Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 136. Bulan madu.


__ADS_3

Selesai mandi Wiliam membopong Jelita kembali ke dalam kamar dan membantu memakaikan pakaian yang sudah di pesan sebelumnya.


Pria itu memberikan perhatian penuh, sampai Jelita merasa tidak enak hati. Namun Wiliam selalu menolak permintaan Jelita, yang selalu meminta Wiliam agar berhenti mengurusi dirinya.


"Wil, aku bisa pakai sendiri." Cegah Jelita saat Wiliam ingin memakaikan pakaiann dalamnya.


"Tidak apa, aku ingin membantumu." Wiliam memutar tubuh Jelita agar membelakangi dirinya dan mulai memasangkan pengait pada kain penyangga.


Lalu mengecup lembut punggung itu dan tidak lupa meninggalkan satu lagi jejak percintaan di antara banyaknya tanda merah lain diatas sana.


"Sempurna," ucap Wiliam dan tersenyum.


"Terima kasih," balas Jelita sambil mengusap punggungnya yang digigit.


"Sama-sama," jawab Wiliam kemudian membantu mengambil pakaian baru dari paperbag dan memberikannya kepada sang istri tercinta.


Jelita mengambil baju dari uluran tangan Wiliam dan tersenyum, tapi belum sempat dia menarik tangannya, Wiliam sudah menariknya lebih dulu untuk masuk ke dalam dekapan.


"Wiliam, sudah ah." Jelita menahan wajah Wiliam yang ingin menyosor.


"Satu ciuman lagi, maka aku akan melepaskanmu." Wiliam memajukan bibirnya seperti bebek.


Jelita memutar bola matanya lelah, karena merasa Wiliam tidak ada capek-capeknya mencium.


"Baiklah," balas Jelita kemudian mengijinkan Wiliam kembali mencium bibirnya yang sudah bengkak.


Baik bibir atas, maupun bibir bawahnya.


Wiliam melepaskan pangutan dan kembali memeluk istrinya dengan erat, entah mengapa hal-hal yang berbau Jelita kini rasanya sangat manis dan juga memabukkan layaknya candu.


Begitu pula dengan Jelita, dia mulai merasa nyaman dan aman bersama dengan Wiliam. Aroma tubuh pria itu sudah menempel lekat di dalam pikirannya, membuatnya selalu ingin terus berdekatan dan merasakan kehangatan serta sentuhan dari suaminya.


"Wil, pakai bajumu. Aku juga akan membantu menyisir rambutmu nanti," ucap Jelita lalu mengurai pelukannya.


"Sayang," balas Wiliam mengulurkan tangan, merasa tidak ingin Jelita pergi darinya.


Dia hanya bisa menatap istrinya yang sedang bersenandung dan menyisir rambut di depan cermin sambil memakai pakaian.


...***...


Wanita itu benar-benar sungguh beruntung, karena Wiliam senantiasa memperlakukannya bagai seorang ratu.


Seperti saat sekarang ini, dia tengah menyuapi Jelita sarapan pagi.


"Isi tenagamu yang banyak, karena sebentar lagi kita akan pergi berbulan madu," ucap Wiliam penuh dengan syarat makna.


Hingga Jelita tersedak makanannya sendiri, karena suaminya itu yang selalu tidak ada merasa puas-puasnya.

__ADS_1


"Hati-hati saat makan," Wiliam menyodorkan air minum untuk Jelita.


"Terima kasih," balas Jelita lalu kembali memandangi Wiliam.


Ia sungguh tidak menyangka jika permainan suaminya itu sungguh sangat hebat sekali, bahkan dia tidak bisa menyangkal jika Wiliam sangatlah perkasa.


Jelita tertunduk malu dan selalu tersenyum jika memikirkan apa yang telah mereka lakukan semalam dan juga barusan di kamar mandi.


"Apa yang sedang kau pikirkan hem? Apa sedang memikirkan ku atau sedang memuji keperkasaanku ini?" tanya Wiliam sambil mengunyah makanannya dengan santai.


Jelita menggeleng. "Ah tidak, hanya makanan ini sangat enak," balasnya malu dan tidak mau mengakui kalau perkataan suaminya itu benar.


Wiliam menarik senyum. "Tidak usah malu-malu lagi denganku sayang, kau pasti memikirkan kejadian kita tadi bukan?"


Jelita mencubit lengan Wiliam. "Kau selalu bisa membaca pikiranku, apa kau punya kekuatan semacam itu hah?" tanyanya heran.


Wiliam menggeleng. "Tidak ada, aku hanya menduganya saja."


"Tapi dugaanmu itu selalu benar, kenapa bisa begitu ya?" tanya Jelita heran.


Wiliam menaikkan kedua bahu. "Entahlah, mungkin karena kau seseorang yang spesial dihatiku, jadi aku selalu bisa membaca isi hati dan juga isi pikiranmu," jawabnya.


Jelita mengerjapkan kelopak matanya dan merasa berbunga saat Wiliam mengucapkan jika dia adalah orang spesial dihatinya.


"Benarkah itu?" tanya Jelita kembali.


Jelita tersenyum dan merasa senang. "Kau bisa saja," balasnya malu-malu.


