
Sebulan kemudian.
Perusahaan Wijaksana.
"Tuan Wijaksana, pembangunan hotel dan restoran kita di daerah pegunungan sudah hampir 75 % selesai. Apa yang akan Tuan lakukan setelah itu?" tanya sang asisten seraya memberikan laporan pembangunan proyek.
"Kurang lebih berapa lama lagi pembangunan itu selesai? Dan bagaimana tempat wisata alam di daerah sana?" balas Tuan Wijaksana dan bertanya.
"Kurang lebih dua atau tiga bulan lagi Tuan pembangunan wisata alam itu jadi dan pembangunan proyek kita kurang lebih satu atau dua bulan lagi akan selesai," jawab sang asisten.
"Bagus percepat pembangunan disana, dan kalau sudah selesai kita akan memulai memasarkan hotel dan juga restoran untuk menarik pengunjung yang bermain di di daerah wisata alam itu," balas Tuan Wijaksana.
"Baik Tuan!" patuh sang asisten kemudian kembali bekerja.
Tuan Wijaksana tersenyum smirk dan berharap pembangunan kali ini akan membuat Wiliam kalah saing dalam berbisnis, sehingga dia bisa membuat Wiliam malu jika dirinya lah yang pantas menduduki kursi panas tersebut.
"Kau hanya anak kecil yang tidak tahu apa-apa, kau pikir dengan mendapat posisi jabatan tertinggi perusahaan Wijaya Group kau akan menang begitu. Tunggu saja sampai itu terjadi, kau akan jatuh sejatuh jatuhnya," gumam Tuan Wijaksana sambil meremas kedua tangannya.
...----------------...
Perusahaan Wijaya Group.
Sementara itu di sisi berbeda, Wiliam juga sedang mempersiapkan rencananya menghancurkan Wijaksana.
"Wil, pembangunan hotel dan restoran perusahaan Wijaksana sudah hampir mencapai 75 persen. Apa kau yakin dengan rencanamu sebelumnya?" tanya Riko sedikit ragu.
Wiliam memasang wajah serius dan menatap Riko tak gentar. "Kau pikir aku sedang main-main?"
Riko menggeleng. "Tapi sebelum kau menghancurkan anak perusahaan ini, apa kau tidak takut nanti akan berimbas kepada yang lainnya? Tolong pikirkanlah sekali lagi Wiliam," pintanya.
Wiliam bangkit dari kursi kebesarannya dan menatap tajam Riko. "Tidak ada yang bisa lepas dari genggaman tanganku ini, aku akan memastikan bahwa orang yang pernah menghancurkan dan juga tega menyakiti orang-orang tercintaku itu, harus benar-benar hancur sehancur-hancurnya," ucapnya tidak main-main.
Riko hanya bisa menghela nafas, ternyata rekannya itu tidak pernah berubah dalam hal-hal yang berbau tega. "Baiklah, aku akan mengurus semua surat-surat itu secepatnya."
"Hem," balas Wiliam singkat.
Riko pun bergegas kembali ke ruang kerja pribadinya, untuk membantu melaksanakan apa yang pernah di rencanakan oleh Wiliam sebelumnya.
Setelah itu Wiliam kembali menatap foto kedua orang tuanya di dalam bingkai dan terus menguatkan tekad untuk membalaskan semua perbuatan buruk Wijaksana kepada mendiang sang ayah dan juga ibunya yang telah lama tiada.
"Aku telah mengetahui semua peristiwa itu, dialah dalang dibalik semuanya. Dia orang yang tega menghancurkan keluarga kita hanya demi ambisi semata dan terakhir kali, orang yang sama juga pernah menyakiti Jelitaku. Maka dari itu Papa, aku tidak akan pernah mundur lagi untuk menghancurkan adik tiri jahatmu itu dan itulah sumpahku kepadamu," ujar Wiliam berikrar.
Pria pemberani itu menarik candunya, lalu berhenti ketika mengingat sang istri dan juga calon anaknya.
"Cih! Hampir saja aku melanggar janjiku. Aku harus membuang benda ini sesegera mungkin," gumam Wiliam, lalu membuang seluruh candu sisa miliknya itu ke dalam tempat sampah.
