
Ibu Maria merasa gelisah dan merasa khawatir dengan putri satu-satunya yang tidak kunjung datang ke dalam kamar.
"Kemana putriku, mengapa jam segini dia belum pulang?" tanya Ibu Maria dalam hati.
Naluri keibuannya membuat beliau berusaha untuk menggerakkan seluruh anggota badannya walau dengan susah payah, agar bisa mencari tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Tidak biasanya dia tidak menemuiku, apa terjadi sesuatu kepada Jelita?" gumam Ibu Maria dalam hati. Dia pun semakin terlihat cemas.
Ibu Maria berusaha menurunkan kedua kakinya dari atas ranjang. Walau masih sedikit kaku, tapi akibat seringnya menjalani terapi dan juga pengobatan yang teratur, membuat dia bisa bergerak perlahan-lahan.
Dengan perlahan Bu Maria memantapkan pijakkan kedua kakinya di atas lantai, lalu tangannya yang sedikit bengkok berusaha memegang apapun disekitar untuk membantunya berdiri.
Kemudian dengan berhati-hati Bu Maria berusaha untuk bangun dari ranjang dan itu berhasil. Ada rasa suka cita dalam hatinya dan dia bersyukur ketika usahanya untuk berdiri membuahkan hasil.
"Tuhan terima kasih," batinnya berucap penuh haru.
Bu Maria terdiam sejenak untuk menghela nafas dan meyakinkan diri, jika dirinya mampu untuk berjalan. Beliau mencoba untuk melangkahkan kaki menuju kursi roda di dekat pintu depan kamarnya itu.
Satu ... Dua ... Tiga langkah telah berhasil dilalui, dengan berpegangan pada benda atau dinding di sekitarnya. Bu Maria berhenti sejenak untuk beristirahat, kakinya yang masih kaku menyulitkan dirinya untuk menyeimbangkan diri.
"Sedikit lagi," ucapnya dalam hati dan penuh keyakinan jika dirinya mampu meraih kursi roda.
"Aku harus bisa!" semangat Bu Maria, walau kesulitan bergerak, dia masih terus berusaha melangkah.
Langkah nya yang penuh dengan perjuangan dan semangatnya yang tidak pernah pudar dalam bergerak, membuat wanita paruh baya ini akhirnya berhasil meraih kursi roda.
Dengan perlahan dia membalik tubuhnya untuk duduk di atas kursi dan menghela nafas sambil memejamkan kedua matanya. Bu Maria terengah-engah, tapi itu tidak sebanding dengan rasa syukurnya.
Sulit sekali untuk dipercaya, tapi tidak ada yang tidak mungkin bagi orang yang terus berusaha.
Bu Maria tersenyum. "Akhirnya aku berhasil, jika Jelita melihat ini. Dia pasti akan senang sekali," ucapnya dalam hati.
Beliau melepas kunci pada kursi roda, lalu berusaha menggerakkan kursi tersebut menggunakan kedua tangannya yang kaku. Untuk mencari putri tercinta di sekitaran Mansion Chandra Putra.
...----------------...
Kantor Polisi.
Setibanya di kantor polisi, Michael segera menghadap ke tempat pengaduan orang hilang. DIa menjelaskan kepada petugas disana tentang maksud dan tujuannya datang ke tempat tersebut.
"Selamat sore Nak, silahkan duduk. Ada yang bisa dibantu?" tanya Pak polisi petugas.
__ADS_1
"Saya ingin melaporkan kasus orang hilang," balas Michael lalu duduk.
"Baik, namanya siapa?" tanya petugas itu.
"Saya atau yang hilang?" tanya Michael bingung saat mendengar pertanyaan yang rancu.
"Yang hilang," balas Pak petugas.
"Oh Jelita," balas Michael. Dia sedikit gugup saat memberi data pribadi Jelita dan juga ciri-cirinya.
"Kapan hilangnya?" tanya Pak petugas.
"Kira-kira 3 sampai 4 jam yang lalu, saat dia pulang sekolah," balas Michael apa adanya.
Sontak saja pak petugas itu menghentikan ketikan tangannya pada papan keyboard dan menatap Michael dengan kacamata yang sedikit dia turunkan. "Apa nggak salah," gumamnya.
"Hei Pria tampan, pulang lah saja dulu, mungkin pacarmu itu sedang jalan-jalan ke emol bersama teman-temannya," ucap Pak petugas itu, dia merasa kalau pria tampan dihadapannya itu tidak mengetahui jika melaporkan kasus orang hilang harus lebih dari 1x 24 jam.
"P-pacar ..." Michael mendengus kesal. "Dia itu hilang Pak, karena nomornya tidak bisa dihubungi dan dia tidak pernah pergi kemana-kemana tanpa meminta ijin kepada orang rumah terlebih dahulu. Dan saya yakin dia pasti dibawa oleh pria berandal yang menculiknya kemarin pagi," balas Michael meyakinkan pria paruh baya dihadapannya.
"Apa ada bukti?" tanya Pak Petugas itu to the point.
Michael terdiam dan menggeleng samar. "Tidak ada," ucapnya lesu.
