Secantik Kupu-kupu

Secantik Kupu-kupu
Bab 56. Dilema.


__ADS_3

Keesokan harinya.


Di pagi hari yang indah, ketika waktu masih menunjukkan pukul 06.30 pagi, tepatnya di sebuah ruang makan. Nyonya Caca dan Tuan Nael sedang menikmati sarapan pagi bersama.


Mereka lantas dikejutkan dengan kehadiran putranya, yang datang secara tiba-tiba di meja makan. Pasangan suami istri itu langsung menggosok kedua mata mereka, merasa tidak percaya dengan apa yang mereka lihat sendiri.


"Sayang ... Apa Mamy sedang bermimpi?" tanya Nyonya Caca berbisik di telinga suaminya.


Tuan Nael menggeleng. "Tidak sayang, ini nyata. Matahari terbit dari sebelah timur," balasnya sambil berbisik dan mereka berdua terkekeh.


Sementar itu Michael hanya tersenyum melihat kemesraan kedua orang tuanya. Dia lalu menyapa semua orang termasuk kedua orang tuanya itu dan duduk manis di kursi untuk ikut sarapan pagi bersama mereka.


"Morning Mamy ... Daddy!" Michael tersenyum sambil membalik piring dan mengisinya dengan sarapan pagi.


"Morning too sayang," balas Nyonya dan Tuan Nael bersamaan.


"Mike ... Kamu ingin pergi kemana pagi-pagi begini?" tanya Tuan Nael sambil menyeruput kopi legendaris buatan sang istri.


"Tentu saja pergi kuliah lah Daddy," jawab Michael santai.


Tuan Nael menaikkan satu alis dan meletakkan cangkir kopinya. "Kuliah?" tanya Tuan Nael tidak percaya dan Michael hanya mengangguk. "Hm."


Perilaku Michael yang tidak seperti biasanya membuat pasangan suami istri beda usia 5 tahun itu saling bertatapan.


"Miki, tumben sekali kamu sudah bersiap kuliah sepagi ini," ucap Nyonya Caca sambil terus memandang Michael yang sedang menyantap roti panggang isi selai stoberi.


"Iya Mamy, karena sebelumnya aku sudah berjanji kepada seseorang untuk mengantarnya pergi ke sekolah setiap pagi," balas Michael dengan mulut yang penuh dengan makanan.


Nyonya Caca terdiam dari aktivitasnya, dia seketika menelan ludah. Pikirannya begitu penuh rasa khawatir, merasa gelisah jika dugaannya itu ternyata benar.


"Apa jangan-jangan orang yang dimaksud oleh Miki itu adalah Jelita."


Nyonya Caca pun memberanikan diri, bertanya kepada Michael untuk memastikan sesuatu. "Janji mengantarkan seseorang ke sekolah setiap hari. Siapa orang itu Miki?"


Michael tersenyum malu, terlihat sekali rona semu pada wajahnya, "Iya Mamy ... Mike, sudah berjanji akan mengantar Jelita ke sekolah setiap hari, sebelum Mike pergi ke kampus."


"Tring!"


Sendok pada genggaman Nyonya Caca seketika terlepas begitu saja dan terjatuh hingga ke lantai. Dia terkejut dengan jawaban Michael dan tidak menyangka akan dugaannya yang ternyata benar.


"Jelita ...."


"Iya Mamy ... Tapi ada apa Mom, kenapa wajah Mamy terlihat pucat dan panik seperti itu. Apa Mamy sakit?" tanya Michael sedikit cemas.


Nyonya Caca menggeleng cepat. "Tidak sayang Mamy baik-baik saja."


"Are you sure?" tanya Michael menatap wajah Nyonya Caca lebih dekat untuk meyakinkan.

__ADS_1


"I'm sure." Nyonya Caca tersenyum dan berusaha menutupi kegelisahannya. Dia kemudian meminta kepada Bi Sari untuk mengambilkan sendok baru dan melanjutkan kembali sarapan paginya.


Nyonya Caca kemudian bertanya kembali kepada putranya. "Miki ... Kau yang ingin mengantarnya sendiri atau Jelita yang memintanya?"


"Aku yang berinisiatif mengantarnya, tadinya dia tidak mau. Tapi setelah Mike paksa akhirnya dia mau juga," balas Michael seperti senang.


"Kau memaksanya? Tapi Michael tidak baik jika memaksa seseorang, apalagi itu seorang wanita. Lagipula mengapa kamu harus repot-repot seperti itu. Jelita kan sudah besar, dia bisa naik kendaraan umum dan bisa menjaga diri sendiri," ucap Nyonya Caca dia tidak ingin Michael terlalu jauh menyukai Jelita.


"Ya habis mau bagaimana lagi, aku melihat dia menaiki kendaraan umum dalam kondisi wajahnya yang begitu lugu dan manis," balas Michael.


"Lalu apa hubungannya denganmu jika Jelita seperti itu?" tanya Nyonya Caca kembali.


"Ya Mike hanya takut saja," balas Michael sedikit gugup.


"Takut kenapa?"