Dia menarik kursi dan melanjutkan kembali pekerjaan bisnisnya sambil menunggu waktu pulang tiba, untuk berjumpa dengan sang istri dan calon buah hati tercinta di rumah.
...----------------...
Mansion Wiliam.
Hari ini Jelita memutuskan untuk memegang salah satu pekerjaan rumah, karena kata orang tua dulu. Ibu hamil harus rajin bersih-bersih jika mau persalinannya lancar.
Begitulah pikiran Jelita sekarang, karena wanita itu ingin melahirkan secara normal. Dia pun dengan senang hati membereskan pekerjaan rumah walau banyak pelayan yang sudah melarang melakukannya.
Hal itu tertangkap mata oleh Wiliam yang baru saja tiba dirumah dan pria berwajah tampan ini bergegas menghampiri Jelita lalu merampas sapu dari tangannya.
"Apa yang kau lakukan sayang? Kenapa memegang sapu seperti ini?" Wiliam segera menarik Jelita agar menjauh dari pekerjaan rumah lalu mengajaknya duduk.
"Wiliam, aku hanya ingin menyapu rumah saja. Kenapa tidak boleh? Kata orang dan juga dokter, ibu hamil harus banyak bergerak. Apalagi kalau usia kandungannya sudah besar seperti ini dan itu baik karena bisa mempermudah saat aku lahiran nanti," jawab Jelita.
"Tidak boleh, kau tidak boleh memegang pekerjaan rumah. Apapun alasanmu titik!" tegas Wiliam.
Jelita mencebik. "Kenapa kau tega sekali padaku, aku hanya ingin menyapu dan tidak lebih daripada itu."
"Jelita, aku hanya tidak ingin kau kelelahan. Dan aku tidak ingin terjadi hal buruk kepada calon anakku ini. Pekerjaan rumah walau ringan tapi bisa saja menjadi bahaya, kau bisa saja jatuh terpeleset saat di dapur. Atau perutmu itu bisa terbentur meja atau benda lainnya," balas Wiliam.
Jelita menghela nafas, merasa bosan sekali tidak melakukan apapun di dalam rumah.
"Kau memang benar, tapi aku bukanlah anak kecil. Aku bisa menjaga diriku sendiri," keluh Jelita.
__ADS_1
Wiliam menarik dagu Jelita agar mau menatapnya. "Hey Baby, come on. Jangan lesu seperti itu," ucapnya merayu.
"Sudahlah, aku mau kembali ke kamar saja." Jelita berdiri dari duduknya dan meninggalkan Wiliam seorang diri.
"Sayang jangan marah, aku menyayangimu. Mana mungkin aku tega melihatmu kecapean," balas Wiliam lalu mengejar istrinya yang ingin menaiki tangga.
Jelita mencebik. "Huh alasan! Dia bilang tidak ingin aku kecapean, tapi setiap malam selalu saja minta nambah," gerutunya dalam hati.
"Jangan mengerutu seperti itu, sini aku tuntun kau naik ke atas." Wiliam mengulurkan tangannya dan menuntun Jelita.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri." Jelita menepis tangan Wiliam.
"Aish! Kau benar-benar marah sayang, hati-hati di bawahmu ada air."
Wiliam menahan Jelita agar berhenti melangkah, lalu bersamaan dengan hal itu Jelita mulai merasakan ada yang aneh pada perutnya.
"Auw ..." lirih Jelita sambil memegangi perutnya.
"Kau kenapa sayang?" tanya Wiliam cemas.
Jelita meremas tangan Wiliam saat rasa mulas mulai terasa disekujur perutnya.
"Ah Wiliam, perutku mulas sekali." Jelita mendesis kesakitan.
"S-sayang ... A-apa sudah waktunya melahirkan?" tanya Wiliam seperti orang bodoh.
Jelita mengangguk dan hanya bisa menahan sakit akibat sebuah dorongan kuat dibawah sana.
"Ah Wiliam, perutku sakit sekali." Jelita mulai nampak pias, saat merasakan kontraksi pada perutnya itu semakin lama semakin terasa menyakitkan.
"Sabar sayang, aku akan membawamu ke rumah sakit sekarang." Wiliam segera menggotong istrinya menuju mobil.
