
Nyonya Caca mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali, tidak habis pikir dengan pemikiran Jelita.
"Tidak perlu Jelita, kau tidak perlu melakukan itu semua. Aku melakukannya dengan ikhlas, karena memang begitulah kewajibanku sebagai seorang aktivis kemanusian dan sosial."
Jelita menggeleng, "Tidak Nyonya Besar, Jelita percaya kalau Nyonya ikhlas membantu. Tapi Jelita juga ikhlas melayani Nyonya, karena Jelita memang suka bekerja. Jika Nyonya tidak mengijinkan Jelita bekerja melayani Nyonya, maka Jelita juga tidak akan menerima tawaran anak asuh ini." Jelita lalu mengulurkan kembali formulirnya.
Nyonya Caca mengangga, merasa susah juga membujuk gadis satu ini. Dia lalu melayangkan pandangan ke teman baiknya, namun Nyonya Lista segera memalingkah wajah dan hanya bersiul-siul saja seperti orang masa bodo.
Temannya itu merasa bingung dan kehabisan akal jika menghadapi dua orang keras kepala di hadapannya. Yang selalu tidak mau mengalah untuk berbuat baik dan tidak mau selalu berhutang budi.
Nyonya Caca menghela nafas lalu menatap Jelita dan tersenyum. "Baiklah Jelita, kau boleh bekerja melayaniku. Tapi kau harus berjanji akan belajar dengan giat dan bisa membagi waktumu dengan baik. Kau juga harus menuruti semua perintahku dan juga melayaniku dengan sepenuh hati."
Jelita tersenyum dan mengangguk. "Baik Nyonya, Jelita berjanji," balas Jelita merasa lega.
Nyonya Caca mengusak puncak kepala Jelita dan berkata, "Mulai sekarang jangan panggil aku Nyonya Besar, tapi panggillah aku Ibu Asuh.
"Baik Ibu asuh!" seru Jelita semangat sambil mengangguk mantap.
Setelah Jelita selesai mengambil keputusan, Nyonya Lista mulai angkat bicara dan membahas mengenai pekerjaan Jelita di kampus.
"Jelita, hari ini adalah hari terakhir kamu bekerja di kampus ini, karena mulai besok kau harus bersiap dan mengurus semua keperluanmu untuk bersekolah kembali. Belajarlah yang giat, gapai lah cita-citamu, jangan takut dan selalu dijalan yang benar."
"Ini adalah gajimu yang terakhir, sudah di tambah dengan bonus kerajinan dan juga ada uang lebih untuk mu. Gunakan sebaik-baiknya, setidaknya ditabung uangnya untuk masa depanmu. Jangan khawatir untuk biaya kehidupanmu sehari-hari karena mulai besok, biaya hidup mu akan di tanggung oeh ibu asuhmu yang cantik dan baik hati itu." Nyonya Lista melirik Nyonya Caca yang tersipu malu.
"Kau pasti ingin meminta traktiran bukan? bilang saja tidak usah basa basi merayu ku cantik dan baik hati," balas Nyonya Caca to the point membuat Nyonya Lista tak berkutik.
"Tau aja loe, emang kelihatan jelas ya dimuka gue," ucap Nyonya Lista sambil menepuk jidatnya dan Nyonya Caca hanya mengangguk mantap. "Hem."
Kedua Nyonya itu tertawa dan Jelita hanya tersenyum memandang mereka berdua. Dia pun berharap agar bisa memiliki teman sekaligus sahabat baik seperti itu setelah ini.
"Terima kasih!"
***
__ADS_1
Di Kelas Michael.
Suasana ricuh terjadi di dalam kelas Michael, karena kedatangan Nyonya Besar ke kampus telah bocor. Nyonya Caca juga berencana akan menengok ke kelas Michael, hal tersebut sontak saja mengundang banyak kepanikan.
Mereka sibuk berbenah dan mempercantik diri agar bisa memberikan kesan paling terbaik dalam sejarah mereka.
"Calon mertua mau datang!" seru Sandra bersemangat, membuat Floren pun menjadi panas.
"Beraninya menganggap dia adalah calon mertuamu, ingat ya kalian. Nyonya Besar itu adalah calon mertua ku, karena Mike dan aku sudah di jodohkan oleh Nyonya Caca sendiri. Jadi kalian jangan terlalu bermimpi!" balas Floren tak kalah sengit.