Wiliam menarik senyum dan mulai menggoda Jelita kembali. "Bagaimana dengan permainanku tadi hem? Apa kau suka, nanti malam kita lakukan lagi ya. Aku ingin mencoba gaya yang lain," ucapnya.


Jelita meluruskan badan dan menelan ludahnya susah payah. "L-lagi?" ucapnya terbata dan Wiliam mengangguk pasti.


"Benar aku serius, sekarang makanlah yang banyak. Aku tidak ingin kau mati kelelahan saat bermain nanti," jawabnya enteng.


Jelita meneguk ludah dan memegangi dadanya yang terus saja berdebar. "Dia mau lagi? Matilah aku," gumamnya sambil mengunyah perlahan.


Wiliam terkekeh, melihat ekspresi Jelita berubah menyedihkan. "Sudahlah jangan dipikirkan, pikirkan nanti saat kita sudah sampai disana."


Jelita memicingkan matanya dan berdecih. "Punyaku saja belum hilang sakitnya dan kau mau melakukannya lagi. Oh Wiliam, setidaknya berikanlah aku waktu paling tidak semalam untuk menyembuhkan rasa sakit ini."


Wiliam menaruh sendok dan menggeleng. "Mana bisa begitu, namanya bulan madu harus dipuas-puasin bermain. Jika tidak itu namanya sia-sia," balasnya tersenyum lalu melihat jam.


"Sudah jam 9, kita harus pergi sekarang," ajak Wiliam merangkul istrinya yang hanya bisa melongo.


"Oh tidak habislah aku," gumam Jelita lalu menciutkan badan.


Wiliam terkekeh. "Tenang saja, aku tidak akan membuat kau mati. Paling hanya lemas saja dan aku yakin kau akan menjerit lebih histeris nanti malam."

__ADS_1


"Apa maksudmu itu?" tanya Jelita mencium bau-bau mencurigakan.


"Iya! Karena kau sudah menjadi milikku dan aku juga telah berhasil membobol pertahananmu itu. Jadi Jelita, aku ingin bermain denganmu sampai puas hingga pagi dan begitu sampai seterusnya," balas Wiliam tanpa disaring terlebih dahulu.


Jelita tersedak nafasnya sendiri. "Oh Wiliam kau bisa membuatku muntah darah," balasnya.


Wiliam seketika tertawa. "Kau bisa saja, mana mungkin hal seperti itu bisa membuatmu muntah darah," balasnya sembari menggeleng.


Jelita terdiam dan menatap gundukan yang menonjol dari balik celana Wiliam. "Dasar ular python menyebalkan! Selain mengejutkanku dan juga telah membuatku kewalahan," umpatnya kesal.


Wiliam menarik dagu Jelita. "Sayang, jangan salahkan ular perkasaku ini, salahkanlah dirimu yang selalu bisa memancingnya terbangun. Kau begitu menggoda, bahkan sedang diam begini pun rasanya aku ingin sekali menerkammu."


"Wiliam kau selalu saja menggodaku, apa kau tidak takut aku akan mencekik ularmu itu hah?" ancam Jelita.


Wiliam tersenyum. "Kau ingin mencekik ularku, baiklah nanti kau cekik dia jika sudah terbangun. Aku mau lihat kehebatanmu mencekik dia," balasnya terkekeh.


Jelita kembali menantang. "Siapa takut," balasnya memberanikan diri.


...----------------...


Maldives.


Setibanya di tempat tujuan Jelita selalu menguap, perjalanan panjang ke tempat itu membuat ia merasa ngantuk. Terlebih kelelahan sehabis bermain dengan Wiliam dan juga bergadang semalaman membuat ia tertidur pulas di kamar hotel.


"Sayang, kenapa kau tidur? Bangunlah sayang bagaimana denganku dan ularku ini." Wiliam mengoyangkan tubuh Jelita yang sudah ambruk diatas kasur.


"Maaf sayang, aku ngantuk sekali. Mainnya besok lagi saja ya," pinta Jelita, kedua matanya sudah terpejam karena merasa berat sekali untuk dibuka.


Wiliam melihat jam di atas nakas, "Sayang bangunlah, ini masih belum malam. Kau tega sekali mengabaikan aku," balasnya kesal.


Jelita tidak membalas perkataan Wiliam, karena dia telah pergi ke alam mimpi. Meninggalkan suami dan ular pythonnya yang terus terjaga semalaman.


"Dia benar-benar menyiksa kita!" umpat Wiliam.


Pria itu menghela nafas dan memandangi wajah istrinya yang tertidur, rasa lelah terukir jelas diwajah Jelita dan Wiliam memilih tidak mengganggu tidurnya.


Dia menarik bedcover lalu menyelimuti istrinya dan tidak lupa memberi kecupan hangat di kening. Kemudian menelepon sanak keluarga untuk mengabari jika mereka telah sampai di tempat tujuan.


Tidak lupa Wiliam juga menghubungi Riko untuk menanyai beberapa pekerjaan selama ia pergi berbulan madu.


Namun bukan hanya membicarakan hal-hal pekerjaan, Riko juga membuat Wiliam semakin kesal. Karena asisten pribadinya itu meledek bosnya yang tengah di tinggal tidur oleh Jelita.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2