"Jelita!" pekik Ibu Maria ketika melihat putrinya digotong oleh Wiliam. Dia semakin cemas ketika melihat banyak air ketuban berceceran dimana-mana.
"Nina, putriku akan segera melahirkan. Aku ingin ikut kesana menemaninya!" pinta Ibu Maria.
Bi Nina mengangguk, lalu meminta salah satu supir rumah itu agar membawa mereka untuk menyusul Wiliam dan Jelita ke rumah sakit.
...----------------...
Setibanya di rumah sakit Wiliam segera membawa Jelita ke ruang bersalin. Dokter dan juga beberapa bidan rumah sakit itu pun bahu membahu membantu Jelita yang ingin melahirkan.
Selagi dokter dan bidan memeriksa kondisi jalan lahir dan juga kondisi sang ibu hamil, Wiliam senantiasa setia duduk disamping Jelita sambil terus berusaha menenangkan istrinya yang terus saja menangis dan mengeluh kesakitan.
"Wiliam, sakit sekali." Jelita terus menggenggam erat tangan Wiliam.
"Sabar sayang kau pasti bisa melewati semua ini, pukul saja aku kalau kau merasa sakit." Wiliam menciumi tangan Jelita tiada henti.
Jelita mengangguk dan menguatkan diri, dia hanya berharap agar persalinannya berjalan dengan lancar. Terlebih semoga anaknya bisa terlahir dengan selamat.
Wiliam menghapus air mata Jelita berkali-kali dan seketika itu pula, pria menganut aliran garis keras itu mendadak rapuh, ketika melihat perjuangan istrinya yang ingin melahirkan seorang bayi.
Sehingga tanpa terasa Wiliam pun turut meneteskan air mata, saat dirinya harus ikut melihat cintanya berjuang melawan rasa sakit tanpa banyak membantu.
Dia hanya bisa menemani sang istri dan memberikan semangat serta kekuatan disetiap nafas hidupnya. Sesekali memberi kecupan hangat serta mengusap lembut kening Jelita.
"Oh Tuhan lancarkanlah persalinan istriku ini," doa Wiliam penuh harap.
Wiliam juga tidak bisa menyembunyikan rasa takut dan cemasnya akan resiko dari melahirkan seorang anak, namun dia juga harus tetap menguatkan hati istrinya sendiri dikala genting seperti ini.
"Kau wanitaku yang kuat, aku percaya padamu sayang. Kau pasti bisa melewati ini semua, aku akan selalu disini menemanimu hingga proses ini selesai," ucap Wiliam menyemangati Jelita.
Jelita menangis dan terus mengangguk sambil menatap wajah Wiliam, ketakutan dan rasa sakitnya sedikit berkurang ketika suaminya itu dengan setia menemaninya saat melahirkan.
...***...
Sementara itu Bi Nina dan Ibu Maria menunggu di depan ruang bersaling sambil terus berdoa demi kelancaran persalinan sang calon ibu.
"Nina aku khawatir sekali dengan keadaan putriku di dalam sana," harap-harap cemas Ibu Maria.
"Tenangkan diri anda Nyonya Maria, saya yakin nyonya Jelita pasti bisa melewati persalinan ini. Di dalam juga sudah ada tuan Wiliam yang selalu setia menemani."
__ADS_1
Ibu Maria mengangguk dan mereka saling menguatkan, sesekali berdoa kepada sang pencipta agar segalanya dipermudahkan.
...***...
Beberapa jam kemudian.
Sudah hampir delapan jam Jelita merasakan mulas dan juga kontraksi yang menyakitkan di bagian perutnya.
Ingin rasanya mengedan dan mendorong sekuat tenaga disaat rasa mulas itu mulai bergejolak, namun Jelita terus menahan rasa menyiksa tersebut. Karena pembukaan yang masih belum sempurna.
Alhasil dia hanya bisa menikmati rasa sakit tersebut, sesekali menitikkan air mata dan mengepal erat tangannya pada jemari tangan Wiliam.
Wanita itu sekejap menyadari, bagaimana beratnya perjuangan sang ibu saat melahirkan dirinya terdahulu. Sehingga ia hanya bisa mengucapkan kata maaf dan berterima kasih disetiap rasa sakitnya.
