
Hotel berbintang.
Suasana ramai terlihat di gedung hotel berbintang lima di daerah pergunungan milik perusahaan Wijaya Group, yang baru saja selesai pengerjaannya dan sempat menjadi perdebatan dimana-mana, karena berkaitan dengan kehancuran Wijaksana pada masa sebelumnya.
Orang-orang dari berbagai tempat telah datang ke hotel itu dan langsung terkesima saat pertama kali mereka melihat, rancangan luar biasa serta fasilitas nan mewah yang disuguhkan di dalam gedung kokoh tersebut.
Dekorasi indah dan juga bunga-bunga bertembaran dimana-mana, menghiasi setiap pelosok gedung. Seperti sedang masuk ke taman surgawi saja.
Namun mereka datang bukanlah untuk menginap atau mencuci mata, melainkan untuk menyaksikan sebuah pemberkatan suci serta menghadiri pesta pernikahan putera dari anak pengusaha nomor satu di negeri ini dan dia adalah Michael Chandra Putra, anak pertama dari tuan Nael dan juga nyonya Caca.
Michael akan bersanding dengan putri pengusaha yang tidak kalah pamor di kalangan pedunia bisnis dan dia adalah Clara, putri dari tuan Perkasa dan nyonya Stefani.
Dan bukan hanya itu saja, dikatakan bahwa kedua keluarga tersebut telah memesan satu gedung hotel berkapasitas 1000 pengunjung hanya untuk kenyamanan para tamu selama satu hari full saat mengikuti acara pemberkatan dan juga pesta pernikahan.
Yang mana kedua acara tersebut akan digelar di hotel yang sama dan dalam waktu satu hari yang bersamaan pula.
Setiap tamu yang telah diundang oleh dua keluarga tersebut, nantinya akan mendapat satu kamar pribadi untuk beristirahat, serta menikmati berbagai layanan maupun fasilitas hotel mewah itu secara gratis.
...***...
Sementara itu, di dalam sebuah kamar hotel. Bukan hanya Wiliam yang dilanda kegugupan disaat hari pernikahannya waktu lalu, namun Michael pun ternyata merasakan hal yang sama.
Dia merasa gugup sekali, ketika hari penting dalam hidupnya akan berlangsung sebentar lagi.
Pria tampan itu meremas kepalan tangannya dengan posisi berdiri dan berkaca di depan cermin, sambil menunggu waktu pentingnya bersama dengan Clara tiba.
"Mike, sudah waktunya." Jason mengajak Michael keluar kamar, untuk menghadap altar suci pernikahan yang letaknya berada di lantai gedung hotel paling atas.
"I-iya," jawab Michael gugup.
Jason menepuk pundak Michael. "Tenang Mike, kau harus mengendalikan kegugupanmu itu."
Michael menghela nafas. "Kau benar," balasnya lalu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nafasnya perlahan ke udara.
"Baiklah aku sudah siap!" seru Michael bersemangat.
"Bagus! Ayo sekarang kita pergi," ajak Jason.
Kedua pria tampan itu melangkah keluar dari kamar hotel, berjalan menuju altar pernikahan yang sudah di siapkan dan berada di dalam hotel itu juga.
Sepanjang perjalanan, Michael tidak dapat menyembunyikan rasa gugupnya. Namun Jason selalu berusaha menenangkan, agar Michael dapat melalui hari besar dalam hidupnya.
...***...
Altar pernikahan.
Suasana sunyi dan penuh khidmat begitu terasa, disaat acara pemberkatan pernikahan Michael dan Clara yang tengah berlangsung.
Ketegangan juga terasa dikala kedua calon mempelai mulai bergantian mengucap sumpah janji setia terhadap pasangan dalam ikatan suci pernikahan.
Terlihat juga Wiliam bersama dengan Jelita yang turut menyaksikan upacara sakral di ruangan tersebut dan tidak lupa mereka ikut mendoakan kebahagian untuk Michael dan juga Clara.
__ADS_1
Rasa haru, tegang dan bahagia bercampur menjadi satu, di setiap hati masing-masing tamu undangan, yang turut hadir dalam memberikan restu untuk mereka berdua.
Terlebih saat pendeta menyatakan bahwa, keduanya kini telah sah menjadi sepasang suami istri.
Suara tepuk tangan pun mulai bergemuruh, diiringi isak tangis bahagia dan juga ucapan selamat kepada Michael dan Clara, yang kini telah resmi menikah.
"Selamat atas pernikahanmu Michael," ucap Jelita ketika mereka berdua tidak sengaja bertatap muka di depan pintu toilet.
"Terima kasih Jelita ... Terima kasih juga karena kau telah hadir disini," balas Michael sembari tersenyum dan menatap Jelita yang semakin cantik saja.
"Sama-sama, ku doakan agar kau selalu hidup bahagia bersama dengan istrimu. Jaga dia baik-baik dan jangan menyia-nyiakan cinta Clara kepadamu, kau harus menyayangi dan juga mencintai dia setulus hatimu. Jangan pernah membuat dia bersedih," ceramah Jelita panjang lebar.
Michael tersenyum. "Ya, itu sudah pasti. Jelita, jika aku boleh tahu. Kenapa kau memberi nama putramu seperti namaku?" tanyanya sembari terkekeh.
Jelita menaikkan kedua bahunya. "Entahlah, Wiliam yang memberikannya. Mungkin karena anakku langsung tenang saat diberi nama Michael oleh Wiliam."
Michael membulatkan bibirnya. "Oh, anakmu tahu saja nama orang tampan seperti diriku ini," guraunya.
