.


"Bantu jadi model ku," balas Michael.


"M-model ... Model apa Michael? Aku tidak mau," Jelita menolak mentah-mentah.


Michael pun cemberut lalu merayu Jelita. "Hayo lah Jelita, aku sedang ada tugas foto dan aku tidak punya model untuk tugasku. Jadi tolong bantu aku ya." Michael menaikkan kedua alisnya berkali-kali.


"Tidak mau, sejak kapan kuliah jurusan bisnis dan manajemen ada tugas ambil foto seperti itu?" Jelita pun terheran-heran.


Michael meremas tangannya pelan dan mencari alasan yang tepat agar Jelita mau menuruti permintaannya. Permintaan aneh yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran sama sekali.


Ya apa lagi kalau bukan akal-akalannya si Michael mencari alasan untuk menyimpan foto Jelita sebagai kenang-kenangan pribadinya.

__ADS_1


"Ah ada tugas itu! sudah lah tidak usah banyak tanya. Jika foto ini selesai, aku berjanji akan mentraktirmu makan malam yang enak dan mewah," ucap Michael memberikan penawaran.


Mendengar makanan enak dan mewah, pendirian Jelita yang kokoh pun akhirnya goyah. Dia segera mengangguk dan mengiyakan permintaan Michael, tanpa tahu maksud dan tujuan Michael yang sebenarnya.


"Oke deh kalau begitu."


Michael melebarkan senyumannya, dia segera menarik Jelita dan memintanya untuk mengenakan pakaian yang telah dia siapkan sebelumnya.


"Kau ingin aku memakai gaun ini?" Jelita tercengang melihat pakaian yang begitu bagus dihadapannya.


Michael mengangguk. "Benar ... Karena aku ingin hasil yang bagus, ya model nya juga harus pakai baju yang bagus." Michael tersenyum kembali.


"Tapi Michael ini terlalu bagus dan waw sekali, aku takut akan merusaknya," ucap Jelita merasa ragu.


Michael menghela nafas dan berusaha membujuk Jelita. "Sudah pakai saja, aku tidak akan marah jika gaun ini rusak." ucapnya lalu mendorong Jelita agar masuk ke dalam paviliun.


"T-tapi Michael," Jelita menolak masuk ke dalam.


"Sudah cepat masuk! Jika tidak, aku akan mencium mu disini!" ancam Michael dan mendekatkan diri untuk mencium Jelita.


"Ah tidak jangan cium aku! Baiklah aku akan pakai," Jelita menjauh dari Michael dan bergegas masuk ke dalam.


"Brak!" Pintu akhirnya tertutup rapat dan Jelita kini telah di dalam.


Michael tersenyum dan terkekeh saat melihat wajah Jelita yang ketakutan saat ingin dicium olehnya.


"Ah dia menggemaskan sekali, hanya di ancam seperti itu saja sudah ketakutan, bagaimana jika aku benar-benar menciumnya." Wajah Michael tiba-tiba memerah karena memikirkan hal tersebut.


Dia kemudian menggeleng untuk menyingkirkan pikiran kotornya dan menunggu Jelita di luar dengan jantung yang terus berdebar.


"Maaf aku sedikit memaksamu," ucap nya pelan lalu menunggu di tempatnya semula.


Sementara itu Jelita terdiam memandangi gaun indah di tangannya. Sebuah gaun berwarna merah buah cerry dengan taburan gliter yang berlimpah. Tidak terlalu banyak embel-embel aksesoris menambah kesan elegan dan sederhana bersatu padu dalam gaun tersebut.


"Apa mungkin aku harus memakainya, tapi mengapa permintaan Michael aneh sekali."


Jelita menghela nafas, lalu dia memakai gaun tersebut dan juga berdandan untuk memenuhi permintaan Michael, yang di dalam pikirannya itu adalah orang yang telah menganggap dirinya sebagai teman.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2