"Jika ibu bisa, aku juga harus bisa. Jika orang lain bisa, aku juga pasti bisa!" semangat Jelita tidak pernah pudar.
Dia mengatur nafasnya agar teratur dan mengikuti semua arahan dari dokter dan juga para bidan di dalam ruangan itu demi kelancaran proses persalinan sang calon bayi yang sebentar lagi akan keluar.
"Sudah pembukaan sepuluh," gerak cepat sang dokter lalu duduk tepat di depan Jelita yang telah siap dengan posisinya.
"Jangan mengejan jika tidak diminta ya Nyonya," saran dari dokter agar sang pasien tidak mengalami robekan serius pada intinya.
Kali ini Jelita mulai cemas, namun Wiliam segera meredam rasa takut tersebut. "Jangan takut aku selalu bersamamu," ucapnya seraya memeluk kepala Jelita lalu mengenggam erat kembali.
"Wil ..." lirih Jelita mulai menangis.
"Tidak apa, konsentrasilah." Wiliam tidak berani menatap kebawah sana, karena darah telah mengalir dimana-mana.
Jika pria itu biasanya berani melawan musuh hingga bercucuran darah, namun entah mengapa menatap jalan lahir istrinya dia begitu merinding ketakutan.
"Jangan berteriak ya Nyonya jika rasa mulas dan sakitnya datang, anda tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan perlahan. Begitu terus ya Nyonya jangan lupa, jangan diangkat pinggulnya dan kalau saya bilang dorong. Maka doronglah sekuat tenaga."
Jelita mengangguk mengerti dan hanya bisa menggigit kedua bibirnya, rasa mulas, sakit dan juga takut berkecamuk jadi satu.
Sesekali dia menggeleng dan menangis, benar-benar rasa sakit dan perjuangan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.
"Ayo terus Nyonya dorong, kepala bayi sudah mulai kelihatan!" seru sang dokter dan juga bidan terus menyemangati.
Jelita menarik nafas sejenak lalu mengejan sekuatnya, membuat Wiliam seperti terhipnotis. Pria itu malah ikut mengejan, ingin sekali menggantikan rasa sakit dan juga posisi istrinya itu.
"Ayo sayang, kau pasti bisa!" Wiliam tidak kalah menyemangati sang istri.
Tak berselang lama kemudian, perjuangan berat Jelita akhirnya membuahkan hasil. Ketika suara bayi kecil mulai terdengar dan masuk ke dalam indera pendengarannya.
"Anakku!" seru Jelita, namun terdengar lemah dan serak.
Wiliam mengangguk dan menatap wajah Jelita yang kelelahan. "Benar, anak kita sudah lahir." lalu menciumi wajah Jelita dan menghapus air mata dan juga seluruh peluh diwajah yang bercucuran.
"Selamat Nyonya, Tuan. Anak anda telah lahir selamat, normal dan sehat tanpa kurang satu bagian pun," seru sang dokter lalu menggendong dan menaruhnya di atas dada Jelita sejenak sebelum akhirnya di bawa oleh bidan untuk dimandikan.
Wiliam begitu senang, dia tidak dapat berhenti meluapkan kebahagiaannya itu, saat melihat tubuh mungil seperti gumpalan daging merah diatas raga istrinya.
Dia terus tersenyum sumringah saat berkesempatan mengendong sejenak putra mungilnya di tangan.
Sesekali mencium sang bayi dan juga sang istri secara bergantian. "Terima kasih sayang, kau telah memberikanku sesuatu yang berharga."
Jelita mengangguk dan meneteskan air mata bahagia ketika melihat kedua jagoannya bersama.
"Oh anak ularku yang tampan! Ini Daddymu sayang," celoteh Wiliam sambil mencium gemas putranya.
Jelita terkekeh geli dan menghela nafas panjang, akhirnya dia bisa bernafas lega dan beristirahat sejenak untuk mengisi tenaganya yang habis terkuras.
Sembari dokter memberi perawatan kepada luka di bagian intinya itu, Jelita kembali menteskan air matanya.
Tidak disangka jika perjuangan sang ibu melahirkan begitu sangat luar biasa, rasa sakit yang ia terima langsung terganti dengan kebahagian saat melihat sang buah hati telah lahir ke dunia ini.
.
.
Bersambung.
__ADS_1