"Ya takut saja ... Bagaimana jika dia di goda oleh pria lain di sepanjang jalan, atau mendapat perlakuan tidak sopan dari penumpang lelaki di dalam angkot, masa aku harus diam saja. Lagi pula Mom, Jelita adalah temanku, aku tidak bisa menerima jika ada hal buruk yang menimpah dirinya," balas Michael merasa gemas jika memikirkan hal tersebut.


Nyonya Caca menyadari jika Michael menaruh hati pada Jelita, hal itu membuat hatinya semakin dilema.


"Teman ... Tidak ingin terjadi hal buruk kepadanya, tidak ingin digoda oleh pria lain ... Tidak Miki, itu bukan perasaan terhadap teman ... Itu adalah perasaan diatas pertemanan. Miki ... Kau telah jatuh cinta. Jatuh cinta pada Jelita."


Nyonya Caca merenung, akankah dia bisa terbebas dari dilema ini. Dengan mengambil sebuah pilihan yang terbaik untuk semua tanpa menyakiti salah satunya. Tapi ... Tapi bagaimana caranya, bagaimana dia bisa memilih.


"Mom, aku harus segera berangkat!" seru Michael ketika mendengar suara Jelita, dia lantas meneguk dan menghabiskan makanan dengan cepat lalu bergegas menghampiri Jelita.


***


"Pagi ..." sapa Michael.


"Pagi ..." sahut Jelita dan menatap wajah Michael dengan seksama, kemudian tanpa banyak kata dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


"Kenapa diam?" tanya Michael.


"Ada selai di wajahmu, cepat bersihkan." Jelita menyerahkan selembar tisue kepada Michael.


"Sebelah mana?" tanya Michael.


"Di sudut bibirmu," balas Jelita.


Michael menyeka bibir seksinya. "Bagaimana apa sudah hilang?" tanya Michael.


"Sedikit lagi sebelah kanan," balas Jelita.


"Kananku atau kananmu?" tanya nya lagi.


"Kananmu." Michael menurut dan Jelita memperhatikan Michael.

__ADS_1


"Sudah?" tanya Michael.


Selai yang sedikit lengket, menyusahkan Michael untuk menghapusnya dan itu membuat Jelita semakin gemas.


"Belum, sini ku bantu." Jelita refleks mengambil tisue dari tangan Michael dan membantu pria tampan itu untuk menghapus sisa selai yang tertinggal di bibirnya.


Sontak saja hal tersebut membuat Michael terpaku, dirinya diam terpanah saat berhadapan dengan Jelita dari jarak yang begitu dekat. Dia tersenyum begitu lembut dan hanyut pada lamunan sendiri saat Jelita menyentuh lembut bagian bibirnya.


Michael menatap sayu Jelita, ingin sekali dia menerkam gadis dihadapannya itu. Merampas bibir ranum itu dan menyesapnya hingga kedalam. Mencium dan membenamkan wajah pada ceruk leher jenjang Jelita dan menghirup aroma tubuhnya yang begitu manis hingga ke dalam.


"Michael, mengapa kamu melamun. Oiya kenapa kau terburu-buru seperti itu. Jam kuliahmu kan jam 9 pagi. Ini masih jam 7," ucap Jelita sambil melambaikan tangannya di wajah Michael.


Michael menggeleng samar dan menjawab pertanyaan itu dengan cepat. "Hem ... Kau lupa ya, jika sekarang aku akan mengantarmu ke sekolah," balas Michael.


"Michael, aku bisa pergi sendiri. Aku tidak ingin merepotkan mu," ucap Jelita dia terus berjalan ke depan, namun Michael dengan segera mencekal pergelangan tangan Jelita.


"Michael ...." Jelita berusaha melepaskan pergelangan tangannya.


"Kau ini tega sekali, aku kan sudah bangun pagi. Setidaknya hargailah usahaku," ucap Michael dia menatap Jelita seperti tidak suka.


"Michael jangan seperti ini, cepat lepaskan. Nanti aku bisa terlambat pergi sekolah." Jelita masih berusaha melepaskan tangannya.


Michael tersenyum, suka sekali dengan aksi pemberontakan Jelita. "Biar saja terlambat, sekarang lebih baik kamu pilih. Mau terlambat atau pergi bareng denganku."


Jelita mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali dan merasa gugup dengan tatapan Michael yang terus saja menggodanya.


"Michael tolong jangan tatap aku seperti itu," ucap Jelita sambil memalingkan wajahnya.


"Baik ... Karena kau tidak menjawab, maka ku anggap kau mau pergi bareng denganku," ucap Michael lalu merangkul pinggang Jelita tanpa permisi.


"Michael!" Jelita menepis tangan Michael yang kurang ajar.


"Tidak! Tidak mau," balas Michael tidak perduli.


"Baik! Baiklah, aku setuju di antar olehmu. Tapi tolong jangan terlalu dekat denganku," Jelita menjauhkan dirinya dari Michael.


Michael tersenyum senang, dia mengangkat tinggi satu lengannya yang terkepal, lalu menarik ke dalam dengan cepat.


"Yes!" Kemudian Michael mengekor pada Jelita.


Melihat hal manis di hadapannya itu membuat Nyonya Caca tidak berdaya, dia membekap mulutnya dengan satu tangan dan meremas dadanya begitu kuat.


"Tidak! Aku tidak bisa melihat Miki ku terluka."


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2