Michael memutar bola matanya jengah merasa bosan dengan perkelahian yang memperebutkan dirinya. Dia lalu mengalihkan pikiran, berpikir mengapa Mamy sampai datang ke kampus tanpa sepengetahuan dirinya.
"Untuk apa Mamy kesini, apa untuk bertemu dengan Jelita dan menawarinya program anak asuh? Apa Mamy sudah bertemu dengan Jelita, dan bagaimana keputusannya itu."
Lamunan Michael buyar setelah Floren menarik tangannya itu.
"Mike, jelaskan kepada mereka semua yang tidak tahu diri itu untuk tidak merebutmu dariku. Jelaskan juga kepada mereka bahwa kita ini sudah di jodohkan dan sebentar lagi akan menikah. Bilang juga kalau kau itu adalah pacarku," ucap Floren menatap sinis semua orang.
"Kita sudah berjanji bukan Mike, kau harus menepati janjimu itu. Lagipula Mami mu sudah mengijinkan kita untuk pacaran, dia juga sudah berjanji akan menikahkan kita," balas Floren lalu memeluk tangan dan menyandarkan kepalanya di bahu Michael.
Michael menautkan alisnya hingga menyatu, lalu menghentak tangan nya itu dengan kuat. "Jangan bergelantungan di tanganku. Kita memang sudah dijodohkan tapi kau juga harus ingat apa yang dikatakan oleh Mamy ku waktu itu."
"Kau tidak memberikan ku kesempatan untuk memulai hubungan ini Mike, lalu bagaimana kau bisa tahu kalau aku ini mencintaimu dengan tulus," ucap Floren dan melirik Nyonya Caca yang baru tiba di depan pintu.
Nyonya Caca hanya tersenyum, menyapa mereka semua dan setelah menyapa dia kemudian menghampiri Michael putranya. "Benar ucapan Floren tadi Michael anakku, berikan dia kesempatan untuk mulai menjalani hubungan ini denganmu."
"Tapi Mom ...."
"Sudah turuti saja," titah sang ratunya Michael itu lalu berkata kepada Floren. "Kau juga boleh main ke rumah ku jika ada waktu Floren," ucap Nyonya Caca membuat Floren seketika besar kepala.
"Maaf Nyonya, tapi apa benar jika Michael dan Floren itu sudah di jodohkan olehmu sendiri?" tanya Sandra dan yang lainnya karena penasaran.
"Benar, tapi aku ingin melihat hubungan keduanya terlebih dahulu. Hubungan itu bisa berjalan baik atau tidak," jawab Nyonya Caca membuat semua jantung semua gadis di dalam kelas itu melemas seperti jeli.
__ADS_1
***
Rumah Jelita.
Jelita menatap Formulir pendaftaran yang telah dia isi, lalu menaruhnya dengan rapi untuk diserahkan besok kepada Nyonya Caca.
Dia menatap Ibu yang sudah setuju dengan keputusannya itu dan menciumi tangan ibu. "Ibu, Jelita berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini."
Ibu mengedipkan matanya, merasa yakin akan keberhasilan anaknya dan mendukung disetiap langkah putrinya.
"Terima kasih," ucap Jelita sambil memeluk Ibu.
Jelita mempersiapkan diri setelah mengurus ibu, kemudian dirinya dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang menyapa dirinya dan masuk ke dalam rumah.
"N-nyonya datang, ada keperluan apa?" tanya Jelita lalu segera merapihkan tempat untuk duduk.
"Maaf aku tidak bilang padamu terlebih dahulu mau mampir kesini. Aku hanya ingin memfoto rumahmu untuk dikirim ke Yayasan sebagai arsip. Apa kau mengijinkannya?" tanya Nyonya Caca.
"B-boleh Nyonya, eh maksudku Ibu asuh," balas Jelita.
"Terima kasih."
Nyonya Caca mengambil beberapa gambar foto rumah Jelita, dia menatap sekeliling rumah itu begitu pilu. Bagaimana bisa ada orang yang bisa tinggal di rumah tidak layak tersebut.
Nyonya Caca menatap Jelita dan Ibunya, ada terselip kembali keinginan untuk membantu keluarga itu.
"Jelita ... Kemasi semua barang-barangmu karena aku akan merenovasi rumah ini. Jadi untuk sementara kau dan Ibumu harus tinggal bersamaku. Dan aku akan meminta seseorang untuk menjemput kalian besok pagi, jadi berkemaslah sekarang juga."
.
.
Bersambung.
__ADS_1