"Tidak, tapi aku tahu ciri-cirinya. Dia bertubuh tinggi besar, rambut gondrong dan ada tato dibadannya," balas Michael menjelaskan.
"Nak, ciri-ciri seperti yang kamu sebutkan itu sangatlah umum. Lebih baik cari info sebanyak mungkin dan besok baru lapor kesini lagi," balas Pak petugas.
"Tapi Pak ___" Michael berhenti berkata, karena pria didepannya itu menyuruhnya untuk diam.
Pak petugas itu kemudian menghela nafas dan meletakkan pulpennya diatas meja lalu memberi tahu Michael akan sesuatu.
"Nak, jika ingin melaporkan kasus orang hilang seperti ini, minimal 1 x 24 jam baru bisa dilakukan pencarian. Apa kamu sudah menelepon semua teman-temannya?" tanya Pak petugas.
Michael menggeleng. "Belum," balasnya, karena memang Michael tidak tahu teman-teman Jelita.
"Hem ... Apa sudah cari tempat-tempat yang sering dia kunjungi? ke rumah saudaranya mungkin," tanya Pak petugas itu lagi.
Lagi-lagi Michael menggeleng, dia menunduk. "Belum, lagi pula dia tidak pernah kemana-mana dan aku tidak tahu tentang hal itu."
Pak petugas menghela nafasnya panjang sekali. "Nak, lebih baik kamu pulang terlebih dahulu, bisa jadi dia sedang pergi ke suatu tempat atau sedang bersenang-senang. Jika besok dia msih belum ditemukan juga atau tidak ada kabar tentang keberadaannya, kamu silahkan datang lagi kesini untuk membuat pengaduan," tutur Pak petugas itu menjelaskan.
__ADS_1
"Tapi Pak mengapa kau tidak mengerti juga, gadis ini sedang diculik dan saya tidak tahu kabar dia seperti apa sekarang. Jika menunggu sampai besok, maka bisa jadi itu akan terlambat. Bisa saja pria itu melakukan sesuatu terhadap dia," Michael meninggikan suaranya karena merasa kesal mendengar penjelasan dari petugas tersebut.
Namun Pak petugas itu sepertinya tidak ingin melanjutkan aduan Michael, karena menurut Pak petugas itu, aduan Michael mungkin adalah masalah antar sepasang kekasih remaja yang sedang bertengkar. "Nanti juga balikkan lagi," gumamnya.
Merasa dibaikan Michael pun terlihat mulai emosi, "Pak aku serius, tolonglah bantu," ucap Michael.
"Nak, kami petugas disini memiliki prosedur. Apa lagi kau bilang tidak tahu nama si pria itu yang kau yakini menculik pacarmu itu dan kau juga tidak memiliki bukti apapun tentang semua ini. Jadi Nak, pergilah pulang. Semoga saja pacarmu itu cepat ketemu," ucap Pak petugas itu kemudian memanggil antrian yang lainnya.
"Next!" pekiknya dan meminta Michael menyingkir.
Michael pun berdecak kesal. "Ck! Dasar tidak berguna," umpatnya kesal.
Pria tampan itu terlihat frustasi, rambutnya terlihat acak-acakan dan menendang apa pun yang berada di depannya sambil terus mengumpat kesal.
"Siall! Siall sekali!" pekiknya.
Jason yang kala itu baru sampai di kantor polisi pun segera mencari Michael dan beruntung dia dapat menemukan pria itu yang sedang menggerutu di tempat parkiran motor.
"Mike!" teriak Jason, lalu berlari menghampiri Michael sebelum pria itu pergi.
Michael menoleh dan dia sedikit lega melihat Jason hadir untuknya. Dengan segera Michael memeluk Jason dan mengungkapkan rasa kekecewaannya karena tidak bisa mendapat bantuan polisi untuk mencari Jelita.
"Jason ... Mereka tidak mendengarkan aduanku, mereka para petugas itu tidak ingin membantuku. Rasanya sia-sia aku datang kemari," ucap Michael kecewa.
"Mike, mereka tidak salah. Mereka juga bekerja harus sesuai dengan prosedur yang ada. Jelita belum hilang lebih dari 24 jam, mungkin kita bisa mencarinya terlebih dahulu di sekitar kota ini," balas Jason.
Michael mengangguk. "Kau benar, sebaiknya kita mencarinya sekarang juga. Aku takut terjadi hal buruk kepadanya," ucapnya mulai khawatir mengingat pria berandal kemarin.
Jason menepuk pundak Michael. "Jangan khawatir Mike, aku akan membantumu mencari Jelita!" ucapnya menyemangati.
"Thank you," balas Michael.
"Sama-sama, sekarang ikutlah bersama ku naik mobil. Motor mu biar anak buahku yang memakainya, dia bisa mencari lebih cepat daripadamu. Dan satu lagi, dia punya SIM," ucap Jason tersenyum.
"Baiklah," balas Michael lalu ikut dengan Jason naik mobil dan mulai berkeliling untuk mencari Jelita.
Begitu pula dengan para anak buah maupun mata-mata kepercayaan keluarga Chandra Putra, telah tersebar untuk mencari Jelita agar gadis itu segera di temukan.
.
.
__ADS_1
Bersambung.