Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 25. Bu Rosi tertekan.


__ADS_3

Di Kampus.


Hari ini ada yang berbeda dengan Jelita, kali ini gadis itu bekerja penuh semangat dengan raut wajah yang ceria. Dia lebih banyak tersenyum walau banyak siswa yang tidak menyukainya.


"Pagi ...."


"Pagi ...."


Jelita menyapu halaman, sesekali berhenti menyapa sejenak siswa yang baru datang sambil tersenyum ramah.


Dirinya tidak pernah lelah memberi salam kepada semua siswa, walau tidak ada satupun yang peduli dan tak ada yang mau membalas sapaannya itu.


"Pagi ..." sapa Jelita, lalu berbalik melanjutkan kembali pekerjaannya.


"Pagi ..." balas salah satu mahasiswa yang membuat Jelita berhenti bekerja dan memandang sekilas pria yang telah berlalu dari hadapannya itu.


"T-tuan ...." Jelita mengulum senyum.


"Dia membalas sapaanku, hihihi." Jelita tertawa kecil, dan membuat geram seorang wanita yang baru saja datang.


Dia berjalan menghampiri Jelita dan tanpa ragu menyepak tempat sampah di depannya itu, hingga isinya pun ikut berhamburan ke sembarang arah.


Suara gelak tawa pun menggelegar, bersamaan dengan aksi Jelita mengejar tong sampah yang berguling jauh dari tempatnya, akibat sepakan keras dari Floren.


Jelita tersenyap saat bisingnya suara tawa disekeliling, membuat dirinya kembali tersadar dengan statusnya yang rendah.


"Harusnya aku tidak tertawa tadi ..." gumam Jelita.


Floren tersenyum sinis, lalu melangkah pergi meninggalkan Jelita yang terjongkok memunguti sampah itu kembali ke asalnya.


"Sampah! ... kau hanyalah sampah! Berani menggoda pria ku," umpat Floren sambil berjalan masuk ke dalam kelasnya.


Jelita hanya pasrah menerima perlakuan tersebut, namun dirinya kembali semangat jika mengingat ibunya.


"Ibu saja sedang berjuang menghadapi sakitnya, masa aku menyerah hanya karena hal sepele."


Jelita menghembuskan nafasnya kasar, lalu berdiri dan tersenyum ceria kembali. Dirinya melenggang bebas seperti tidak ada beban dalam hidupnya. Membuat semua mata memandang pun terheran-heran dibuatnya.


"Apa si gembel itu sudah gila, sudah menerima perlakuan menyedihkan setiap hari masih saja bisa senyam-senyum seperti itu," ucap Sandra melihat keluar kaca jendela.


"Mungkin otaknya sedikit bermasalah, padahal aku saja sudah lelah mengerjainya setiap hari. Tapi dia masih saja bertahan dan menganggap tidak terjadi sesuatu," balas Mika memijat pelipisnya.


Mereka pun menghela nafas namun Michael tersenyum samar, dia menggeleng pelan dan memejamkan kedua matanya.


"Heh ...Tidak ku sangka," gumam Michael lalu menatap kembali keluar jendela. Karena memang hobinya.


Floren tersenyum samar ke arah Michael, yang tidak memandangnya sama sekali. Wanita itu kian mendekati Michael dan duduk disampingnya tanpa permisi. Dia tidak memperdulikan orang sekitarnya apalagi kepada si empunya kursi yang sudah cemberut sedari tadi.

__ADS_1


"Mulai sekarang, aku yang akan duduk disamping Mike," titah Floren kepada si pemilik kursi sebelumnya.


Pria itu hanya mengangguk pasrah lalu merampas tas nya dengan kasar sedikit gemulai, sambil membuang muka dan mencebik bibirnya seperti mengerutu.


"Heuh! Dasar nenek lampir, kejamnya sama Eike," Dia menangis sendu sambil melambai satu tangan ke arah Michael pria pujaan hatinya.


"Bye Babe."


***


Floren menarik satu sisi bibirnya lalu memainkan jari di atas meja kursi, yang dulunya milik si Boy banci kaleng. Dia melirik pria disebelahnya dan mengatakan hal yang membuat telinga Michael terusik.


"Mike sayang," ucap Floren penuh mesra, membuat Michael langsung melotot ke arahnya.


Floren mengulum senyum dan menatap Michael yang sudah kesal kepadanya.


"Kenapa Mike, apa ucapanku salah? Kau kan memang pacarku mulai sekarang. Kemarin kita sudah dijodohkan bukan?" ucap Floren sedikit mengeraskan suaranya, membuat semua pun terkejut tak menyangka.


"Apa pacar?" tanya Mika mendobrak meja kursinya.