Jelita cemberut. "Kau memang tampan tapi Michael kecilku lebih tampan lagi," balasnya tidak mau kalah.
Michael tersenyum. "Baiklah aku mengalah saja daripada bertengkar, Michael kecilmu memang lebih tampan daripada aku."
Jelita tersenyum. "Kau bisa saja, lagi pula aku hanya bercanda," balasnya.
"Jelita, aku senang akhirnya kau bisa hidup bahagia bersama dengan Wiliam. Aku harap kau akan terus seperti ini, selalu tersenyum dan tertawa ria bersama dengan keluarga kecilmu itu," ucap Michael.
Jelita mengangguk. "Michael, jika seseorang telah menemukan pasangan hidup yang tepat, maka aku yakin selama hidupnya dia akan selalu merasa bahagia. Michael, Clara adalah pasangan yang tepat untukmu dan aku yakin kalian berdua akan hidup bahagia selamanya."
"Benarkah?" tanya Jelita kagum.
"Benar dan menurutku dia adalah wanita hebat," balas Michael.
"Bagus kalau begitu, aku senang mendengarnya dan aku juga yakin dia akan menjadi kebanggaan keluargamu pada suatu hari nanti," balas Jelita.
"Kau benar," balas Michael.
Sementara itu Jason bertemu dengan Wiliam, mereka juga saling berbincang sambil mencari keberadaan Michael dan Jelita yang sudah terlalu lama pergi.
Beberapa saat kemudian mereka mendapati keduanya saling mengobrol di depan pintu toilet dan segera menghampiri karena sama-sama memiliki urusan penting.
Jason menepuk bahu Michael. "Mike, kau disini."
Michael tersentak dan menoleh. "Oh iya Jason, kau disini bersama dengan dia," ucapnya bertanya.
"Iya," balas Jason.
"Mike, selamat atas pernikahanmu." Wiliam menyalami tangan Michael.
Michael menyambut uluran tangan Wiliam. "Terima kasih," balasnya.
"Sama-sama," balas Wiliam lalu menatap Jelita. "Sayang, ayo kita pergi. Aku masih ada urusan denganmu," ajaknya.
__ADS_1
"Urusan apa, apa anak kita bangun?" tanya Jelita.
Wiliam menggeleng, lalu berbisik di telinga Jelita. "Aku ingin itu," bisiknya merayu.
Jelitapun terbelalak dan memukul Wiliam sekuat tenaga. "Kau ini selalu saja tidak ada kenyang-kenyangnya," ucapnya pelan tapi penuh dengan penekanan.
"Sudahlah cepat, mumpung kita sedang menikmati hotel gratis milik perusahaan kita sendiri." Wiliam segera menarik tangan Jelita, tidak lupa berpamitan dengan Jason dan juga Michael sebelum pergi.
Pria itu bergegas membawa istrinya kemana lagi kalau bukan ke dalam kamar.
Michael tersenyum sambil menatap keduanya dari kejauhan lalu Jason merangkul Michael dan mengajaknya pergi. "Ayo kita pergi, kau harus segera ganti baju."
"Iya," balas Michael mengangguk, lalu pergi bersama Jason dari tempat itu.
...***...
Sore harinya.
Pemberkatan pernikahan Michael dengan Clara telah usai siang hari tadi dan para tamu kini telah kembali ke dalam kamar hotelnya masing-masing untuk beristirahat sekaligus menunggu acara selanjutnya, yaitu pesta pernikahan yang akan di adakan pada malam hari nanti.
Mereka menikmati berbagai macam suguhan, mulai dari makan mewah yang terhidang dimana-mana, sampai pergelaran pertunjukkan dari berbagai macam pihak yang sengaja di siapkan untuk memanjakan para tamu undangan.
Selain itu mereka juga menikmati indahnya panorama alam sekitar pergunungan yang dapat di pandang dari masing-masing kamar hotel mereka berada.
Hal itu pun mendapatkan pujian dari berbagai kalangan yang menyaksikannya, termasuk Jelita. Kedua netranya tidak berkedip saat melihat pemandangan indah di bawah sana.
Hamparan luas bermandikan cahaya lampu penerangan dari permukiman warga, begitu menghipnotis setiap mata yang memandang ke bawah sana.
"Sayang, aku tidak menyangka jika hotel ini punga view yang begitu luar biasa," puji Jelita.
"Kau benar dan sekarang semua orang sedang menikmati keindahan ini," balas Wiliam.
Jelita tersenyum. "Kau sungguh beruntung sekali, bisa mendapat kesempatan pertama dari tuan besar untuk menggelar acara penting putranya. Bahkan dia sampai menyewa satu hotel ini untuk semua tamu undangannya tanpa ragu," ucapnya sembari bergidik ngeri.
"Kau benar, aku begitu beruntung. Berkat pesta pernikahan Michael yang memakai jasa hotel kita, aku yakin kedepannya hotel ini bisa berkembang lebih maju lagi dan lebih banyak menarik peminat," balas Wiliam.
"Sayang, ini sudah jam berapa?" tanya Jelita.
"Jam 5 sore," balas Wiliam.
"Acara nya mulai jam 7 malam, kita harus bersiap dari sekarang." ucap Jelita.
"Kau benar, kita harus bersiap," balas Wiliam.
Mereka berdua bergegas bersiap untuk menghadiri acara pernikahan Michael di hotel itu juga, tepatnya di ballroom utama hotel. Tempat berlangsungnya sebuah acara penting bagi Michael dan juga Clara.
.
.
Bersambung.
__ADS_1