"Atas dasar apa Mike menjadi pacarmu? lihat lah si gembel itu. Dia masih bertengger disana," ucap Sandra tidak terima dengan pernyataan Floren.


Floren pun gemas, namun dia tidak marah karena dirinya sudah menang. Mereka pun ribut namun Michael tak peduli, dia memilih keluar kelas padahal dosen sebentar lagi akan masuk. Bu Rosi yang selalu gelagapan kalau bertemu dengan Michael.


Aura yang terpancar dari ketampanan pria satu ini, nyatanya membuat dosen cantik yang suaminya bekerja diluar kota itu berdenyut tidak menentu. Apalagi bagian bawahnya.


***


Michael menghembuskan nafasnya kasar dan tidak melihat ada Jelita yang sedang duduk berteduh dibawah pohon. Michael dan Jelita duduk saling membelakangi dan terhalang pohon besar.


Wanita polos nan lugu itu juga menghela nafas karena lelah, hingga keduanya tersentak dan saling mencari sumber suara.


"Siapa itu?" tanya Michael dan Jelita bersamaan.


Mereka seperti anak kecil yang sedang bermain petak umpet, namun tak berselang lama pandangan mereka pun beradu membuat keduanya memasang ekspresi yang berbeda.


Jelita seketika menunduk takut, namun Michael hanya mendehem melihat Jelita.


"Kirain siapa ..." balas mereka bersamaan lagi.


"T-tuan sedang apa?" tanya Jelita tapi tidak menatap mata Michael.


"Sedang duduk, kau pikir aku sedang bergelantungan." Michael menjawab dengan ketus dan segera memalingkan wajah.


Jelita merapatkan mulutnya lalu kembali mengerjakan pekerjaan dan memilih kabur dari sana. Mencari aman pikirnya.


"Jelita, bagaimana kabar ibumu?" tanya Michael, namun Jelita tak menjawab karena sudah menghilang dari sana.

__ADS_1


"( ....)" Michael masih menunggu jawaban.


"Cih!" dia berdecih. Michael seketika mengerutkan dahi karena merasa dicuekin, namun saat dirinya berbalik Jelita sudah tidak ada disana. Dia pun celingukan seperti orang yang linglung.


"Siall!" umpatnya merasa kesal karena biasanya dia yang mencueki orang, namun sekarang dirinya yang dicueki orang lain. Tidak terima pokoknya.


***


Merasa dirinya sudah tenang, Michael kembali ke dalam kelas. Bu Rosi yang mengajar dengan santai mendadak berkeringat saat melihat Michael, diapun menjadi pecicilan.


Apalagi saat melihat kedua tangan Michael yang dibenamkan ke dalam kantong celana, dia meneguk ludahnya susah payah. Entah mengapa pandangannya selalu mengarah ke tengah.


"M-michael ... duduklah!" perintah Bu Rosi merasa tertekan saat Michael diam tak bergerak karena malas duduk disebelah Floren.


Pelajaran dilanjutkan kembali, Floren menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Michael.


"Oke siapa yang bisa menjawab ini?" tanya Bu Rosi bertanya kepada muridnya.


Semua mendadak kaku, namun Michael dengan segera mengangkat tangan. Bu Rosi kembali panas dingin saat Michael berjalan menghampirinya.


Pria mengkel setengah matang itu meraup spidol dari tangan Bu Rosi. "Hangat," ucapnya pelan saat tangan Michael tak sengaja menyentuhnya.


Lalu tanpa banyak kata, Michael menulis semua jawaban di sebuah papan mengkilap berwarna putih dengan benar, membuat mata semuanya takjub. Termasuk Bu Rosi.


"Bagaimana Bu Ros, apa jawabanku benar?" tanya Michael.


Bu Rosi gelagapan saat Michael menatapnya dengan tajam sedikit senyuman. Dadanya kembang kempis mengatur nafas. "Benar!" jawabnya cepat dan membiarkan Michael kembali ke bangkunya dengan segera.


Bu Rosi yang merasa tertekan terpaksa menyudai kelas sebelum waktunya, karena harus pergi ke toilet. Merasa ada sesuatu yang basah, namun bukan karena berkeringat.


…………………………………………………………………………


Mansion Chandra Putra.


Sementara itu Nyonya Caca menghubungi seseorang sambil memegang pinggangnya yang sakit. Karena tadi pagi di kamar mandi.


Dia meminta orang tersebut untuk memantau putranya yang berada di kampus.


"Sandy, aku minta kepadamu untuk memberikan aku kabar tentang Michael selama dia di kampus. Dengan siapa dia bergaul dan satu lagi ... Tolong beritahu kepada ku seorang gadis yang bernama Jelita. Aku minta datanya dalam waktu satu jam."


"Baik Nona muda!" patuh Sandy.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2